Gempa Itu Sunatullah, Risikonya Bisa Dikurangi
Gempa itu merupakan sunatullah. Jika tidak ada gempa maka energi akan menumpuk dan berakibat pada meledaknya bumi
“Gempa itu merupakan sunatullah. Jika tidak ada gempa maka energi akan menumpuk dan berakibat pada meledaknya bumi,” demikian dikatakan Prof Dr Sarwidi MSCE, Pakar Rekayasa Gempa dan Rekayasa Struktur Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta saat presentasi di Aula Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Diskusi itu dibuka Kepala Pelaksana BPBA, Teuku Ahmad Dadek SH dan dimoderatori oleh Redaktur Pelaksana Harian Serambi, Yarmen Dinamika.
Prof Sarwidi mengingatkan bahwa 2/3 wilayah Indonesia terancam gempa karena berada di atas cincin api (ring of fire). “Secara umum, dengan jumlah penduduk yang besar maka potensi bencana pun ikut naik,” kata Anggota Dewan Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana ini.
Menurutnya, gempa dapat membuat dampak bencana melalui empat mekanisme. Pertama, guncangan kuat yang mengakibatkan robohnya bangunan di permukiman. Kedua, gempa dapat memicu tsunami yang mengempas pesisir permukiman. Ketiga, gempa dapat menimbulkan tanah bergerak (longsor) dan menghantam permukiman. Keempat, gempa bisa memicu likuifaksi dan membenamkan permukiman.
Dalam kondisi tertentu, lanjutnya, dampak tersebut bisa saja terjadi bersamaan. Misalnya, setelah gempa terjadi tsunami, tanah bergerak, dan sekaligus likuifaksi.
Prof Sarwidi kemudian menawarkan solusi untuk mengantisipasi empat mekanisme penyebab bencana gempa tersebut. Caranya adalah, untuk mengatasi guncangan kuat, maka harus diperhatikan benar tata ruang (tingkat ancaman dan jenis tanah). Kedua, bangun struktur dan bangunan/rumah tahan gempa atau bangunan aman gempa.
Kemudian, untuk mengurangi dampak tsunami, maka setting tata ruang yang salah satu fungsinya untuk penghalang tsunami. Selain itu, bangun bangunan atau rumah tahan gempa dan bangunan tahan tsunami.
Untuk mengantisipasi tanah bergerak (longsor) akibat gempa, maka perlu disetting tata ruang (zonasi potensi tanah gerak/longsor). Kedua, lakukan perbaikan teknis bila kerusakannya minor.
Terakhir, untuk mengantisipasi likuifaksi, maka sangat diperlukan penelitian awal untuk menentukan tata ruang (zonasi potensi likuifaksi). Selain itu, lakukan perbaikan teknis bila kerusakannya minor.
“Terlepas dari semua itu, upaya terbesar yang perlu dilakukan ialah mengubah pola pikir masyarakat. Literasi merupakan salah satu cara untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat agar tanggap bencana,” ujar Prof Sarwidi.
Pemilik Museum Gempa di Yogyakarta ini juga menambahkan bahwa gempa walaupun jarang terjadi tetapi mengerikan. Oleh karena itu, bangunan yang dibuat di daerah-daerah rawan gempa seperti Indonesia hendaknya menerapkan konsep bangunan rumah rakyat tahan gempa (Barrataga). “Konsep ini menerapkan sistem ‘kerja sama’ antarstruktur bangunan untuk memecah energi guncangan yang terjadi akibat gempa, sehingga bangunan tidak ikut rusak. Banyaknya korban bencana gempa selama ini ya akibat robohnya bangunan,” kata penggagas dan pemilik paten Barrataga ini.
Selain itu, menurutnya, perlu juga diwacanakan adanya gerakan nasional pengurangan risiko bencana (PRB) gempa bumi untuk mengurangi risikonya. “Jadi, gempa bumi itu memang menakutkan dan dampaknya destruktif, tapi risikonya bisa dikurangi. Salah satunya ya dengan membangun rumah tahan gempa. Kita harus melatih mandor dan tukang yang mampu membangun rumah murah tapi tahan gempa,” ujarnya.
Di Yogyakarta, Prof Sarwidi sudah melatih banyak mandor dan tukang sehingga terampil membangun rumah tahan/aman gempa. Pelatihan itu berlangsung di bawah koordinasi Museum Gempa Prof Sarwidi yang dibangun oleh murid-murid Sarwidi dan didedikasikan atas namanya.
Museum ini juga menghasilkan alat simulasi pengujian rumah tahan gempa yang sudah dipatenkan Prof Sarwidi. Banyak peneliti asing yang membelinya, termasuk membeli buku tentang prosedur membangun rumah tahan gempa yang ditulis Prof Sarwidi. Jumat lalu buku itu dia hadiahkan kepada Kepala Pelaksana BPBA, Teuku Ahmad Dadek SH dan kepada moderator diskusi. (dik)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sarwidi-pakar-rekayasa-gempa-dan-rekayasa-struktur-uii_20181015_102144.jpg)