Ekonomi Syariah Lebih Berkembang Bersama

Kebersamaan menjadi kekuatan, hal tersebut diajarkan dalam Islam dengan meneladani perjuangan para Nabi

Ekonomi Syariah Lebih Berkembang Bersama
DIREKTUR SDI Bank Aceh Syariah, Haizir Sulaiman didampingi Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, menyalurkan paket Ramadhan kepada pekerja kebersihan DLHK3 Banda Aceh, Rabu (30/5). 

BANDA ACEH - Ekonomi syariah akan lebih berkembang jika digerakkan secara berjamaah. Kebersamaan menjadi kekuatan, hal tersebut diajarkan dalam Islam dengan meneladani perjuangan para Nabi.

“Kalau kita melihat sejarah perjuangan para Nabi, yang pertama dibangun adalah jamaahnya. Ada suatu kebersamaan dan itu menjadi kekuatan yang sangat dahsyat, tidak ada kekuatan yang bisa menghalangi. Ekonomi syariah juga demikian,” papar Direktur Dana Jasa dan Sumber Daya Manusia Bank Aceh, Haizir Sulaiman SH MH saat menjadi narasumber program talkshow Radio Serambi FM `Serambi Spiritual’ bertajuk `Berjamaah Membangun Ekonomi Syariah’, Rabu, (30/ 5).

Program bekerja sama dengan Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) tersebut dipandu oleh Host Radio Serambi FM, Tya Andalusia. Haizir menjelaskan, ada banyak bentuk perkumpulan ekonomi syariah di Indonesia. Ia mencontohkan, Indonesia Islamic Business Forum (IIBF), Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat (Perbarindo), Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Haizir memaparkan, IIBF merupakan perkumpulan pengusaha yang fokus dan berkomitem berdagang secara syarait Islam. Sedangkan Asbisindo merupakan lembaga perbankan yang bersatu dan saling mendukung meskipun memiliki identitas yang berbeda-beda. Adapun MES merupakan sebuah lembaga sebagai upaya membentuk masyarakat syariah. “Alhamdulillah Provinsi Aceh sudah dibentuk jamaah demikian,” imbuh Haizir.

Menurutnya, ekonomi syariah harus dikembangkan dari hulu ke hilir. Mulai dari proses produksi hingga pemasaran. Produksi sendiri terdiri atas tiga tahapan yaitu input, proses, dan output. Namun disayangkan banyak pihak yang hanya menilai hasil akhirnya saja, tanpa melihat proses. Padahal syariah itu harus halalan tayyiban, baik sumber maupun proses.

Haizir mencontohkan halal food yang luar biasa berkembang di Eropa. Masyarakat yang sadar kebersihan dan kesehatan akan memilih halal food, meski harga lebih mahal. Dalam konteks Aceh, bagaimana produsen di Aceh memproduksi dan bagaimana marketingnya.

“Ini sudah inti persoalan, ada anekdot timphan asli Aceh. Barangkali yang asli Aceh hanya daun dan kelapa,” tutup Haizir. (rul)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved