Disdagkop Operasi Pasar Elpiji 3 Kg

Pemkab Aceh Timur melalui Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Disdagkop dan UKM)

Disdagkop Operasi Pasar Elpiji 3 Kg
PEKERJA menukar tabung gas elpiji 3 kg yang kosong di tempat penyalur resmi di Desa Ule Pulo, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara 

* Di Ranto Peureulak dan Peureulak

IDI - Pemkab Aceh Timur melalui Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Disdagkop dan UKM) menggelar operasi pasar (OP) gas bersubsidi 3 kg di Gampong Seunebok Baro, Kecamatan Ranto Peureulak dan Gampong Lhok Dalam, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur, Sabtu (10/11). Harga yang dijual dalam OP ini sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp 18 ribu per tabung.

Kadisdagkop dan UKM Aceh Timur, Iskandar SH, mengatakan OP itu mereka gelar untuk menstabilkan harga dan mengatasi kelangkaan harga gas tersebut di kedua kecamatan itu yang sudah terjadi dalam dua pekan terakhir dengan harga mencapai Rp 37 ribu per tabung sebagaimana diberitakan Serambi dua hari lalu. Selain itu, OP ini juga menindaklanjuti surat permohonan Camat Ranto Peureulak sebelumnya.

Iskandar menyebutkan gas 3 kg yang dijual dalam OP itu 560 tabung. Rinciannya 310 tabung di Kecamatan Ranto Peureulak dan 250 tabung di Kecamatan Peureulak. “Alhamdulillah semuanya habis terjual,” kata Iskandar kepada Serambi, Minggu (11/11).

Iskandar menambahkan OP itu mereka gelar bekerja sama dengan Agen Harapan Minyak Tanah. Adapun beberapa faktor yang diduga menyebabkan gas 3 kg langka di Kecamatan Ranto Peureulak, salah satunya, kata Iskandar karena agen tidak masuk ke pedalaman, seperti ke Kecamatan Ranto Peureulak, sebaliknya agen hanya menyalurkan gas 3 kg ke pangkalan yang berada di jalan nasional Medan-Banda Aceh.

Faktor lainnya, kata Iskandar diduga adanya permainan oknum pangkalan yang mengoplos gas 3 kg ke gas 15 kg (nonsubsidi), sehingga ketika pihak agen menyalurkannya ke pangkalan, pihak pangkalan hanya menjual sebagian dan selebihnya dinyatakan sudah habis.

“Nah, ketika dinyatakan habis, maka terjadi kelangkaan. Kemudian pihak pangkalan bermain di harga. Namun penyebab pastinya sedang kita telusuri, jika ada pangkalan yang nakal seperti ini, maka akan kita rekomendasikan agar izinnya dicabut,” tegas Iskandar.

Gas 3 kg, jelas Iskandar, diperuntukan untuk masyarakat menengah ke bawah, dan para PNS tidak dibenarkan membelinya. Pemkab Aceh Timur sudah mengeluarkan imbauan bahwa gas 3 kg hanya diperuntukan untuk masyarakat miskin.

“Kita juga memohon kepada para agen agar memantau masing-masing petugas pangkalannya agar tidak ‘nakal’. Karena dugaan kita selama ini di tingkat pangkalan yang bermain, sedangkan para agen tidak bisa bermain karena sudah menyalurkan gas 3 kg kepada pangkalannya sesuai kuota masing-masing,” jelas Iskandar.

Kadisdagkop dan UKM Aceh Timur, Iskandar, juga menginformasikan untuk mengatasi kelangkaan gas tiga kilogram subsidi di daerah pedalaman, maka pihaknya akan merumuskan harga eceran tertinggi (HET) baru di kawasan pedalaman yang akan lebih mahal dibanding di daerah dekat jalan raya.

“Seperti di Kecamatan Peunaron dan Simpang Jernih, HET-nya direncanakan Rp 25 ribu per tabung. Selain itu, untuk daerah lainnya, hitungannya ditambah Rp 2.000 setiap 12 km dari jalan nasional,” jelas Iskandar. Ia menambahkan dalam waktu dekat, pihaknya akan menyosilasasikan Perbup Aceh Timur, kepada masyarakat tentang harga HET gas 3 kg terbaru ini. (c49)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved