Citizen Reporter

Belajar dari Australia tentang Manfaat Ganja

KETIKA Indonesia masih memosisikan ganja sebagai sesuatu yang terlarang dan siapa pun yang memiliki

Belajar dari Australia tentang Manfaat Ganja
IST
FAJAR MULIANI

OLEH FAJAR MULIANI, S.Si, Peneliti Imunologi dan Tanaman Obat, alumnus Prodi Biologi FMIPA Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Armidale, New South Wales, Australia

KETIKA Indonesia masih memosisikan ganja sebagai sesuatu yang terlarang dan siapa pun yang memiliki dan menggunakannya akan dihukum, ternyata lebih dari 21 negara, termasuk Australia, sudah melegalkan dan memanfaatkan ganja.

Sebagai peneliti tanaman obat, saya pernah membaca beberapa jurnal ilmiah tentang potensi ganja dalam dunia kesehatan. Sebagai warga Aceh saya juga tentu sadar tentang peluang obat ganja bagi sektor kesehatan dan ekonomi Aceh dan Indonesia. Beberapa minggu lalu saya berkesempatan mengikuti kuliah tamu mengenai pertimbangan hukum mengapa obat ganja akhirnya dilegalkan di Australia dan manfaatnya dalam sektor kesehatan, serta peluangnya dalam sektor industri di Australia yang diselenggarakan School of Business, University of New England (UNE), New South Wales, Australia.

Tanaman ganja mengandung ratusan zat kimia aktif, salah satunya adalah cannabidiol yang sangat berpotensi sebagai obat. Berdasarkan hasil penelitian-penelitian ilmiah, cannabidiol dapat secara efektif menyembuhkan beragam penyakit. Walaupun dari ganja, ekstrak cannabidiol tidaklah menyebabkan mabuk layaknya ganja sebagai narkoba. Hal ini karena ekstrak cannabidiol sudah terpisah dari tetrahydrocannabinol (zat aktif dari ekstrak ganja yang menyebabkan pemakainya high atau teler).

Obat ganja dapat secara efektif mengobati sindrom epilepsi akut pada anak-anak. Selain epilepsi, ekstrak cannabidiol ganja juga terbukti secara ilmiah ampuh membantu penyembuhan beberapa penyakit nyeri yang kronis sehingga diresepkan pada pasien arthriris, bahkan juga kepada pasien kanker yang menjalani kemoterapi.

Selain itu, obat ganja telah dibuktikan oleh Pemerintah Amerika Serikat dapat mengobati sejumlah penyakit kanker seperti kanker usus, hati, dan payudara. Obat ganja mengobati kanker dengan cara menghancurkan sel-sel kanker dan memutus asupan nutrisi dari pembuluh-pembuluh darah untuk pertumbuhan kanker.

Obat ganja atau di dunia dikenal dengan istilah medicinal cannabis, dilegalkan di Australia pada tahun 2016. Hal ini berkat advokasi yang dilakukan Lucy Haslam (salah satu pemateri kuliah tamu) sebagai upaya untuk melegalkan penyembuhan Dan Haslam (anak Lucy Haslam) dari penyakit kanker stadium 4 dengan medicinal cannabis. Melihat perkembangan kesembuhan anaknya berkat obat ganja, Lucy Haslam memimpin kampanye massif agar Pemerintah Australia melegitimasi potensi ganja sebagai obat. Karena advokasi Lucy Haslam itulah akhirnya obat ganja dilegalkan di Australia sejak tahun 2016.

Berbeda jauh dari kasus Lucy Haslam di Australia, kasus Fidelis Ari Sudewarto di Indonesia pada tahun 2017 malah berakhir memprihatinkan. Ketika obat ganja perlahan-lahan mulai menyembuhkan istri Fidelis, ia malah ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara. Alhasil, istrinya pun meninggal karena tak ada yang merawat dan memberikan obat ganja lagi padanya.

Potensi ganja sebagai obat seharusnya dapat memberikan sudut pandang yang berbeda bagi pemerintah kita layaknya yang terjadi di luar negeri. Bahkan negeri tetangga kita yang lain, Malaysia, pada tahun ini mulai mempertimbangkan untuk melegalkan ganja sebagai obat karena kasus Muhammad Lukman. Tuntutan hukuman mati terhadap Muhammad Lukman pun dicabut dan Pemerintah Malaysia mulai terbuka paradigma berpikirnya tentang potensi ganja sebagai obat.

Selain Lucy Haslam, kuliah tamu yang saya ikuti tersebut juga dihadiri oleh pemateri-pemateri dari sektor industri medicinal cannabis di Australia. Salah satunya adalah John Leith, pendiri dan CEO Oz Medicann Group yang merupakan perusahaan obat ganja terbesar di Australia. John menceritakan tentang inovasi, capaian, dan peluang obat ganja sebagai komoditas kesehatan dan pertanian di Australia.

Sektor industri obat ganja di Australia saat ini benar-benar memanfaatkan peluang bisnis dari obat ganja. Tujuan mereka selain menyuplai obat ganja bagi pasien-pasien di Australia adalah untuk mendominasi pasar medicinal cannabis dunia. Banyak negara di dunia seperti Jerman yang membutuhkan stok obat ganja dari negara lain. Hal ini tentu akan banyak mendatangkan benefit dan membuka lapangan kerja di Australia.

Lantas bagaimana mestinya pemerintah kita menyikapi ganja? Pemerintah sebaiknya mengkaji ulang larangan ganja di Indonesia. Pemerintah perlu mempertimbangkan potensi dan manfaat obat ganja bagi kesehatan dan kemaslahatan masyarakat yang tentunya tetap dalam koridor medis, bukan untuk tujuan teler, fly, atau recrational use. Saya juga tak setuju bila ganja dilegalkan secara penuh tanpa ada regulasi dan pengawasan yang memadai. Pemerintah kita dapat belajar dari Australia, Jerman, Austria, Swiss, dan negara lainnya dalam meregulasi obat ganja agar dapat dimanfaatkan tanpa adanya penyalahgunaan.

Obat ganja dari ganja Indonesia pun harus terlebih dahulu dilakukan uji efektivitas, kualitas, dan keamanan sebelum dilegalkan. Walaupun belum ada tanda-tanda akan adanya amandemen undang-undang tentang larangan pemanfaatan ganja, perlu diketahui bahwa Balai Besar Penelitian Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sudah sejak tahun 2012 aktif meneliti potensi dan khasiat medicinal cannabis untuk kesehatan.

Bila akhirnya legal di Indonesia, obat ganja dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pengganti obat-obatan terhadap penyakit yang sebenarnya dapat disembuhkan dengan medicinal cannabis sehingga dapat meringankan beban anggaran kesehatan.

Selain itu, peluang Indonesia sebagai eksportir obat ganja di pasar dunia tentulah sangat besar, mengingat ganja dapat tumbuh subur di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Aceh. Bahkan tidak ditanam atau dirawat saja pun ganja dapat tumbuh subur di Aceh. Hal ini tentunya akan mendatangkan keuntungan bagi negara dari segi kesehatan dan ekonomi serta membuka lapangan kerja baru untuk masyarakat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved