Dari Tamiang untuk Lombok, Dibangun Masjid dengan Bahan Dasar Bambu
Bukan tanpa alasan bila kemudian dipilih bambu sebagai bahan dasar pembangunan masjid ini. Setidaknya ada dua alasan
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Fatimah
Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Sudah menjadi hal biasa bila kita mendapati masjid dengan bangunan permanen yang kokoh dan indah. Padahal, masjid yang dibangun menggunakan bahan 100 persen bambu menawarkan keindahan yang tak kalah menawan.
Terletak di Desa Sembalunbumbung, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, NTB, sebuah masjid yang menggunakan bahan dasar bambu sudah mulai didirikan. Anggaran pembangunan masjid ini merupakan donasi masyarakat Aceh Tamiang yang dikumpulkan untuk korban gempa yang melanda kawasan itu, beberapa waktu lalu.
Penggalangan dana ini dihimpun Yayasan Gerakan Berbagi Tamiang (Gebetan) dan seluruh bantuan yang terkumpul sudah diserahkan langsung ke NTB.
"Kami bekerja sama dengan Sinergi Foundation. Jadi bila ada kekurangan biaya bisa mereka tutupi," kata Dewan Pembina Yayasan Gebetan, Sepriyanto, Selasa (2/10/2018).
(VIDEO - Sembalun Bumbung, Titik Gempa Lombok yang Jarang Terekspos Media)
Bukan tanpa alasan bila kemudian dipilih bambu sebagai bahan dasar pembangunan masjid ini. Setidaknya ada dua alasan, yakni bangunan yang terbuat dari bambu tidak rusak akibat gempa dan Sembalun ternyata salah satu sentra penghasil bambu di Indonesia.

"Sebelumnya kami sudah melakukan survei, dan ternyata bangunan-bangunan yang terbuat dari bambu di Sembalun tidak rusak. Aman dari gempa," lanjut Sepriyanto yang juga Kabag Pemerintahan Pemkab Aceh Tamiang.
Di daerah itu kata Sepriyanto, masih banyak bangunan terbuat dari bambu, misalnya rumah adat, balai pertemuan, tempat penyimpanan padi dan tentunya masjid. Semua bangunan tersebut sama sekali tidak berdampak gempa.
Untuk memaksimalkan pembangunan masjid bambu ini, Yayasan Gebetan telah menggandeng pakar bambu dari Garut, Jawa Barat. Artinya, sebelum merangkai bambu menjadi bangunan, ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan agar bambu awet.
Dia mengatakan, saat ini proses pembangunan masjid sudah dimulai. Setidaknya dibutuhkan seribu batang bambu dan ditargetkan rampung tiga bulan. Meski mengusung bahan tradisional, masjid ini tetap menggunakan konsep modern dan dilengkapi fasilitas MCK.
"Kebetulan masyarakat Sembalun relijius. Ketika kita tanyakan butuh apa, mereka bilang butuh masjid. Alhamdulillah sekarang sudah proses pembangunan," ucap Sepriyanto didampingi Sekretaris Yayasan Gebetan, M Hendra Vramenia.