Ramadhan Mubarak

Agama Filter bagi Budaya Global

AGAMA berperan penting sebagai filter bagi fenomena globalisasi yang kini hadir di setiap sudut geografis, sektor

Agama Filter bagi Budaya Global
Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA

Oleh Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA, Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: farid.wajdi.ibr@gmail.com

AGAMA berperan penting sebagai filter bagi fenomena globalisasi yang kini hadir di setiap sudut geografis, sektor, dan lini kehidupan masyarakat kita di Indonesia. Namun, diperlukan pemahaman agama yang tepat sekaligus pengamalan secara utuh dan konsisten, agar peran dan pengaruh agama dapat dirasakan oleh masyarakat dan umat secara menyeluruh.

Bagi umat Islam, menghadapi arus globalisasi ini merupakan tantangan, sekaligus sebagai peluang untuk dapat dengan cerdas, siasah, dan terampil memanfaatkan untuk jihad (berjuang sungguh-sungguh) menyampaikan aspek-aspek ajaran Islam sebagai rahmatan lil’alamin, memberikan kesejahteran bagi seluruh alam.

Dalam menghadapi tantangan arus globalisasi, umat Islam perlu giat memperkokoh benteng dengan memperkuat fondasi akidah, syariah-ibadah, amaliah, dan akhlaqul karimah.

Dalam rangka menguatkan umat menghadapi arus globalisasi, maka perlu dipahami dan dihayati ajaran Allah Swt dalam kitabullah Alquran sebagai pedoman hidup manusia, antara lain: Pertama, umat Islam harus memperkuat iman dan juga harus memiliki ilmu pengetahuan yang luas, sehingga ilmu dan teknologi yang tumbuh dan berkembang dilandasi oleh iman yang kokoh, akan barakah dan manfaat bagi kehidupan peradaban manusia. Orang yang hidup tanpa iman dan takwa, ia seperti rumah tanpa fondasi dan akar yang kuat. Ia akan mudah rapuh, lapuk, dan bahkan tidak akan bisa melindungi orang yang menghuni rumah.

Begitupun iman dan takwa dalam diri manusia. Ia akan melindungi dari segala macam kesesatan, keterperukan, dan berbagai bencana lainnya dalam hidup manusia. Untuk bisa meningkatkan iman dan takwa, satu caranya adalah dengan memperbaiki shalat. Shalat saja tidak cukup, melainkan membutuhkan shalat khusuk dan berkualitas. Itulah shalat yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan.

Hal mengenai shalat juga disampaikan dalam ayat sebagai berikut, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Ankabut: 45).

Dalam bulan Ramadhan, umat Islam bisa melakukan banyak hal baik yang semua itu menjadikannya ibadah, shalat Tarawih, misalnya, hanya ada di bulan ini saja. Namun masih banyak yang tidak memanfaatkannya dengan baik. Idealnya masih mementingkan kesibukan yang lain dari pada menyibukkan diri melakukan shalat Tarawih.

Berteman dengan orang saleh
Hal lain yang bisa meningkatkan iman, yaitu bercengkrama dengan orang saleh. Orang saleh memupuk iman, sedangkan bersamanya maka kita akan termotivasi dan semangat menjalankan segala perintah-perintah Allah Swt. Manusia makhluk sosial, membutuhkan teman dan pendampingan agar hidupnya berwarna dan terdapat dorongan yang berasal dari luar.

Dengan fondasi ini kehidupan manusia akan terarah, karena ada tempat berkonsultasi dan bimbingan mengenai agama, apalagi budaya nongkrong di warung kopi, cafe dan lain sebagainya sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat ini. Namun nyatanya banyak pemuda/i Islam yang menghabiskan waktunya hanya untuk bersenda-gurau, tawa-tiwi, menatap layar laptop dengan kesibukan game-nya.

Kedua, umat dapat mengamalkan konsep hidup manusia dalam Alquran, yaitu: a). Mempunyai orientasi hidup yang jelas bahagia di akhirat, dengan mengupayakan berbuat baik dan bahagia sejahtera di dunianya; b). Berbuat kebaikan pada sesama manusia dengan amal salehnya, dan; c). Tidak membuat kerusakan di bumi.

Ketiga, memperkokoh rumah tangga sakinah dengan landasan Cinta-Kasih-Sayang, membangun masyarakat yang tenteram-damai, berlandaskan ta’awun atau gotong-royong. Kesemuanya itu saling menjaga, agar jangan sampai dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya, terperosok dalam neraka.

Dan, keempat, memperkokoh istiqamah umat Islam pada pengetahuan, pemahaman, serta mengamalan ajaran Islam, sehingga benar-benar muttaqin (bertakwa) dan sampai akhir hayat tetap dalam keadaan muslimin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help