Jumat, 1 Mei 2026

Citizen Reporter

Mengintip Cara Warga Thailand Berkurban

SAYA mahasiswi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Bahasa Inggris Universitas Almuslim Peusangan

Tayang:
Editor: bakri
SILMI HAJRIANA 

OLEH SILMI HAJRIANA, Mahasiswi Universitas Almuslim, Peusangan, Bireuen, peserta KKM-PPL di Thailand, melaporkan dari Yala, Thailand

SAYA mahasiswi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Bahasa Inggris  Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen,  merupakan salah seorang peserta  program Kuliah Kerja Mahasiswa-Program Praktik Lapangan (KKM-PPL) di Thailand Selatan. Yang saya jalani ini merupakan Program KKM Internasional, hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Badan Alumni Internasional Thailand Selatan.

Tak terasa, hampir dua bulan lebih saya berada di Negeri Gajah Putih  ini. Saya tidak sendiri di sini. Ada 71 mahasiswa lainnya dari Indonesia bersama saya di sini. Kami berasal dari 12 perguruan tinggi  di Indonesia yang mendapatkan kesempatan dalam program ini. Bagi Universitas Almuslim Peusangan, ini kali keempat kami mendapat kepercayaan dari Badan Alumni Internasional Thailand Selatan untuk mengirimkan mahasiswanya dalam program internasional ini.

Program ini merupakan program pengabdian selama empat bulan. Untuk angkatan ini kami dari Universitas Almuslim berjumlah lima orang, masing-masing ditempatkan di provinsi yang berbeda. Ada yang ditempatkan di Narathiwat, Pattani, dan Yala. Saya sendiri ditempatkan di Betong Junior Khalifah School yang berada di Provinsi Yala.

Seperti yang kita ketahui, negara yang beribu kota Bangkok ini merupakan negara yang menganut sistem kerajaan dan  mayoritas penduduknya beragama Buddha. Pemeluk agama Islam  sangat sedikit, tapi merupakan agama yang kedua terbanyak pemeluknya setelah Buddha. Pemeluk Islam di sini umumnya penduduk Thailand keturunan Melayu.

Komunitas orang Melayu di negeri ini kebayakan menetap di daerah Thailand Selatan yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Pada hari Raya Idul Adha yang baru berlalu, saya bersama teman  satu kelompok yang juga berasal dari  FKIP   Universitas Almuslim, bernama  Nurhaiyu, merasakan suatu kebahagiaan sekaligus kesedihan. Betapa tidak, pada tahun ini, saya mendapat pengalaman baru merayakan dan menikmati suasana Idul Adha di negeri orang.

Sedang kesedihan yang meliputi jiwa saya dan teman-teman lain yang ikut dalam program ini adalah merayakan Hari Raya Kurban jauh dari orang tua dan sanak keluarga. Cobalah bayangkan baru kali ini saya jauh dari keluarga saat merayakan hari yang sangat sakral bagi umat Islam di Aceh. Tetapi dengan semangat pengabdian kami buang jauh-jauh kerinduan dan kesedihan berhari raya di perantauan.

Saat kami merayakan hari raya di tempat orang ini, kami  ikut shalat Id Adha di Negeri Gajah Putih seperti kebiasaan di Aceh. Memang ada banyak perbedaan dengan Aceh (Indonesia), tetapi kami sangat bahagia karena bisa merayakan dengan saudara seiman dan seagama yang ada di Thailand Selatan.

Ada perbedaan yang kami rasakan saat berhari raya di Aceh dengan berhari raya di Thailand. Kalau di Aceh sebelum menyambut hari raya ada tradisi meugang atau makmeugang, tradisi yang sudah turun-temurun dilakoni oleh suku Aceh.

Makmeugang adalah tradisi memasak daging dalam jumlah banyak dan dinikmati bersama keluarga dan kerabat lainnya. Tradisi ini di Aceh pelaksanaannya  tiga kali dalam setahun (menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha), tapi kali ini tidak kami dapatkan di tempat pengabdian kami saat ini.

Makmeugang walaupun bukan sebuah kewajiban, tapi sudah menjadi suatu keharusan bagi masyarakat Aceh, sehingga jarang dijumpai pada masyarakat Aceh yang tidak makan daging makmeugang menjelang Lebaran tiba. Suasana inilah yang memantik kesedihan dan sangat menganggu pikiran kami. Jujur saja, pada saat-saat tersebut pikiran kami yang berasal dari Aceh menerawang jauh ke relung-relung suasana keluarga di kampung halaman.

Saya juga mengamati secara khusus tradisi penyembelihan hewan kurban khususnya di daerah Tanoh Puteh, Provinsi Yala, tempat saya tinggal. Ternyata di sini menyembelih kurban dilakukan di setiap rumah warga. Di hampir setiap rumah sudah disiapkan satu ekor atau bahkan dua ekor sapi untuk disembelih, lalu dagingnya dibagi-bagikan kepada tetangga, kerabat, dan anak yatim.

Pemilik rumah tersebut juga memasak banyak daging, kemudian mengajak atau mengundang tamu untuk datang makan bersama. Menurut saya, tradisi kurban cukup akrab di kalangan muslim Thailand, apalagi ini  ibadah yang wajib bagi umat muslim yang mampu, kemudian daging kurban dibagi-bagikan kepada orang miskin dan anak yatim, bukan untuk dijual.

Saya dan teman saya pergi bersilaturahmi ke beberapa rumah ustaz dan ustazah yang satu sekolah mengajar dengan kami. Saat bertamu ke rumah-rumah warga tidak ada yang beda satu  sama lain, setiap rumah identik dengan masakan daging, sehingga kami kadang harus  makan 4-5 kali dalam sehari.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved