Opini
Kartini, Literasi, dan Emansipasi
SETIAP 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh bangsa Indonesia. Peringatan ini pertama kali ditetapkan oleh Presiden Soekarno
Oleh Yuni Roslaili Usman
SETIAP 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh bangsa Indonesia. Peringatan ini pertama kali ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964 bersamaan dengan penganugerahan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada Raden Ajeng Kartini.
Sebagian kita mungkin ada yang bertanya; mengapa mesti Kartini? Padahal banyak perempuan lainnya yang tak kalah hebat dan punya kontribusi besar pada kemerdekaan negeri ini dan layak dijadikan ikon perempuan hebat Indonesia. Sebut saja misalnya sederet perempuan pemberani dari Aceh, ada Cut Nyak Dhien, Cut Meutia atau Laksamana Malahayati. Ada juga Dewi Sartika dari Jawa Barat dan Martha Christina Tiahahu dari Maluku dan lain-lain. Mengapa Kartini yang dijadikan ikon bagi kebangkitan perempuan di Indonesia?
Sebagai perempuan Aceh, mungkin kita akan mencari-cari alasan tendensius untuk menjawab kenyataan tersebut. “History has been written by the victors (sejarah ditulis oleh para pemenang),” kata Winston Churchill (ada pula yang menyatakan berasal dari Napoleon). Dalam hal ini, bukan pada konteks Aceh tidak menang, namun andai saja saat itu Abu Beureueh (baca: Orang Aceh) yang memproklamasikan kemerdekaan, tentu saja cerita sejarah Indonesia akan berbeda, termasuk klasifikasi kepahlawanan. Akan tetapi nyatanya ada nuansa lain yang dimiliki Kartini yang berbeda dari yang lain, bahwa Kartini berjuang bukan dengan senjata, tetapi dengan pena dan tulisannya. Di saat yang lain berjuang dengan senjata, namun Kartini berjuang dengan media literasinya.
Membaca dan menulis
RA Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879. Ayahnya seorang bangsawan Jawa yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya bernama Ngasirah, seorang perempuan biasa. Kartini anak kelima dari 11 orang saudara yang berasal dari ibu kandung dan ibu tirinya. Dari saudara-saudara kandungnya, Kartini adalah anak perempuan tertua. Sebagai seorang anak bangsawan, Kartini bersekolah di Europe Lagere school (ELG).
Di sekolah tersebut beliau belajar bahasa Belanda hingga mampu berbahasa Belanda dengan baik. Kartini dikenal sebagai sosok yang rajin membaca, bahkan saat ia dipaksa menikah pada usia yang belia, ia justru mengurung diri di kamar dan menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis surat-surat. Akhirnya pada 12 November 1893, RA Kartini menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat.
Setelah menikah, Kartini tidak pernah berhenti belajar dan terus menimba ilmu di rumahnya sendiri dengan membaca banyak buku, majalah dan surat kabar Eropa. Oleh karena membaca buku-buku dan surat kabar tersebutlah Kartini menemukan perbedaan yang cukup besar antara kehidupan perempuan Eropa dengan nasib perempuan di negerinya. Perempuan-perempuan di Eropa memiliki kehidupan yang lebih bebas dan tidak terkungkung seperti dirinya, bahkan kedudukan mereka setara dengan kedudukan laki-laki.
Berangkat dari kenyataan ini, beliau memiliki ide untuk memperbaiki kehidupan perempuan di negerinya. Kartini sering membaca surat kabar Semarang De Locomotief, juga menerima majalah langganan Leestrommel dengan tema yang beragam mulai kebudayaan, ilmu pengetahuan, social, politik, termasuk juga majalah Belanda, De Hollandsche Lelie. Kegiatan literasi membaca dan menulis itu membuahkan hasil surat-surat saat berkorespondensi dengan Nona Zeehandelaar, yang kini menjadi inspirasi dunia, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan dengan Habis Gelap Terbitlah Terang.
Sikap dan pemikiran Kartini selaras dengan prinsip Islam tentang kesetaraan perempuan dan laki-laki. Terkait hal kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam Islam ini, Nasaruddin Umar dalam bukunya Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran, menyebutkan setidaknya ada empat argument yang dapat dijadikan landasan bahwa kedudukan wanita dan laki-laki adalah setara: Pertama, setara dari sisi asal-usul; Kedua, setara dari sisi kewajiban dan imbalan pahala, dan; Ketiga, setara dalam memperoleh hak pendidikan dan keempat setara dalam hukum.
Spirit emansipasi Kartini sangat mungkin dipengaruhi oleh pengetahuannya tentang Islam. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa Kartini juga belajar Islam pada Kyai Sholeh Darat. Islam menghargai kaum perempuan dan tidak membelenggu mereka. Laki-laki tidaklah superior dari pada perempuan. Islam hadir untuk membebaskan kaum perempuan dan melepaskannya dari ketertindasan.
Melawan ‘tirani tradisi’
Sejarah Kartini adalah kisah perlawanan seorang perempuan terhadap “tirani tradisi” yang memandang sebelah mata pada kaum hawa, yang dilakukan melalui media literasi. Sekali lagi, literasi! Melalui surat-surat yang ditulisnya, Kartini menyuarakan kegelisahannya tentang kondisi perempuan di negerinya yang terbelakang dari sisi pendidikan, budaya dan politik. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimanakah nasib kaum Ibu Kita Kartini pada hari ini?
Realitanya, berdasarkan catatan Kemendikbud, pada 2015 lalu, ada 6,2 juta rakyat Indonesia yang buta aksara. Mereka didominasi oleh kaum perempuan dan berada di daerah padat penduduk. Secara global, Keller (2015) mencatat, jumlah penduduk dunia yang buta huruf mencapai 774 juta jiwa (493 juta di antaranya perempuan). Sementara di Indonesia dari 8,5 juta orang buta huruf, sekitar 5,4 juta jiwa (64%) di antaranya adalah perempuan. Dan, yang lebih mencengangkan lagi, laporan World’s Most Literate Nations yang disusun oleh Central Connecticut State University, pada 2016 merilis bahwa peringkat literasi Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 Negara yang diteliti.
Berangkat dari kenyataan ini, tampaknya tak banyak pengaruh dan koneksitas antara selebrasi kepahlawanan Kartini yang diperingati setiap tahun dengan semangat yang telah diperjuangkannya. Belum lagi jika berbicara angka kemampuan literasi kaum perempuan yang masih rendah. Kartini merupakan pahlawan literasi yang seharusnya dicontoh oleh semua perempuan Indonesia. Sudah seharusnya spirit literasi Kartini menjiwai perempuan Indonesia dalam menuntut ilmu pengetahuan dan meningkatkan kemampuan, sebab tanpa membaca dan menulis, selamanya perempuan Indonesia akan tertinggal.
Kartini memang telah tiada, beliau wafat pada 1904 dalam usia muda, 25 tahun, setelah melahirkan putra pertamanya. Meskipun beliau telah meninggalkan kita, namun hendaknya spirit dan cita-citanya untuk memajukan kaum perempuan dapat terus hidup. Mengenang Kartini tidaklah sebatas konde, kebaya, batik, fashion show atau arak arakan pawai, namun lebih kepada pengejawantahan spirit dan pemikirannya yang cerdas. Kecerdasan Kartini diharapkan mampu menginspirasi kaum perempuan untuk terus berjuang, mewujudkan cita cita dan asa demi harkat dan martabat perempuan.
Oleh sebab itu adalah lebih cerdas kiranya, manakala peringatan hari kartini di Aceh juga dikenang dengan cara kontestasi literasi perjuangan perempuan oleh perempuan untuk bangsa. Dan semoga semangat literasi, membaca dan menulis dari Kartini menjadi teladan bagi perempuan di seluruh negeri ini. “Jika engkau ingin mengenal dunia, membacalah... Jika engkau ingin dikenal dunia, menulislah, seperti Kartini.” Nah!
Dr. Yuni Roslaili Usman, M.A., Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. E-mail: roslaili10juni@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ra-kartini-dan-sang-putra-soesalit-djojoadhiningrat_20180421_003326.jpg)