Ombudsman dan F-PRB Datangi Wika Beton

Ombudsman RI Perwakilan Aceh bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Aceh mendatangi PT Wika Beton

Ombudsman dan F-PRB Datangi Wika Beton
KETUA Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Taqwaddin (kanan) dan Ketua Forum PRB Aceh, Nasir Nurdin (tiga kiri) menyaksikan uji ketahanan produk tiang listrik beton di lokasi pabrik PT Wika Beton, Deliserdang, Sumatera Utara, Senin (9/7). 

* Cari Tahu Penyebab Patahnya Tiang Listrik di Bakoy

MEDAN - Ombudsman RI Perwakilan Aceh bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Aceh mendatangi PT Wika Beton Sumatera Utara (Sumut) sebagai bagian dari upaya mencari tahu penyebab patahnya 19 tiang listrik di kawasan Bakoy, Aceh Besar , 26 Juni 2018. Wika Beton Sumut merupakan salah satu pabrikan pemasok kebutuhan tiang listrik untuk kebutuhan PT PLN Wilayah Aceh.

Difasilitasi pejabat PLN Wilayah Aceh, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Taqwaddin SH SE MS dan Ketua Forum PRB Aceh, Nasir Nurdin, Senin (9/7), mengecek proses pembuatan tiang listrik di pabrik PT Wijaya Karya (Wika) Beton di Kabupaten Deliserdang, Sumut.

“Seluruh tiang listrik untuk kebutuhan Aceh diproduksi di Sumut, salah satunya di pabrik Wika Beton. Kita ingin melihat langsung apakah proses pembuatan tiang listrik ini sudah sesuai prosedur,” kata Ketua Ombudsman Perwakilan Aceh, Taqwaddin didampingi Ketua Forum PRB Aceh, Nasir Nurdin.

Menurut Taqwaddin, Ombudsman memiliki kewajiban untuk memastikan semua kebutuhan layanan publik berjalan baik, aman, dan nyaman. “Kasus patahnya sebanyak 19 tiang listrik secara bersaman di Aceh Besar telah memunculkan kecurigaan kalau barang yang digunakan PLN tidak sesuai spek teknis. Inilah yang mendorong kami melakukan penelusuran,” kata Taqwaddin.

Taqwaddin mengatakan, Ombudsman berkewajiban menindaklanjuti laporan warga karena tiang listrik merupakan barang publik yang dibeli dengan uang rakyat. Sedangkan Forum PRB lebih menekankan pada upaya pengurangan risiko bencana. “Forum PRB ingin memastikan bahwa pembangunan fasilitas publik harus memenuhi syarat keamanan bukan malah menjadi sumber bencana,” tandas Nasir Nurdin.

Manajer Bidang Teknik PLN Aceh, Taufik Hidayat yang ikut dalam rombongan menjelaskan kedatangan mereka ke Wika Beton bukan berarti menuduh perusahaan BUMN itu sebagai pemilik tiang listrik yang patah. Karena, selain Wika, ada dua pabrikan lain yang memasok tiang listrik untuk kebutuhan PLN Aceh, yaitu PT Jaya Beton dan PT Sumbertri. “Kalaupun kita datang ke Wika, alasannya cuma satu, karena Wika satu-satunya pabrik yang mudah didatangi dan pimpinan Wika siap menerima kita,” kata Taufik didampingi Deputi Manajer Humas dan Hukum PT PLN Wilayah Aceh, T Bahrul Khalid.

Taufik meminta masyarakat bersabar karena proses penyelidikan sumber pabrik tiang listrik yang patah itu sedang ditelusuri melalui uji lab di Unsyiah. PLN sendiri, kata Taufik lebih cenderung memandang kasus robohnya 19 batang tiang listrik ini akibat faktor alam. “Sampelnya sudah dibawa ke Unsyiah, sekarang masih proses uji lab,” tuturnya.

Ketua Forum PRB Aceh berharap ada jawaban secepatnya terkait penyebab patahnya 19 tiang listrik di kawasan Bakoy, Aceh Besar. “Bukan didasari praduga tetapi harus bisa dipertanggungjawabkan secara laboratoris. Kita dukung upaya PLN maupun pabrikan untuk melakukan uji lab terhadap kasus itu. Jangan-jangan masih banyak tiang dengan kulitas serupa di berbagai wilayah Aceh,” demikian Nasir.

Pada kesempatan itu, Koordinator Distribusi dan Pelaksanaan PT Wika Beton Sumut, Vikri Aditya terkesan keberatan jika ada anggapan tiang listrik yang patah itu diproduksi di pabrik mereka. Dia memastikan seluruh tahapan pembuatan tiang listrik di PT Wika melalui prosedur pengawasan yang ketat.

Tiang listrik pabrikan PT Wika disebutnya menggunakan kabel baja yang lebih kuat dibanding besi untuk membangun rumah. “Setidaknya ada lima tahapan yang harus dilalui untuk menghasilkan satu batang tiang listrik. Masing-masing tahapan itu memiliki kolom cek yang harus memenuhi seluruh standar yang sudah ditentukan,” kata Vikri di sela-sela berlangsung uji produk di depan tim PLN, Ombudsman, dan Forum PRB Aceh.

Sama halnya dengan Taufik, Vikri juga cukup yakin kalau tumbangnya tiang listrik ini akibat faktor alam. Insiden bermula dari hujan deras disertai angin yang menyebabkan pohon tumbang yang menimpa kabel.

“Walau tiang listrik memiliki daya tahan patah pada beban 350 kilogram, namun efek gravitasi dan efek kejut saat pohon tumbang membuat beban yang menimpa tiang listrik lebih dari satu ton,” ujar Vikri. (mad)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help