Opini

Tausiyah Akhir Tahun

JIKA menilik Alquran secara holistik dijumpai sejumlah sumpah Allah Swt (qasam) tentang waktu. Semisal, demi waktu fajar (wal-fajri)

Tausiyah Akhir Tahun
SERAMBI/SENI HENDRI
USTADZ Abdul Somad LC MA, menyampaikan tausiyah di Lapangan T Chik M Thaib, Peureulak Kota, Aceh Timur, Minggu (11/10) malam. Zikir dan tablig akbar bersama UAS ini digelar dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H, sekaligus memperingati Haul Sirul Mubtadin Peureulak Raya yang ke-4, dan Memperingati Hari Kebangkitan Gerakan Aneuk Muda Sosial (GAMS) Aceh yang perdana. 

Oleh Adnan

“Hai orang-orang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

JIKA menilik Alquran secara holistik dijumpai sejumlah sumpah Allah Swt (qasam) tentang waktu. Semisal, demi waktu fajar (wal-fajri), demi waktu dhuha (wadh-dhuha), demi malam dan siang (wal-laili, wan-nahari), demi waktu ashar (wal-ashr), demi matahari dan bulan (wasy-syam, wal-qamari), dan lainnya.

Para ulama menyebutkan bahwa ketika Allah Swt bersumpah dengan sesuatu menunjukkan urgenitas. Jadi ketika Allah Swt bersumpah dengan waktu menunjukkan urgensi waktu bagi manusia. Manusia yang tidak dapat mengelola waktu secara efektif dan efisien digolongkan dalam kerugian (QS. Al-Ashr: 1-3). Maka penting bagi setiap manusia baik secara personal (pribadi, keluarga) maupun kolektif (sosial, bangsa) agar kontinu melakukan evaluasi dan introspeksi (muhasabah) setiap saat supaya lebih baik di masa depan.

Profetik berpesan bahwa setiap aktivitas manusia akan diminta pertanggungjawaban di akhirat, sebagaimana sabdanya: “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanyakan lima perkara kepadanya; yakni tentang umurnya kemana ia gunakan, masa mudanya kemana ia habiskan, ilmunya kemana ia manfaatkan, dan hartanya darimana ia peroleh serta kemana ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi).

Pesan profetik ini menunjukkan bahwa setiap manusia akan berhadapan dengan pengadilan akhirat. Sungguh beruntung orang-orang yang lebih banyak kebaikannya daripada keburukannya, dan merugi orang-orang yang lebih banyak keburukannya daripada kebaikannya (QS. Al-Qari’ah: 6-9). Sebab itu, setiap pergantian tahun harus lebih baik amalan seseorang.

Maka tahun 2018 akan segera berakhir dan 2019 berada di depan mata. Penting untuk mengevaluasi belbagai capaian pada tahun ini baik secara personal, berupa perkembangan karier, kemapanan ekonomi, ketahanan keluarga, kekuatan jaringan (networking) dan ibadah, maupun kebangsaan, berupa pertumbuhan ekonomi, pendewasaan politik, perjalanan demokrasi, berdikiri sebagai bangsa yang merdeka dalam belbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, kuantitas dan kualitas layanan pendidikan, dan kekuatan persaudaran (ukhuwah, bhinneka tunggal ika). Output yang dihasilkan dari evaluasi itu diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan etos kerja berbangsa dan bernegara di tahun mendatang. Sehingga setiap perjalanan waktu bangsa ini akan semakin maju dan berkembang.

Tahun politik
Selain itu, 2019 merupakan tahun politik. Di mana aktivitas politik praktis akan meningkat pada tahun ini. Setiap warga bangsa diharapkan mampu menjaga kondusifitas bermasyarakat agar tidak terjebak dalam benturan dan konflik horizontal antar sesama. Para elite politik hendaknya mengedepankan politik beradab dalam setiap aktivitas politik praktis. Sebab, politik hanya instrumen dalam mewujudkan kemaslahatan umat (al-maslahah al-ummah). Tanpa kekuatan politik sulit membuat kebijakan dan terobosan secara struktural dan kultural dalam berbagai aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial budaya, pendidikan, kesehatan, maupun agama dan penegakan syariat Islam.

Maka kedudukan politik bukanlah sebagai tujuan (maqashid), tapi hanya instrumen (medium, wasilah) untuk mewujudkan kemaslahatan. Jika politik dipolitisasi sebagai tujuan semata, maka akan melupakan dan menafikan kemaslahatan umat. Akibatnya, politik menjadi ajang menghalalkan segala cara untuk merebut kursi kekuasaan semata, sehingga muncul para politisi tuna moral dan tanpa adab dalam sistem demokrasi. Sebab, realitas menunjukkan marak bermunculan para politisi tuna moral dan tanpa adab dalam dunia perpolitikan kita. Mereka melakukan belbagai perilaku destruktif dan amoral untuk merebut kursi kekuasaan, semisal menghalalkan politik uang (money politic), janji palsu, ancaman dan agresi baik secara fisik maupun psikis, fitnah dan kampanye hitam (black campaign), menyebarkan berita bohong (hoax, fasiq), pesimistis dan egois, politik identitas, politisasi agama dan simbol-simbol keagamaan.

Sebab itu, untuk mewujudkan cita-cita di atas diperlukan pemahaman holistik tentang adab berpolitik bagi para kontestan yang berkompetisi. Agar wahana politik praktis bukan sekadar area perebutan kekuasaan semata, tapi juga menjadi wahana ibadah bagi caleg, timses, simpatisan, partai pengusung dan pendukung, serta para pemilih. Jika hal ini mampu diwujudkan secara kolektif maka akan melahirkan keadaban politik, bukan politik barbar. Namun jika harapan ini “jauh panggang dari api”, maka politik praktis saban lima tahunan selalu diisi oleh intrik jahat, fitnah dan hoaks, janji palsu, dan hanya menjadikan agama untuk kepentingan politik, bukan menjadikan politik untuk kepentingan agama. Maka 2019 akan menjadi penentu berkualitas atau tidaknya perpolitikan bangsa ini.

Jadi membangun keadaban politik merupakan kerja kolektif. Hanya dari proses politik beradab akan lahir pemimpin beradab. Sebaliknya, proses politik tuna moral dan tanpa adab akan lahir pemimpin biadab. Jangan pernah berharap lahir pemimpin beradab dari proses politik tuna moral dan tanpa adab. Politik merupakan instrumen untuk mewujudkan kemaslahatan umat dalam belbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Tapi, kemaslahatan umat hanya dapat diwujudkan jika lahir pemimpin beradab. Karena pemimpin tuna moral dan tanpa adab hanya akan memikirkan kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan semata. Ia akan menghalalkan segala cara untuk merebut kursi kekuasaan demi memperkaya diri dan golongan. Konstituen hanya dijadikan alat untuk memperoleh kursi kekuasaan.

Demokrasi berkualitas
Di samping itu, 2019 harus menjadi momentum memerangi hoaks dan kampanye hitam. Kampanye hitam (black campaign) merupakan setiap upaya menjatuhkan, merusak, melecehkan, dan mengeluarkan propaganda jahat untuk membunuh reputasi pihak lain. Kampanye hitam dapat merusak atmosfer demokrasi. Maka perilaku ini harus dihindari oleh para kontestan guna mewujudkan proses demokrasi yang berkualitas. Kampanye bukanlah ajang untuk menyebarkan fitnah, ghibah, aib, ujaran kebencian (hate speech). Tapi, kampanye merupakan ajang adu program, ide dan gagasan untuk kemaslahatan umat. Dalam Alquran kampanye hitam digolongkan dalam perilaku kefasikan (QS. Al-Hujurat: 6). Di mana setiap informasi dari mereka harus dicek kebenarannya (tabayyun). Orang fasik tidak boleh diangkat sebagai pemimpin. Munculnya politisi fasik menunjukkan bobroknya kualitas demokrasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa meningkatnya aktivitas politik 2019 akan menimbulkan berbagai kerawanan, berupa konflik horizontal dan benturan antar sesama. Maka untuk mencegah hal itu terjadi, penting meningkatkan dan merawat persaudaraan (ukhuwah) antarsesama warga bangsa. Sebagaimana firman Allah Swt, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah dan perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10). Maka setiap benturan dan konflik horizontal merupakan kewajiban kolektif untuk memperbaiki dan mendamaikan. Bukan sebaliknya, menjadi provokator dalam setiap benturan, kericuhan, dan konflik horizontal.

Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris S2 Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved