Ndelabakh, Menu Favorit Warga Berbuka di Subulussalam

RAMADHAN menjadi bulan penuh kesan yang selalu terkenang bagi masyarakat muslim pada umumnya

Ndelabakh, Menu Favorit Warga Berbuka di Subulussalam
SERAMBI/M ANSHAR
Pembeli memilih penganan berbuka 

RAMADHAN menjadi bulan penuh kesan yang selalu terkenang bagi masyarakat muslim pada umumnya. Pada bulan penuh berkah ini, ragam menu makanan khas yang biasanya hanya ada di bulan puasa hadir untuk hidangan saat berbuka.

Bahkan bisa dikatakan, Ramadhan merupakan bulan kuliner karena selalu dihiasi dengan aneka makanan. Setiap daerah memiliki menu khas masing-masing yang digandrungi penduduknya. Di Subulussalam misalnya, menu Ndelabakh atau anyang (sejenis urap) menjadi salah satu makanan khas setiap bulan puasa tiba.

Meski terkesan tak umum, namun penganan Ndelabakh ini selalu menjadi hidangan berbuka favorit yang ramai diburu warga setiap dan menjadi makanan khas warga muslim di Subulussalam terutama pada bulan puasa.

Ndelabakh memang jenis penganan yang paling identik dengan bulan Ramadhan dimana sering jadi menu favorit saat berbuka. Ndelabakh sudah menjadi bagian dari sejarah dan kebudayaan Kota Sada Kata itu.

Sejak dulu, hidangan khas etnis Singkil (Suku Pribumi Kota Subulussalam-red) ini menjadi santapan khusus setiap Ramadhan atau saat pesta. Yang menjadi khas makanan spesial penduduk Kota Subulussalam ini adalah pada bumbunya yang terdiri atas cabai, kelapa gonseng, bawang dan asam jeruk nipis dengan diolah sedemikian rupa.

Masakan ini sendiri bisa berbahan sayur pakis, bunga kates, daun ubi, kacang panjang, jantung pisang, termasuk ayam, ikan dan daging sapi, kerbau, kambing, pangkat (pucuk rotan-red) atau juga lokan (kerang-red).

”Kalau bahannya bisa pakis, jantung pisang, kacang, kerang atau pangkat, karena yang membuat khasnya itu adalah bumbu-bumbunya,” kata Khaliyah(58), salah seorang warga sepuh kepada Serambi, Senin (21/5). Ndelabakh bercitarasa lezat dimakan dengan nasi tapi tak jarang yang menyantapnya begitu saja.

Ndelabakh juga dapat dimakan bersama onde-onde yang dalam bahasa setempat disebut buah belaka. Nah jika Anda penasaran ingin mencoba sensasi citarasa Ndelabakh, bulan inilah waktunya karena Ndelabakh banyak dijajakan pedagang penganan di sepanjang Jalan Teuku Umar seperti depan masjid Asilmi, sekitar Lapangan Beringin, depan Hotel Winda dan sejumlah lapak yang menjual penganan berbuka.

Cukup dengan uang Rp 3.000-Rp 5.000, satu porsi Ndelabakh bisa Anda bawa pulang sebagai hidangan berbuka puasa. Khairani adalah salah satu dari puluhan pedagang makanan berbuka yang saban petang berjualan di depan Masjid Asilmi (Pancasila-red) Kota Subulussalam. Menurutnya, setiap hari puluhan porsi Ndelabakh selalu habis terjual.

”Yang paling laris ya Ndelabakh ini, karena sudah jadi favorit masyarakat apalagi adanya hanya di bulan puasa,” ujar Khairani.

Makanan khas tradisional Subulussalam lainnya adalah pucuk rotan atau akrab disebut pangkat. Pangkat dalam terminologi masyarakat Subulussalam dan Aceh Singkil adalah nama lokal untuk pucuk atau umbut batang rotan (myrialepis paradoxa).

Nah, pucuk rotan yang masih segar-segar ini biasanya dicari di hutan, lalu diolah menjadi Ndelabakh atau gulai pangkat. Agar lebih nikmat, dalam gulai pangkat biasanya dimasukkan perencah (campuran gulai) berupa ikan lele sale atau ikan asin. Setelah itu siap untuk disantap.(khalidin)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved