Opini

CAT ‘Carong Atawa Tan’

RIBUAN Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) gagal mengikut tahapan seleksi kompetensi bidang (SKB) rekrutmen CPNS

CAT ‘Carong Atawa Tan’
WAKIL Ketua DPRA, Dalimi, bersama Kakanreg XIII BKN Banda Aceh, Makmur Ibrahim, memantau pelaksanaan tes CAT CPNS di Kampus Abulyatama, Aceh Besar 

Oleh Rahmad Nuthihar

RIBUAN Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) gagal mengikut tahapan seleksi kompetensi bidang (SKB) rekrutmen CPNS, karena tidak memenuhi passing grade. Para peserta jalur formasi umum gagal memenuhi satu dari tiga materi yang diujiankan, baik Tes Intelegensi Umum (TIU), Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), maupun Tes Karakteristik Pribadi (TKP).

Hal itu diakui Wakil Ketua DPRA, Dalimi SE Ak yang mengatakan bahwa passing grade pada sistem CAT (Computer Assessment Test) terlalu tinggi. Akibatnya, dalam sehari yang ikut ujian SKD 1.000-1.500, tetapi yang lulus ujian CAT ini bisa dihitung dengan jari (Serambi, 8/11/2018).

Melihat problema tersebut, CAT menurut saya identik dengan singkatan carong atawa tan (pintar atau tidak). Sebab, untuk mengikuti SKB, peserta CPNS diharuskan terlebih dulu lulus CAT. Dengan CAT ini pemerintah dapat menjaring putra-putri terbaik di Indonesia agar dapat bergabung dalam Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri). Dengan perkataan lain, lulus CAT berarti betul-betul carong (pintar).

Berkaitan dengan hal tersebut, ada yang menarik dari seleksi kompetensi dasar yang diujiankan dengan komputer. Satu di antaranya adalah soal yang diujiankan. Merujuk pada Permenpan-RB No.37 Tahun 2018 tentang Nilai Ambang Batas Seleksi Kompetensi Dasar Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2018, jumlah soal yang diujiankan sebanyak 100 butir. Masing-masing soal terdiri atas TWK 35 butir, TIU 30 butir, dan TKP sebanyak 35 butir.

Dari 100 soal tersebut, peserta CAT diberikan waktu selama 100 menit. Jika dihitung rata-rata waktu mengerjakan soal sebanyak 100 butir (100/90 menit) adalah 1,111 menit persoal. Namun, bukan alasan terbatasnya waktu tersebut. Pemerintah hanya meminta kepada peserta formasi umum untuk lulus passing grade mampu menjawab TIU sebanyak 16 soal, TWK 15 soal, dan TKP 30 soal dengan nilai perjawaban yang diperoleh sebanyak 5.

Dengan adanya CAT, negara melihat calon PNS ini carong atawa tan dalam memilih jawaban ataupun carong atawa tan dalam menyiasati waktu. Selain itu, negera juga adil dalam menyiasati nilai passing grade. Terdapat pengecualian nilai passing grade bagi formasi khusus yang terdiri atas (a) cumlaude, (b) penyandang disabilitas, (c) putra/putri Papua dan Papua Barat, (d) olahragawan berprestasi internasional; (e) diaspora; dan (f) tenaga guru dan tenaga medis/paramedis dari eks tenaga honorer kategori-II.

Tiga solusi
Menjawab persoalan tersebut, saya menyarankan kepada Panselnas agar menerapkan tiga solusi berikut: Pertama, seluruh soal harap dibagikan kepada publik setelah seluruh rangkaian SKD selesai. Hal ini seperti pelaksanaan ujian nasional. Akan tetapi, sejak proses rekrutmen dilaksanakan satu pintu melalui SSC BKN, saya belum menemukan soal SKD yang dibagikan.

Apabila soal CAT ini dianggap “keramat” dan tidak dibagikan kepada publik, ini merupakan bentuk ketidakadilan dan melanggar prinsip keterbukaan publik. Bukankah Permenpan-RB No.36 Tahun 2018 tentang Kriteria Penetapan Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil dan Pelaksanaan Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2018, di dalamnya terdiri atas enam prinsip: (1) kompetitif, (2) adil, (3) objektif, (4) transparan, (5) bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, dan (6) tidak dipungut biaya.

Lalu bagaimana penjabaran definisi transparan? Apakah transparan di sini hanya sebatas pengertian dari Permenpan RB No.36 Tahun 2018 yang bermakna “transparan, dalam arti proses pelamaran, pendaftaran, pelaksanaan seleksi, pengolahan hasil seleksi, serta pengumuman hasil kelulusan dilaksanakan secara terbuka”?

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved