"Reuni 1212#KPA" Sepakat Selenggarakan kembali Kongres 2018, Dijadwalkan di Tiga Daerah Ini

akan menyampaikan hasil pertemuan tersebut kepada pemegang mandat kepanitiaan di Banda Aceh.

Peserta Alumni 1212 #KPA dalam pertemuan di Jakarta, Selasa (12/12/2017) malam. 

Laporan Fikar W.Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Aktivis Kongres Peradaban Aceh (KPA) menggelar pertemuan terbatas yang mereka sebut "Reuni 1212#KPA" di Jakarta, Selasa (12/12/2017) malam.

Ditemani kuliner mie Aceh, kopi Gayo dan ubi goreng, peserta pertemuan sepakat menggelar kembali Kongres Peradaban Aceh 2018 dengan tema "Memperkuat Bahasa - bahasa Lokal di Wilayah Aceh." atau tema lain yang aktual.

Baca: Mungkinkah Himne Aceh Bukan Berbahasa Aceh?

"Penghargaan dan keberadaan bahasa - bahasa lokal di wilayah Aceh semakin penting, terlebih saat ini di Aceh sedang hangat percakapan tentang himne berbahasa Aceh di media sosial," kata Ahmad Farhan Hamid.

Peserta pertemuan lainnya adalah Mustafa Ismail, Muhammad Amin Usman, Cut Aja, Fikar W.Eda, Fuad El Radi, Ferry Soraya, Ida Azwan, Fajri Alihar, dan lain-lain.

Kongres Peradaban Aceh perdana diselenggarakan pada 2015 silam di Banda Aceb.

Baca: Bahasa: Menyatukan dan Memecah

Dijadwalkan pertemuan KPA berikutnya diselenggarakan di Aceh Singkil, Subulussalam, atau Aceh Tamiang.

Ahmad Farhan Hamid yang dalam kepenyelenggaraan sebelumnya bertindak sebagai ketua panitia, mengingatkan bahwa untuk pelaksanaan KPA berikutnya sudah dimandatkan kepada H.Sjamsul Kahar dan Yarmen Dinamika, tokoh budaya dan pers di Aceh.

Cut Aja Yang sekarang bekerja pada Dinas Sosial Provinsi Aceh mengatakan, akan menyampaikan hasil pertemuan tersebut kepada pemegang mandat kepanitiaan di Banda Aceh.

Baca: IKAT Adakan Pelatihan Bahasa Arab dan Pembagian Harta Warisan di Dua Daerah

Mustafa Ismail dan Amin Usman juga sepakat bahwa penyelenggaraan KPA tidak bisa boleh berhenti.

"Dengan peristiwa-peristiwa budaya seperti ini, akan bisa menyerahkan kita, terutama mengenai penghargaan dan apresiasi kepada keberagaman budaya di wilayah Aceh," ujar Mustafa Ismail, penyair yang juga jurnalis di salah satu koran nasional.(*)

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved