Opini

Tasulsa Sebelum dan Sesudah PKA

TAMAN Sultanah Safiatuddin (Tasulsa) bakal dibanjiri oleh masyarakat dari 23 kabupaten/kota yang ada di Aceh

Tasulsa Sebelum dan Sesudah PKA
Kebudayaan Aceh VII (PKA VII)

Oleh Yelli Sustarina

TAMAN Sultanah Safiatuddin (Tasulsa) bakal dibanjiri oleh masyarakat dari 23 kabupaten/kota yang ada di Aceh. Diperkirakan sekitar 7.447 peserta mengikuti berbagai macam kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII yang diselenggarakan pada 5-15 Agustus 2018. Begitu pula para undangan dan pengunjung yang datang untuk menyaksikan langsung kegitan budaya masyarakat Aceh. Tentunya di bulan Agustus ini Kota Banda Aceh dipadati oleh berbagai lapisan masyarakat, baik lokal, nasional, maupun mancanegara.

Tempat yang menjadi pusat PKA VII ada di Tasulsa dan Blang Padang, Banda Aceh. Namun yang menjadi daya tarik wisatawan ialah Tasulsa, karena di sini terdapat 23 anjungan kabupaten/kota se-Aceh yang berlokasi di Jalan Teuku Nyak Arief, Gampong Lampriek, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Kompleks ini dibangun saat PKA IV pada 2004 lalu, atas ide istri Gubernur Aceh masa itu Abdullah Puteh, yaitu Marlinda Purnomo yang menginginkan adanya taman mini Aceh, layaknya seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta.

Mulanya dibangun 20 anjungan kabupaten/kota di tanah seluas 1.166,80 meter persegi. Lalu seiring pemekaran wilayah Bener Meriah, Subulussalam, dan Nagan Raya, kini terdapat 23 anjungan sesuai dengan jumlah kabupaten/kota di Aceh. Masing-masing anjungan tersebut dibangun sesuai dengan khasanah budaya setiap daerah yang tentunya mempunyai filosofis. Sayangnya anjungan ini hanya berfungsi saat acara PKA yang diadakan empat tahun sekali.

Bangunan kosong
Seusai PKA VI pada 2013 lalu, gedung-gedung permanen yang menjadi anjungan kabupaten/kota di Tasulsa, dibiarkan begitu saja tanpa digunakan untuk pertunjukkan budaya dan seni sama sekali. Kemegahan anjungan yang memamerkan barang atau benda-benda budaya saat PKA, tidak terlihat lagi seiring PKA berakhir. Hanya meninggalkan bangunan kosong yang sunyi, yang hanya dihuni oleh penjaga anjungan yang ditunjuk oleh setiap kabupaten/kota.

Bahkan, ada anjungan yang tidak berpenghuni karena kondisinya yang tidak layak pakai, seperti Anjungan Kabupaten Pidie sebelumnya. Anjungan-anjungan itu tidak ubahnya seperti bangunan pada umumnya. Terlihat sepi tanpa ada unsur edukasi yang didapat pengunjung saat bertamu di hari selain waktu PKA. Pengunjung pun juga tidak bisa menanyakan tentang makna dan filosofis setiap anjungan itu karena para penjaga anjungan yang ditunjuk bukanlah orang yang mengetahui sejarah, filosofis, dan simbol yang terlukis di anjungan.

Inilah yang dirasakan para penulis Forum Aceh Menulis (FAMe) saat ditugaskan menuliskan profil dari 23 anjungan kabupaten/kota yang terdapat di Tasulsa. Bahkan para penulis juga kesulitan mendapatkan informasi dari dinas terkait seperti dinas kebudayaan dan pariwisata masing-masing daerah mengenai profil anjungan tersebut. Banyak yang tidak mengetahui makna dan filosofis dari bentuk, motif, dan warna yang dibuat pada anjungan masing-masing daerah. Padahal anjungan tersebut merupakan interprestasi dari bangunan dan kebudayaan dari daerah pemilik anjungan.

Jelang PKA VII, anjungan-anjungan di Tasulsa kembali diaktifkan dan direnovasi secara besar-besaran. Bahkan Kabupaten Pidie rela mengucurkan dana sebanyak Rp2,3 M untuk merenovasi total anjungannya yang dibangun pada 2004 silam. Begitu juga dengan kabupaten/kota lainnya yang menganggarkan biaya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) untuk persiapan PKA VII. Bila ditotalkan perkiraan anggaran dari seluruh kabupaten/kota mencapai Rp 50 miliar (www.ajnn.net).

Sungguh jumlah yang fantastis anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk kegiatan kebudayaan ini. Mungkin orang Aceh selalu memegang teguh kalimat, Mate aneuk meupat jirat, gadeuh adat pat tamita (Mati anak tahu kuburannya, hilang adat kemana hendak dicari). Sehingga tidak ragu mengeluarkan anggaran yang begitu besar untuk mempertahankan adat dengan dibuatnya pameran kebudayaan ini.

Namun, sayang sekali lagi sayang. Pameran kebudayaan itu hanya bisa dinikmati oleh masyarakat Kota Banda Aceh. Pasalnya orang-orang dari berbagai daerah di pelosok Aceh tidak semuanya bisa datang ke Kutaraja untuk menyaksikan PKA. Beruntung bagi masyarakat yang mempunyai ekonomi mapan, tapi yang tidak mampu hanya bisa mendengar atau melihat melalui siaran televisi atau video tentang kemegahan PKA yang dibuat oleh pemerintah Aceh.

Kegiatan yang berlangsung sepuluh hari itu telah menyerap APBA dan APBK untuk pergelaran seni dan kebudayaan Aceh. Setelah itu Tasulsa kembali menjadi kompleks kosong yang sepi dari aktivitas seni dan budaya. Ketika ada masyarakat dari daerah datang ke Banda Aceh, ia hanya bisa melihat sisa-sisa kemegahan PKA dari anjungan 23 kabupaten/kota.

Destinasi wisata
Alangkah baiknya ke dapan setelah pergelaran PKA VII ini, anjungan 23 kabupaten/kota di Tasulsa tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Segala bentuk aktivitas seni dan budaya bisa dilakukan di kompleks ini. Anjungan-anjungan ini dibuka untuk destinasi wisata budaya Aceh, khususnya budaya dari berbagai daerah di Aceh.

Selain itu, anjungan-anjungan tersebut juga bisa dikomersialkan dengan cara menerima penyewaan bagi masyarakat yang ingin membuat kegiatan di anjungan tersebut. Misalnya, bagi masyarakat yang berasal dari daerah bisa menggunakan anjungan daerahnya dalam membuat resepsi pernikahan. Jadi, pernikahan tidak lagi dilakukan di masjid-masjid yang ada di Banda Aceh, melainkan di anjungan yang tempat perhelatan kebudayaan Aceh.

Tentunya untuk menjadikan Tasulsa sebagai tempat atau pusat kebudayaan setiap hari, perlu perencanaan matang dari setiap kabupaten/kota. Agar wujud dari kebudayaan Aceh tidak hanya berlangsung secara berkala dalam kegiatan empat tahunan saja, tapi bisa dirasakan setiap saat. Semoga!

Ns. Yelli Sustarina, S.Kep., alumnus Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Saat ini aktif di Forum Aceh Menulis (FAMe), Gam-Inong Blogger, dan Steemit Indonesia. Email: yellsaints.paris@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help