Jurnalisme Warga
Belajar Mengelola Sampah di Pesantren
Saya sempat berpikir, mungkin orang-orang tidak mampu membaca dengan baik, padahal tulisannya sudah sangat jelas.
NABILA ALFATHYA, Sisiwi Kelas XII Madrasah Aliyah Baitul Arqam, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar
Tidak jarang saya membaca pamflet bertuliskan larangan membuang sampah, tetapi sayangnya di bawah pamflet tersebut justru ada tumpukan sampah. Saya sempat berpikir, mungkin orang-orang tidak mampu membaca dengan baik, padahal tulisannya sudah sangat jelas.
Ironisnya lagi, selain tetap saja ada yang membuang sampah, tidak sedikit pula orang yang membakarnya. Kebanyakan orang menganggap solusi mengentaskan sampah adalah dengan cara membakar. Padahal, tindakan tersebut justru membuat tanaman di sekitarnya menjadi mati dan tanah menjadi tidak subur.
Dulu, saya dan teman-teman juga pernah melakukan hal yang sama, sampai akhirnya saya mendapatkan pencerahan tentang pengelolaan sampah dan diberi tahu cara membuat kompos sebagai solusi untuk persoalan sampah. Saya mulai menyadari pentingnya mengelola sampah dengan baik agar lingkungan tetap bersih, sehat, terawat, dan lestari.
Sabtu (2/8/2025), Pesantren Baitul Arqam—tempat saya menimba ilmu—kedatangan tamu dari Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh. Tim Fakultas Agama Islam Prodi Biologi yang datang ini diketuai Ibu Qurratu Aini SSi, MPd dan beranggotakan Ibu Puji Aryani SE, MSi, PhD, serta Ibu Dr Rosnidarwati SAg, MA. Tim dosen Unmuha Aceh tersebut hadir bersama seorang narasumber yang mumpuni di bidang pengelolaan sampah, yakni Ir Rama Herawati MP. Beliau adalah Direktur Bank Sampah Universitas Syiah Kuala (BSU).
Bu Rama mengatakan, kesadaran lingkungan bagi warga pesantren sangatlah dibutuhkan saat ini. Kami juga diajarkan bagaimana mengelola sampah dengan benar. Berbarengan dengan itu, Bu Rama juga memberikan sosialisasi mengenai bank sampah. Acara ini juga merupakan rangkaian pengabdian dosen Unmuha dan diberi tema “Optimalisasi Pesawaze sebagai Model Kemandirian Lingkungan Berkelanjutan di Pesantren Baitul Arqam”.
Pada kesempatan yang sama, Bu Rama juga mempresentasikan “Kiprah BSU Dalam Pengelolaan Sampah” dan mengundang kami untuk sesekali mengunjungi BSU di Darussalam, Banda Aceh.
Pada sosialisasi ini, Bu Rama menjelaskan kepada kami tentang cara pengelolaan sampah. Ia berbagi cerita tentang kesehariannya sebagai pegiat lingkungan. Bu Rama menginisiasi BSU pada 4 Januari 2019. BSU ini sudah mengeluarkan surat edaran di USK mengenai pengelolaan sampah. Edukasi dilakukan untuk ‘cleaning service’ yang bekerja di USK. Selain di USK, bank sampah juga sudah tersedia di 24 batalion di bawah Kodam Iskandar Muda. Pembentukannya juga atas kerja sama Kodam dengan BSU.
Bu Rama rutin melakukan sosialisasi untuk mengajak masyarakat agar tidak salah dalam mengelola sampah. Bahkan banyak warga yang kini mengantarkan sampah rumah tangganya ke BSU.
“Bahkan dosen-dosen USK saja antar sendiri ke tempat saya,” ucap beliau sambil memperlihatkan foto sebuah mobil yang sudah terisi penuh dengan sampah. Sampah yang diantar ke BSU sudah terpilah sesuai dengan jenisnya.
Beliau juga menyediakan ember, yang dibagikan kepada warga sebagai wadah tempat sampah. “Embernya sudah kami bersihkan kok,” tambah Bu Rama sambil tertawa.
Sampah dipilah berdasarkan jenisnya: reuse, reduce, dan recycle. Sampah-sampah tersebut tidak boleh dicampur dengan sampah yang bukan sejenisnya. Sampah organik harus dengan yang organik, sedangkan sampah anorganik dengan sesamanya.
Sampah anorganik memiliki banyak jenis. Beberapa di antaranya, sampah botol minuman kemasan dan plastik ada 20 jenis, sampah kertas ada 9 jenis. Sedangkan sampah organik ada lima jenis, yaitu daun, ampas kopi, limbah dapur, limbah ayam potong, dan limbah ikan.
Ibu Rama mengaku sangat senang jika mendapat limbah ikan. “Saya paling seneng sama limbah ikan, kalau kalian lihat limbah ikan, biasanya jijik, saya malah kayak lagi lihat bongkahan emas,” ujar Bu Rama.
Istri seorang profesor di Fakultas Pertanian USK ini juga bercerita bahwa limbah ikan tersebut sangat bagus untuk membantu penyuburan tanah. Bu Rama mulai menjelaskan tentang pengolahan serta manfaat sampah organik dan anorganik. Sampah-sampah anorganik dapat dijual dan menghasilkan uang. Ada beberapa jenis sampah yang tidak dapat dijual. Ini termasuk sampah residu. Beliau juga memberikan peringatan tentang pemakaian plastik. Bu Rama mengimbau untuk selalu membawa botol minum (tumbler) agar mengurangi pemakaian plastik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/NABILA-ALFATHYA-LAGI.jpg)