UAS: Subulussalam Negeri Ulama

Ustaz Abdul Somad Lc MA atau akrab disapa UAS menyatakan, Kota Subulussalam merupakan daerah

UAS: Subulussalam Negeri Ulama
SERAMBI/KHALIDIN
USTAZ Abdul Somad Lc MA duduk berdampingan dengan Wali Kota Subulussalam, H Merah Sakti SH dan Sekdako Damhuri, serta unsur Forkopimda saat menghadiri tabligh akbar di Lapangan Sada Kata, Selasa (27/11). 

SUBULUSSALAM - Ustaz Abdul Somad Lc MA atau akrab disapa UAS menyatakan, Kota Subulussalam merupakan daerah yang menjaga kedamaian karena negeri itu adalah negeri para ulama dan dai, sehingga jangan sampai rusak akibat persoalan pilkada, pileg, dan pilpres. Hal itu disampaikan UAS saat berceramah dalam tabligh akbar di Lapangan Sada Kata Subulussalam, Selasa (27/11).

Ustaz Abdul Somad pun mengulas Subulussalam yang dinilai begitu hebat dalam menjaga kedamaian, meski di sana terdapat bermacam ragam suku bahkan agama, tapi tidak pernah ada gesekan atau konflik hingga memicu pertikaian. UAS pun menyatakan bahwa Subulussalam bukan milik orang Aceh semata, tapi semua umat dan suku, hingga agama.

Dikatakan dai asal Pekanbaru, Riau itu, selama ini tidak pernah ada perkelahian antarsuku dan agama, karena Islam adalah agama yang membawa rahmatan lil alamin atau rahmat untuk seluruh alam dan umat manusia termasuk makhluk.

“Apakah ada orang Subulussalam yang membunuh orang tidak seagama dengan dia, atau saat menengok orang luar masuk dipancung kepalanya, bakar rumahnya, larikan bininya,” tanya Ustaz Somad seraya disambut belasan ribu jamaah dengan jawaban tidak. “Mengapa ini bisa damai? Karena Subulussalam merupakan negeri para ulama dan dai,” ulas dai jebolan Al Azhar Mesir ini.

Untuk itu, dai kondang tersebut mengimbau, masyarakat jangan sampai terpecah hanya karena persoalan pilkada. UAS juga mengulas betapa besar peran ulama asal Kota Subulussalam yang dulu menyatu dengan Kabupaten Aceh Singkil. Dikatakan dia,lewat torehan tangan atau karya ulama asal Subulussalam lah maka orang bisa mengkaji Alquran. “Jika saja dulu tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, maka orang Melayu sendiri tidak akan paham isi Alquran,” ucapnya.

Menurut Ustaz Abdul Somad, yang pertama kali menerjemahkan Alquran ke Bahasa Melayu adalah Syekh Abdurrauf Assingkily yang notabene asal Singkil-Subulussalam (masih satu rumpun). Syekh Abdurrauf Assingkily merupakan anak Ali Fansury. Sementara Ali Fansury, beber UAS, masih memiliki kekerabatan dengan Syekh Hamzah Fansury yang notabene berasal dari Subulusalam.

“Sungai itu bercabang dua, sungai yang kiri tempatnya Tuan Hamzah Fansury dan yang kanan tempatnya Tuan Ali Fansury. Ali Fansury punya anak laki-laki itulah Syekh Abdurrauf Assingkily, punya kitab dan orang pertama menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Melayu. Saya bukan orang Aceh, tak paham Alquran dan Bahasa Arab. Lalu, datanglah Syekh Abdurrauf Assingkily terjemahkan ke Bahasa Melayu. Kalau bukan karena orang negeri Subulussalam, tak pandai kami baca Alquran, tak paham kami isi Alquran,” ungkap UAS yang disambut tepuk tangan meriah belasan ribu jamaah yang menyesaki lapangan berukuran 80x90 meter tersebut.(lid)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved