Citizen Reporter

Mengajarkan Alquran di Negeri Paman Sam

SUDAH sebulan saya berada di Amerika Serikat untuk program shorct course di Oberlin College, Provinsi Ohio

Mengajarkan Alquran di Negeri Paman Sam
ZAUJATUL AMNA 

OLEH ZAUJATUL AMNA, Staf Pengajar Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, saat ini sedang menjadi peserta short course Oberlin Shanshi Visiting Scholar di Oberlin, melaporkan dari Ohio, Amerika Serikat

SUDAH sebulan saya berada di Amerika Serikat untuk program shorct course di Oberlin College, Provinsi Ohio. Perjalanan dari Kota Banda Aceh yang lebih kurang 24-25 jam ditempuh selama tiga hari perjalanan jika dihitung dengan waktu Indonesia.
Pengalaman yang tak kalah hebatnya kali ini adalah begitu kaki melangkah ke luar dari pesawat di Bandara O Hare Chicago Amerika Serikat langsung disambut dengan salju yang sangat luar biasa. Bahkan diberitakan suhu dingin ekstrem sedang meliputi sebagian besar Amerika Serikat tahun ini, mencapai -12 sampai dengan minus 15 derajat Celcius dengan perkiraan embusan angin bertiup 64 hingga 96,5 km per jam menjadikan suasana menjadi semakin dingin di kota tersebut.

Cuaca yang sangat ekstrem ini telah menjadikan Amerika Serikat terlihat bak lautan salju yang menutupi semua akses jalan, bahkan sejumlah penerbangan dibatalkan. Bahkan, beberapa negara bagian di selatan mengalami hujan salju untuk kali pertama. Bahkan media lokal memberitakan bahwa suhu ekstrem ini telah menewaskan sedikitnya 12 orang.

Dalam kondisi seperti inilah saya berada di Amerika Serikat saat ini. Mendapat kesempatan sebagai fellowship untuk sebuah program pertukaran staf pengajar di Amerika merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya, karena mendapatkan kesempatan untuk mengeksplor sisi lain Amerika Serikat, khususnya Oberlin.

Oberlin merupakan kota yang terletak di Lorain, Negara Bagian Ohio, Amerika Serikat, tepatnya di barat daya Cleveland. Oberlin adalah tempat dari Kolese Oberlin, sebuah kolese seni liberal dan konservatorium musik dengan jumlah siswa sekitar 3.000-an jiwa yang kampusnya sedikit lebih kecil dibanding area Kampus Univeristas Syiah Kuala di Banda Aceh.

Kota Oberlin dikenal sebagai salah satu kota yang memiliki cuaca cukup ekstem saat ini. Suhunya mencapai -12 derajat Celcius. Di sisi lain, kota ini dikenal dengan sistem pendidikan yang terbilang cukup baik dengan mengedepankan metode “membaca”. Setiap perkuliahan hendak dimulai, semua mahasiswa diwajibkan membaca dua atau tiga buku sebelum pertemuan dimulai.

Banyak hal yang bisa dipelajari di Kota Oberlin ini. Penduduk di sini dominan umat Kristen dan sebagian dari mereka juga penganut liberal ataupun ateis. Namun, hal lain yang membuat saya takjub adalah sikap mereka yang sangat “ramah” terhadap saya sebagai satu-satunya perempuan yang berjilbab di antara ribuan mahasiswa lainnya.

Setiap berpapasan di jalan, selalu ada adegan tegur-menegur meskipun Amerika terkenal dengan budayanya yang terbilang “cukup cuek” secara personal. Namun, tidak demikian di Kampus Oberlin ini, mahasiswa, dosen, bahkan profesor sekalipun sangatlah ramah ketika kami berpapasan di jalan. Seakan sudah menjadi budaya dari masyarakat sekitar selalu membiasakan diri dengan ucapan “apa kabar, terima kasih, dan semoga harimu menyenangkan.”

Tidak hanya itu. Saya dan teman lainnya juga dimintai untuk mengisi satu kelas di program studi Kampus Oberlin untuk mengajar dan diskusi seputar Alquran, baik tentang cara membaca, memahami, maupun arti Alquran bagi kami secara pribadi. Saya dan teman (sama-sama pengajar di Unsyiah), mengisi satu sesi perkuliahan diskusi dan sharing tentang Quran. Hal ini menjadikan kami bangga dan bahagia dikarenakan kesediaan dan ketertarikan mereka dalam memahami Alquran. Malah mahasiswa terlihat sangat excited selama perkuliahan tentang Alquran berlangsung. Diskusinya pun seru dan menyenangkan.

Kami coba mengenalkan kepada mereka tajwid, tartil, dan tilawah Alquran. Hal yang sangat luar biasa adalah ketika kami bacakan Alquran semua mahasiswa hening, seakan mereka paham apa yang sedang kami baca, meskipun mahasiswa yang hadir saat itu umumnya penganut paham liberal, bahkan ateis. Bagi saya ini menjadikan pengalaman terbaik saya di Amerika, “mengajarkan Kalam-Nya di benua yang belum memercayai-Nya.

Tidak hanya seputar Alquran, kami juga mengenalkan kepada mereka tentang Islam, tentang mengapa harus menutup aurat, beserta juga aturan-aturan yang disusun Islam sedemikian rapi terkait tata cara kehidupan. Hal ini menjadi topik yang sangat diminati oleh mahasiswa di Kampus Oberlin.

Selama mengikuti progarm short course di Amerika, mengajarkan Alquran kepada mahasiswa nonmuslim adalah salah satu pengalaman terbaik seumur hidup saya ketika berada di luar negeri. Ya, ngajar Quran di Amerika. Masya Allah. Ingin rasanya terus bisa mengajarkan Kalam-Nya selama berada di sini, sesuai dengan hadis yang berbunyi, “Sampaikanlah dari-Ku, walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari). Juga dikatakan bahwa, sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari Alquran dan mengamalkannya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help