Kamis, 21 Mei 2026

Citizen Reporter

Berdoa Bersama Presiden Erdogan

KETIKA saya tiba di Ankara, Turki, saya dijemput oleh taman lama yang terus aktif sebagai salah satu imam di Nurcu Group

Tayang:
Editor: bakri
Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA 

OLEH PROF M HASBI AMIRUDDIN, Guru Besar UIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh, melaporkan dari Ankara, Turki

KETIKA saya tiba di Ankara, Turki, saya dijemput oleh taman lama yang terus aktif sebagai salah satu imam di Nurcu Group. Saya langsung dibawa ke sebuah restoran mewah. Saya katakan mewah karena WC-nya melebihi kualitas WC di bandara kita dan memiliki mushala yang dapat menampung jamaah sampai 20 orang yang dialasi dengan kerpet kualitas bagus. Di mushala ini juga terdapat rak yang diisi dengan beberapa Alquran, tafsir, Yasin, dan beberapa buku agama serta beberapa musabah.

Menurut keterangan teman saya yang imam, dia membawa saya ke restoran ini, karena dia yakin semua hidangannya bersih dan halal. Pemilik restoran ini adalah anggota jamaah tarekatnya di Nurcu Group. Jadi, anggota tarekat di Turki adalah orang yang rata-rata kaya. Kalau bukan dari kalangan pegawai, mereka adalah para pengusaha.

Mereka tidak menganggap menjadi pengusaha restoran besar itu merupakan urusan duniawi. Karena menurut mereka, untuk memajukan agama diperlukan dana. Dana itu harus diusahakan sendiri oleh umat Islam. Jangan berharap pada orang lain.

Salah satu teman imam yang menjemput saya adalah mantan kepala Biro Hukum di Kantor Perdana Menteri. Dia sudah aktif di tarekat ini sejak masih awal bekerja di pemerintah. Semua mereka ini adalah pendukung Erdogan. Tetapi harus dicatat, ketika mereka mendukung Erdogan tidak berarti mereka akan ambil kesempatan untuk mendapatkan jabatan tertentu atau agar mendapat sumbangan dana untuk membangun sesuatu. Tetapi mereka membantu Erdogan, karena dia baik, jujur, mencintai rakyatnya dan selalu berusaha membebaskan umat Islam dari tekanan-tekanan hukum sekuler.

Untuk membangun fasiltas-fasilitas untuk umat Islam, mereka mempunyai donatur sendiri di kalangan umat Islam. Misalnya, ingin membangun masjid, membangun medrese (pesantren) tempat-tempat pengajian yang penting diberi izin saja atau tidak dilarang. Mereka akan mampu membangun sendiri. Makanya di Turki tidak ada masjid yang tidak selesai dibangun. Tidak ada pesantren yang bolong atapnya, atau tidak berkerpet lantainya.

Namun demikian, bukan berarti pemerintah tidak berperan dalam membangun untuk kepentingan agama. Misalnya, di bawah departemen agama mereka membangun dan mengurus sejumlah sekolah imam-khatib (madrasah atau pesantren), membiayai keperluan operasional masjid. Di bawah departemen agama juga diangkat mufti mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, dan tingkat pusat.

Mufti tingkat kecamatan, mungkin sama seperti Kuakec di Indonesia. Selama pemerintah Erdogan, telah diperluas tugasnya tidak hanya bertugas mengurus masalah pernikahan, konsultasi agama, tetapi telah diperluas dengan membuat program-program pengajian dan latihan dalam bidang agama untuk masyarakat. Program pengajian dan pelatihan ini dilaksanakan di masjid-masjid atau tempat-tempat lain yang diusulkan oleh masyarakat. Semua biaya ini disediakan oleh deperteman agama.

Ketika sedang minum di restoran tersebut, saya diperkenalkan kepada pemilik restoran. Ketika saya bilang saya dari Aceh, dia bangun dan memberi hormat pada saya sambil mengatakan saya kagum sama Aceh, negeri banyak ulama, banyak orang pandai dan masyarakat yang kompak, bersatu, saling mencintai karena taat pada perintah Allah. Kemudian dia juga bertanya dalam rangka apa saya ke Turki, lalu saya jawab saya ingin pelajari tentang kepemimpinan Erdogan, karena rakyat Aceh sangat mencintai Erdogan.

Sekali lagi dia bangun dan memeluk saya dan kemudian langsung dimintakan pada Imam agar saya dibawa besok ke Masjid Istana Erdogan, untuk berdoa bersama Erdogan.

Itulah jalannya, sehingga saya bisa hadir di Masjid Istana Presiden Turki, di Ankara, pada hari Minggu dalam rangka doa bersama memperingati peristiwa Kudeta pada tanggal 15 Juli 2016. Sebenarnya kami sudah sepakat untuk hadir lebih cepat agar dapat mengambil saf pertama sehingga dapat berjabat tangan dengan Presiden Erdogan. Waktu zuhur pukul 1 siang, kami berusaha sampai di masjid pukul 11.30 WIB. Ternyata ada yang datang lebih awal lagi sehingga kami harus puas di saf ke- 9. Ada sekitar tiga ribu orang jamaah yang datang untuk doa bersama.

Selama menunggu kedatangan presiden jamaah mengisi acara dengan mengaji Alquran yang diselingi dengan bacaan selawat. Menjelang zuhur Presiden Erdogan datang memasuki masjid, tidak ada yang harus berdiri, jamaah tetap duduk di saf seperti biasa. Hanya para wartawan, baik wartawan professional maupun amatir yang berdiri mengambil foto-foto. Ada yang maju ke depan ada yang tetap di saf mengambil foto dengan HP masing-masing.

Tidak ada pengawal khusus yang mendampingi presiden, kecuali tim keamanan yang telah lebih dahulu mempersiapkan acara di masjid. Acara di buka dengan pembacaan Alquran beberapa ayat oleh presiden sendiri, tanpa MC khusus, hanya pemberitahuan oleh imam masjid saja.

Ternyata benar Presiden Turki ini adalah hafiz dan qari, fasih dan juga memiliki suara merdu. Membaca beberapa ayat Alquran dari hafalannya, tanpa membuka Quran. Begitu juga bacaan penuh dengan makhraj dan tajwid.

Begitu bagusnya bacaan Alquran Tuan Presiden sehingga banyak jamaah yang terharu dan khidmat mengikutinya. Saya melihat seorang jamaah di samping saya meneteskan air mata. Mungkin bacaan Qurannya yang fasih dan dengan irama yang sendu, mungkin juga ditambah dengan rasa hormat dan cinta pada presidennya. Beberapa jamaah memekik kata Allahu Akbar setiap bacaan preiden sampai pada wakaf.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved