SerambiIndonesia/

Salam

Mungkinkah Himne Aceh Bukan Berbahasa Aceh?

Aliansi mahasiswa dan pelajar Gayo di Banda Aceh memprotes DPRA yang mensyaratkan Himne Aceh harus ditulis

Mungkinkah Himne Aceh Bukan Berbahasa Aceh?
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Aliansi mahasiswa Gayo di Banda Aceh yang menamakan diri Gayo Merdeka menggelar aksi demo di depan gedung DPRA. 

Aliansi mahasiswa dan pelajar Gayo di Banda Aceh memprotes DPRA yang mensyaratkan Himne Aceh harus ditulis dalam bahasa. “Tinjau kembali persyaratan sayembara himne ini, kita tolak jika sayembara himne ini harus dalam bahasa Aceh,” teriak, seorang mahasiswa asal Aceh Tengah saat berdemo di kompleks gedung dewan, Selasa (31/10).

Dewan Perwakilan Rakyat Aceh sejak 20 Oktober 2017 menggelar sayembara himne Aceh, untuk menentukan himne Aceh yang resmi sebagaimana disebut dalam UUPA. Himne tersebut dibuka untuk umum, siapapun boleh mengikutinya dengan syarat mengirimkan karya himne Aceh ke pihak panitia. Pemenang Himne ini akan mendapat banyak hadiah. “Total hadiah untuk seyem,bara ini mencapai 220 juta rupiah,” kata Ketua SC sayembara himne Aceh, Abdullah Saleh yang juga Ketua Banleg DPRA.

Sayembara ini kata Abdullah Saleh, akan dilaksanakan dalam waktu yang lumayan lama, yaitu selama tiga bulan dalam beberapa tahapan.

Untuk tahap pertama yaitu pengiriman karya pada 20 Oktober-20 November. Kemudian, pada 21-29 November, peserta yang telah mengirim karya akan mempersentasikan atau mendemonstrasi di depan juri. “Pengumuman nominasi pemenang dilakukan pada 30 November, sedangkan untuk pengumuman pemenang utama pada 4 Desember dan penyerahan hadiah pada 7 Desember,” kata Abdullah Saleh.

Menurut mahasiswa, ada banyak bahasa di Aceh bukan hanya bahasa Aceh. Mereka ingin DPRA menjaga keberagaman itu dan meminta DPRA meninjau kembali persyaratan Himne Aceh yang oleh mahasiswa asal Gayo dinilai diskriminatif.

Di Aceh ini memang ada sembilan bahasa yang dipakai sehar-hari masyarakat. Yakni, bahasa Aceh, bahasa Alas, bahasa Gayo, bahasa Aneuk Jamee, bahasa Kluet, bahasa Haloban, bahasa Singkil, Simeulue, dan Tamiang.

Dari jumlah itu, hasil penelitian beberapa tahun lalu menyebutkan, bahasa Aceh dipakai dalam komunikasi sehari-hari oleh 70 persen penduduk Aceh. Sedangkan bahasa lainnya hanya dipakai kurang dari sepeluh persen penduduk Aceh. Misalnya, bahasa Simeulue hanya dipakai oleh sekitar 60.000 penutur.

Hasil penelitian baru-baru ini pun menyebutkan bahasa sebagai salah satu bahasa daerah di Indonesia dengan jumlah penutur terbanyak, yakni di atas dua juta orang. Artinya bahasa Aceh adalah bahasa yang sangat hidup.

Terkait dengan disyaratkannya bahasa Aceh sebagai bahasa yang dipakai untuk Himne Aceh, mungkin salah satu alasan utamanya adalah karena bahasa Aceh adalah bahasa yang dipakai mayoritas penduduk Aceh.

Itulah yang sebetulnya perlu dijelaskan kepada warga Aceh yang bukan penutur bahasa Aceh. Dan, yang harus menjelaskan ini kepada masyarakat adalah pihak DPRA, lebih tegas lagi adalah panitia. Apalagi, ketua panitianya adalah Bardan Sahidi yang kita ketahui sebagai anggota DPRA dari daerah pemilihan Gayo. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help