Dua Honorer RSUD Meulaboh Jadi Tersangka

Polres Aceh Barat, Kamis (17/1), menetapkan dua honorer yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien

Dua Honorer RSUD Meulaboh Jadi Tersangka
SERAMBI/RIZWAN
DUA honorer RSUD Cut Nyak Dhien, Meulaboh, Aceh Barat ketika menjalani pemeriksaan di Mapolres setempat setelah ditetapkan tersangka dalam kasus kematian bocah di rumah sakit usai disuntik, Kamis (17/1). 

* Kasus Pasien Meninggal Usai Disuntik

MEULABOH - Polres Aceh Barat, Kamis (17/1), menetapkan dua honorer yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien, Meulaboh sebagai tersangka dalam kasus meninggalnya pasien Alfa Reza (11) usai disuntik. Kedua honorer yang merupakan perawat piket di ruang anak pada malam kejadian tersebut yaitu EW (29) dan DA (24). Mereka adalah lulusan D-III Kebidanan dan D-III Keperawatan yang tercacat sebagai warga Meulaboh, Aceh Barat.

EW dan DA ditetapkan sebagai tersangka setelah ditangkap polisi di rumah masing-masing. Hingga sore kemarin, keduanya masih diperiksa sebagai tersangka di Mapolres setempat. “Kasus pasien meninggal usai disuntik sudah kita tingkatkan status dari penyelidikan ke penyidikan. Dua orang sudah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa SIK, didampingi Kasat Reskrim, Iptu M Isral SIK kepada wartawan, di Meulaboh, Kamis (17/1).

Sebelum menetapkan tersangka, menurut Kapolres, pihaknya sudah memeriksa sejumlah pihak terkait seperti perwakilan rumah sakit, keluarga korban, dan saksi ahli. Selain itu, lanjut Kapolres, hasil laboratorium dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh juga sudah ada. Dikatakan, kasus itu turut digelar perkara di Polda Aceh. “Sejauh ini tersangka dua orang. Kasus ini masih terus kita kembangkan. Jadi, tak tertutup kemungkinan jumlah tersangka akan bertambah,” ungkapnya.

Bobby menjelaskan, barang bukti yang disita dalam kasus itu masing-masing tiga alat suntik yang digunakan pada korban dan satu botol obat. Ditambahkan, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 84 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan jo Pasal 359 KUHPidana dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Minta keadilan
Sementara itu, Suriati, ibunda DA kepada wartawan, sore kemarin, meminta adanya keadilan hukum dalam proses hukum yang dialami anaknya. “Anak saya itu korban. Dia hanya membantu yang disuruh orang lain untuk menyuntik pasien. Kami meminta keadilan hukum. Rumah sakit jangan lepas tangan,” kata Suriati.

Ia meminta polisi tidak menjadikan anak pertamanya (DA) sebagai tersangka dalam kasus itu, apalagi yang dikerjakan putrinya merupakan pekerjaan atau tugas di rumah sakit pemerintah. Seharusnya, sambung Suriati, pihak yang lebih bertanggung jawab dalam kasus itu adalah rumah sakit. “Kecuali anak saya buka klinik sendiri. Saya tak terima anak saya dijadikan tersangka dan kami minta polisi kalau mengusut kasus itu harus menjerat semua pihak yang terlibat, jangan pilih-pilih,” kata Suriati yang hari-hari sebagai ibu rumah tangga tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, pasien bedah bernama Alfa Reza (11), bocah asal Desa Pante Ceureumen, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat meninggal pada Sabtu (20/10/2018) sekitar pukul 00.30 WIB setelah beberapa kali disuntik petugas medis di RSUD Cut Nyak Dhien, Meulaboh. Kabar meninggalnya Alfa Reza yang masih duduk di kelas II SMPN Pante Ceureumen itu merebak cepat. Apalagi, ayah pasien bernama Suwardi sempat meluapkan emosi dengan memecahkan kaca ruang rawat anak rumah sakit tersebut.

Selain Alfa Reza, kasus yang sama juga dialami Ajrul Amilin (15). Bocah asal Pasie Teubee, Aceh Jaya juga mengembuskan napas terakhir setelah disuntik oleh tenaga medis di RSUD Cut Nyak Dhien. Namun, keluarga langsung dibawa pulang jenazah Ajrul ke rumah duka setelah sebelumnya ia dirawat pascaoperasi usus buntu di rumah sakit tersebut.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved