Puluhan Alumni Demo STIKes

Puluhan alumni Program Studi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Muhammadiyah Lhokseumawe

Puluhan Alumni Demo STIKes
SERAMBI/ZAKI MUBARAK
ORGANISASI Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi-Eksekutif Wilayah (LMND-EW) Aceh menggelar demo di depan pintu masuk PT PIM, Krueng Geukueh, Aceh Utara, Senin (14/1). Mahasiswa menuntut penambahan kuota pupuk bersubsidi untuk petani di Aceh. 

LHOKSEUMAWE - Puluhan alumni Program Studi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Muhammadiyah Lhokseumawe menggelar demo di kampus setempat, Senin (14/1). Dalam Aksinya itu, mereka memprotes kampus terhadap terlambat proses yudisium dan wisuda.

Padahal, sebelum Juli 2018, mereka sudah menyelesaikan kuliah. Kondisi ini berdampak terhadap mereka sehingga tidak bisa mengikuti Uji Kompetensi Ners Indonesia (UKNI), dan tes CPNS.

Puluhan alumni mulai berkumpul di halaman kampus sekira pukul 10.30 WIB. Selanjutnya, secara bergantian mereka melakukan orasi sampai pukul 11.30 WIB. Selain itu, para alumni juga membawa spanduk yang bertuliskan “Kami wisuda bukan 22 Desember 2018, kami wisuda Juni/Juli 2018”. “Kami mau pertanggungjawaban dari Ketua Baru dan Plt Ketua STIKes atas keterlambatan yudisium/wisuda, gagal UKNI dan peluang-peluang lainnya.

Mereka juga menuliskan di spanduk “berikan ijazah, transkip nilai dan kompensasi atas kelalain kalian.” Selain itu, kalimat protes lain pada spanduk “Jika tidak berani selesaikan masalah kami dan tidak becus ngurusi kampus, mundur saja! Nggak usah bangga jadi pimpinan kampus.”.

Dalam orasinya, mahasiswa meminta difasilitasi dalam musyawarah dengan ketua lama, ketua sekarang, Plt Ketua, dan juga Badan Pembina Harian (BPH). Puluhan alumni juga mendesak kampus untuk mengembalikan 25 persen Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) dari total keseluruhan, karena mahasiswa merasa dirugikan.

“Sebelumnya, kami sudah berupaya menyelesaikan persoalan ini. Bahkan juga berdialog secara baik-baik dengan pimpinan kampus. Tapi, pimpinan kampus sekarang malah menyalahkan pengurus yang lama. Karena persoalan tersebut sudah berlarut-larut, pihaknya sudah menyurati lembaga layanan pendidikan tinggi (LLDikti) Wilayah XIII Aceh,” ungkap Koordinator aksi, Ramadhan kepada Serambi kemarin.

Selain itu, mereka juga sudah menyurati Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, dan Majelis Pendidikan Tinggi dan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Yogyakarta. “Setelah ada teguran dari pihak tersebut, baru Ketua STIKes dan jajarannya membuat rapat dengan kami,” katanya.

Pada kesempatan itu, Ramadhan mendesak supaya pihak kampus untuk kembali menjadwalkan rapat dengan ketua lama, Plt, dan ketua baru supaya persoalan tersebut dapat diselesaikan dalam musyawarah. “Hanya dengan musyawarah, masalah berlarut-larut dapat segera diatasi,” pungkas Koordinator aksi.

Kabag Umum STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe, Irawan Salri MBA kepada Serambi menyebutkan, jika mereka sudah menyelesaikan administrasi hendaknya bisa segera mengambil ijazah. Karena, pihak kampus tidak pernah menahan ijazah alumni. “Untuk soal akreditasi masih baru. Tahun 2017 kita mendapatkan nilai B,” ujar Irawan.

Disebutkan, kampus tidak bisa mengadakan yudisium dan wisuda pada Juni 2018. Hal ini banyak mahasiswa saat itu belum melunasi biaya kuliah, sehingga kampus tidak memiliki cukup dana untuk mengadakannya. Namun, mereka sudah diyudisium pada 27 September 2018, dan wisuda pada 22 Desember 2018.

“Jika mereka ingin uang kembali itu salah minum obat. Ke depan mahasiswa akan selalu berhubungan dengan kampus, karena itu sangat disayangkan jika mereka dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu,” tutup Irawan Salri.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved