Opini

Keberkahan Sistem Ekonomi Qurani

SISTEM ekonomi Qurani yang penulis maksudkan adalah sistem ekonomi yang berdasarkan kepada wahyu

Keberkahan Sistem Ekonomi Qurani
on islam
Bank Syariah Turki buka perdana di Jerman 

Oleh Bismi Khalidin

SISTEM ekonomi Qurani yang penulis maksudkan adalah sistem ekonomi yang berdasarkan kepada wahyu, atau sistem ekonomi yang berpedoman kepada Alquranul Karim dan al-Hadis, karena pada hakikatnya hadis-hadis Rasulullah saw adalah wahyu dari Allah Swt, di samping memang di antara fungsi hadis adalah menjelaskan dan menafsirkan Alquran. Bagi seorang muslim, Alquran maupun hadis adalah dua sumber hukum yang pertama dan utama dalam segala aspek hidup dan kehidupannya. Dalam bidang ekonomi, misalnya, keduanya telah mengatur prinsip-prinsip serta fundamental ekonomi yang bermanfaat dan bermartabat yang harus dijalankan oleh setiap muslim, untuk kesejahteraan dan keselamatan umat manusia itu sendiri.

Menjadikan keduanya sebagai sumber hukum atau pedoman dalam segala kegiatan ekonomi, bisnis atau keuangan merupakan suatu keniscayaan serta keharusan bagi setiap mukmin, sekaligus sebagai garansi dalam menggapai pertumbuhan dan kestabilan ekonomi berkelanjutan. Alquran dan hadis memang tidak menerangkan teori-teori ekonomi secara mendasar, tetapi keduanya telah meletakkan dasar-dasar pedoman ekonomi serta bagaimana seorang produsen, konsumen atau pasar berprilaku. Di dalam buku-buku Ekonomi Mikro disebutkan bahwa ada instrumen yang menentukan pertumbuhan dan kestabilan ekonomi, yaitu produsen (penjual), konsumen (pembeli), dan pasar. Acapkali kesenjangan atau krisis ekonomi terjadi karena ketidakbenaran dari praktik ketiga instrumen tersebut, yang dikenal dengan proses mekanisme pasar.

Tak saling menzalimi
Di antara prinsip ekonomi yang telah digariskan oleh Alquran berkenaan dengan proses mekanisme pasar tersebut adalah tidak boleh saling menzalimi satu sama lain, Laa tazhlimuun walaa tuzhlamuun (tidak boleh menzalimi dan tidak boleh dizalimi). Riba atau praktik rentenir sangat dilarang dalam Islam, karena menyebabkan kemudharatan bagi yang lain. Banyak lagi praktik-praktik ekonomi yang mungkin dalam kaca mata kapitalis merupakan hal yang biasa, tetapi karena memudharatkan atau menzalimi orang lain, praktik tersebut tidak dibolehkan dalam Islam, seperti ihtikar (penimbunan barang), ghaban fa hissi (menaikkan dan menurunkan harga yang tidak benar), ba’i najasi (jual beli salah), tadlis (penipuan), dan lain-lain.

Henry Kessinger (mantan Menlu AS era 1970-an) pernah menyatakan bahwa tidak ada satu pun teori ekonomi yang diterapkan dapat menyelesaikan masalah ekonomi secara berkelanjutan. Hari ini, sudah banyak sekali mazhab ekonomi lahir. Menariknya, ketika suatu mazhab atau aliran ekonomi lahir, pada awalnya selalu dipuja-puji, tetapi ketika krisis ekonomi terjadi, mazhab atau pemikiran tersebut ditinggalkan dan dicari yang lain. Misalnya, sebelum krisis ekonomi 1930-an, Aliran Klasik yang dipelopori Adam Smith (1723-1790), selalu dipuja-puji, tetapi ketika krisis terjadi, aliran tersebut ditinggalkan bahkan dianggap sebagai penyebab krisis. Setelah itu muncul Aliran Keynes, yang dicetuskan John Maynard Keynes (1883-1946). Teori atau aliran ekonomi ini pada awalnya sangat diidolakan, tetapi ketika terjadi krisis ekonomi 1970-an, teori ini juga ditinggalkan, muncul lagi aliran ekonomi lain dan seterusnya.

Silih bergantinya krisis ekonomi yang terjadi adalah karena tidak mampu nya dijawab oleh teori dan kebijakan ekonomi yang ada. Penulis berpendapat bahwa hal ini terjadi karena teori dan kebijakan ekonomi tersebut hanya memandang kepada aspek-aspek material semata-mata, kurang dari nilai-nilai moral dan spritual. Anehnya, krisis demi krisis yang terjadi justru dimulai di negara-negara maju padahal disitu tempat lahirnya ahli-ahli ekonomi kelas dunia, seperti Amerika Serikat dan Inggris.

Misalnya, krisis ekonomi sering terjadi diantaranya karena prilaku spekulasi baik di pasar uang maupun pasar modal, termasuk krisis moneter di Indonesia pada 1997 lalu. Ini tidak lain karena tidak adanya nilai-nilai moral dari para pelaku ekonomi itu sendiri. Mereka mementingkan diri sendiri, mengeruk keuntungan yang berlipat ganda (profit maximization), tanpa memperhatikan yang lain. Inilah pembeda yang prinsipil dengan sistem ekonomi Qurani yang mengedepankan nilai-nilai moral dalam aktivitas ekonominya.

Rabbaniyatul Hadfu
Di dalam Kitab Al-Iqtishadul Islamy (karangan Ali Ahmad Salus) disebutkan bahwa ada delapan karakteristik khusus yang membedakan antara sistem ekonomi Qurani dengan sistem-sistem ekonomi lain, di antaranya adalah Rabbaniyatul Hadfu. Karakteristik ini menyatakan bahwa tujuan utama atau akhir seseorang muslim dalam melaksanakan kegiatan ekonomi adalah semata-mata untuk mencari keridhaan Sang Khalik, Allah Swt. Ini juga sekaligus sebagai pembeda yang sangat penting dengan sistem-sistem ekonomi seperti kapitalisme, Marxisme, komunisme, dan lain-lain.

Karakteristik Rabbaniyatul Hadfu memandang bahwa kegiatan ekonomi pada hakikatnya adalah ibadah dan akan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Ini bukan berarti mengenyampingkan variabel profit yang merupakan sesuatu yang dicari dalam aktivitas ekonomi, tetapi bukan semata-mata untuk itu. Perolehan profit yang tinggi dan sustainable adalah tujuan kegiatan ekonomi dan bisnis dan ini tidak dapat dipungkiri, tetapi itu bukan tujuan utama, tujuan hakiki kegiatan ekonomi bagi seseorang muslim adalah semata-mata mencari keridhaan Allah Swt.

Implementasi karakteristik ini akan bernampak sangat signifikan, terutama dalam pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Kedua tujuan ekonomi, pertumbuhan dan stabilitas, akan dapat diraih apabila pelaku-pelaku ekonomi mempunyai karakter moral dan kinerja. Kedua karakter ini akan terwujud apabila seseorang ikhlas melakukan sesuatu karena Allah Swt, apapun yang dilakukan semata-mata untuk-Nya. Kecurangan pasar, kenaikan harga yang tidak beralasan, penimbunan, spekulasi dan lain-lain tidak akan terjadi apabila pelaku ekonomi semata-mata mengharapkan ridha dan pahala dari Allah Swt terhadap apa yang dilakukannya itu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved