SerambiIndonesia/

Rizal Ramli Kritisi Dana Otsus

Mantan menteri koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman RI, Dr Rizal Ramli berkunjung ke Aceh, Selasa (16/4) dan melakukan

Rizal Ramli Kritisi Dana Otsus
PEMIMPIN Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar (kiri) bersama Pemimpin Perusahaan, Mohd Din (tengah) menyambut kedatangan mantan menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Dr Rizal Ramli yang berkunjung ke Kantor Serambi Indonesia Grup, di Meunasah Manyang, Pagar Air, Ingin Jaya, Aceh Besar, Senin (16/4). 

BANDA ACEH - Mantan menteri koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman RI, Dr Rizal Ramli berkunjung ke Aceh, Selasa (16/4) dan melakukan pertemuan di dua tempat, yaitu di Universitas Muhammadiyah Aceh(Unmuha) dan Kantor Harian Serambi Indonesia.

Dalam kedua pertemuan itu, Rizal mengkritisi penggunaan dana otonomi daerah (otsus) Aceh. “Orang Aceh berani mengambil risiko, cerdas, dibantu dana otsus lumayan gede, kok nggak jadi apa-apa?” katanya saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) pada Kuliah Umum Refleksi 10 Tahun Dana Otsus di Kampus Unmuha, Banda Aceh.

Dalam kuliah umum yang dimoderatori Zulkifli Umar SE MSi Ak CA itu juga menghadirkan dua pembicara lainnya, yaitu Muslahuddin Daud, penerima award MNCTV Pahlawan Indonesia Kategori Pertanian dan Dr Aliamin SE MSi Ak CA selaku Wakil Rektor I Unmuha Aceh.

Mantan kepala Bulog era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini mengaku sedih dengan kondisi Aceh karena tak mampu bangkit ketika uang melimpah. “Saya bingung lihat dari luar, Aceh dengan masyarakatnya yang dikenal berani dan daerahnya subur, dikasih uang banyak kok nggak jadi apa-apa?” ujar Rizal heran.

Pernyataan hampir sama juga ia sampaikan saat bersilaturahmi ke Kantor Redaksi Harian Serambi Indonesia. Kedatangan Rizal Ramli yang didampingi Muslahuddin Daud dan rombongan disambut Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar, Pemimpin Perusahaan, Mohd Din, dan Sekretaris Redaksi, Bukhari M Ali.

Wajar jika Rizal Ramli merasa sedih dan bingung terhadap Aceh, sebab sejak 2008 hingga 2018 Pemerintah Aceh sudah menerima alokasi dana otsus dari pusat sekitar Rp 65 triliun. Dari total dana tersebut hingga kini belum terlihat pembangunan kesejahteraan yang monumental di Aceh.

Jika dilihat dari indeks kemiskinan, Aceh menempati nomor urut pertama sebagai provinsi termiskin di Sumatera dan nomor enam secara rasio nasional. “Saya nyaris nggak percaya, nggak bisa terima saya, karena ini daerah subur sekali. Jangan-jangan dana otsus habis di elitenya saja,” katanya menduga.

Bahkan, pertumbuhan ekonomi Aceh hanya tumbuh 4,2 persen atau di bawah nasional yang menargetkan 5,4 persen. Seharusnya, ulas Rizal, dengan melimpahnya uang ditambah kekayaan alam yang besar, laju pertumbuhan ekonomi Aceh bisa melebihi target nasional.

“Jika kondisinya seperti ini, saya juga merasa tidak aneh jika pengangguran banyak, industri pabrik kertas tutup, dan tidak ada pabrik baru. Sudah saatnya kita mawas diri dan merefleksi diri. Aceh kaya akan hasil alamnya, harus dipikirkan bagaimana supaya Aceh bisa berkembang,” ujar ekonom senior ini.

Menurutnya, dana otsus itu penting bagi Aceh, tapi sayangnya selama ini proses penggunaannya tidak transparan dan tidak tepat sasaran. Karena itu, dia berharap masyarakat Aceh minta kepada pemerintah untuk mengumumkan penggunaan dana otsus di media cetak agar masyarakat bisa mengawasinya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help