Napi Rutan Takengon Demo

Seratusan tahanan serta narapidana (napi) Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B, Takengon pada Rabu (25/7) malam

Napi Rutan Takengon Demo
SERAMBINEWS.COM/MAHYADI
Aksi demo penghuni Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B, Takengon, Rabu (25/7/2018) malam, berlanjut ke proses mediasi antara pihak rutan dengan para tahanan. 

* Tuntut Hak Warga Binaan Dipenuhi

TAKENGON - Seratusan tahanan serta narapidana (napi) Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B, Takengon pada Rabu (25/7) malam, menggelar demonstrasi di area rutan. Aksi yang nyaris ricuh itu, diduga hak-hak narapidana tidak dipenuhi petugas rutan, sehingga menimbulkan protes dan berujung pada aksi unjuk rasa.

Aksi demo di area Rutan Takengon dimulai sekitar pukul 19.00 WIB atau seusai shalat Maghrib, dimana mereka berteriak dan sebagian berorasi sembari mengoyang-goyang pagar pembatas rutan. Suara gemuruh para tahanan itu, terdengar hingga keluar rutan, sehingga mengundang tanya warga sekitar.

Untuk meredam aksi unjuk rasa, pihak Rutan Takengon melakukan mediasi dengan sejumlah perwakilan penghuni rutan. Mediasi yang disaksikan oleh Kapolres Aceh Tengah, AKBP Hairajadi dan Dandim 0106/Aceh Tengah, Letkol Inf Hendry Widodo, berakhir hingga pukul 22.00 WIB dan setelah ada kesepakatan, napi membubarkan diri.

Sebelumnya, warga yang penasaran, berbondong-bondong mendatangi rutan, tetapi hanya bisa menyaksikan dari luar pagar. Sedangkan puluhan personel kepolisian bersama sejumlah personel TNI, terlihat berjaga-jaga diluar maupun di area dalam rutan Takengon. Satu unit mobil pemadam kebakaran juga disiagakan di halaman depan rutan.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Serambi, unjuk rasa itu, awalnya dipicu kegiatan tari poco-poco yang harus diikuti para tahanan. Namun ada sejumlah tahanan yang tidak mau ikut dengan alasan lapangan sudah penuh, apalagi, jumlah napi dan tahanan mencapai 514 orang.

Karena tidak ikut kegiatan tersebut, petugas rutan mengurung dan mengunci kamar para tahanan yang tidak mau ikut tari poco-poco. “Padahal hampir memasuki waktu shalat Maghrib, tapi kamar tidak juga dibuka oleh petugas, sehingga tidak melaksanakan shalat, apalagi tidak ada air dan kamar mandir,” ujar seorang napi.

Menurut narapidana yang enggan disebutkan namanya ini, aksi unjuk rasa bukan hanya karena kegiatan tari poco-poco, tetapi juga menuntut hak-hak warga binaan dipenuhi. “Kami tidak lagi diberikan cuti menjenguk keluarga (CMK), bila ada musibah, karena sudah tidak berlaku lagi,” tuturnya.

Persoalan lain, lanjut narapidana kasus narkoba ini, untuk makanan para tahanan Rutan Takengon, agar bisa diperbaiki. Karena selama ini, narapidana maupun tahanan hanya diberikan lauk berupa telur dan ikan asin. “Kalau dulu, masih dapat bubur dan sekali-kali daging. Untuk saat ini, makanan paling istimewa hanya ikan bandeng,” akunya.

Pada saat kejadian, Kepala Rutan Kelas II B Takengon, Sugianto tidak berada di tempat, lantaran memenuhi undangan Kemenkumham di Jakarta. Walaupun demikian, proses mediasi tetap berjalan, diwakili Kasubbid Pembinaan, Kanwil Kemenkumham Aceh, Yusrizal yang didampingi Kasubbid Registrasi, Arkadian.

Ketika demo berlangsung, bertepatan adanya kunjungan tim Kanwil Kemenkumham Aceh ke Rutan Takengon untuk membenahi Sistem Data Base Kemasyarakatan (SDB). Sehingga, kerja tim tersebut, bukan hanya membenahi SDB, tetapi ikut menenangkan ratusan narapidana dan penghuni rutan yang berunjuk rasa.

“Aksi demo yang dilakukan oleh para napi dan tahanan hanya karena kesalahpahaman dan menilai ada hak-hak mereka yang tidak terpenuhi,” ujar Yusrizal. Dia mengakui kehadirannya untuk melakukan pembenahan dan setelah dijelaskan, sepertinya para napi paham.

Aksi protes yang dilancarkan napi dan tahanan,lantaran adanya pengetatan aturan setelah adanya pergantian kepala rutan. “Kalau dulu, mungkin sedikit longgar, tapi sekarang, sudah tidak begitu. Kita tetap pada prosedur yang berlaku. Makanya, mereka protes. Tapi, setelah kita jelaskan, para tahanan mulai mengerti dan membubarkan diri,” pungkasnya.(my)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help