Wisata Digital Lewat Warna Warni Dusun Kerinci

DUSUN Kerinci, Gampong Seutui, Kecamatan Baiturrahman, tengah bersolek. Kawasan padat penduduk yang terbilang

Wisata Digital Lewat Warna Warni Dusun Kerinci
SERAMBI/NURUL HAYATI
PEMANDANGAN baru di Dusun Kerinci, Gampong Seutui, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh yang dihiasi mural. Foto direkam Sabtu (19/1). 

DUSUN Kerinci, Gampong Seutui, Kecamatan Baiturrahman, tengah bersolek. Kawasan padat penduduk yang terbilang masih berlokasi di jantung Kota Banda Aceh ini, tampil dalam wajah baru. Semburat cat warna warni menyulap kawasan bantaran kali yang awalnya kumuh, menjadi sumringah. Digadang-gadangkan menjadi desa wisata, program yang mengusung ‘Kotaku (Kota tanpa kumuh)’ini, terlihat artsy dalam sentuhan mural di sana sini.

Menggandeng para mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) dan mahasiswa Unsyiah sebagai muralis, proyek yang dimulai 2018 ini bertujuan mengentaskan permukiman kumuh. Program yang didanai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) tersebut, mendapat sambutan hangat dari warga setempat. Sementara para muralis menorehkah karyanya lewat gambar, penduduk setempat mengecat ulang rumahnya. Pun mendapat donasi, namun sikap proaktif warga membawa angin segar bagi percepatan perubahan.

“Respon warga sangat antusias dan kalau bisa dibantu ekonomi warga setempat, agar bisa menjaga lingkungan lebih indah dan asri,” ujar Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Program Kotaku, Dhany Cahyadi Aji.

Sebuah balai-balai menyambut pengunjung di ujung lorong. Serambi yang menyambangi Dusun Kerinci, Gampong Seutui, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, di rembang petang Sabtu (19/1), mendapati warga setempat tengah berbincang akrab, tentang topik hangat yang telah mengubah wajah lingkungan tempat tinggal mereka. Rumah-rumah berdempetan yang dibelah gang kecil menjadi pemandangan khas kawasan padat penduduk itu.

Di muka balai-balai yang juga difungsikan sebagai pos kamling, deretan buku disajikan kepada mereka yang singgah. Uniknya, buku-buku yang disusun rapi tersebut terbuat dari dinding batako dengan judul yang juga unik. Sejumlah judul unik yang bertengger di ‘rak buku’ itu sebut saja, ‘tanaman otak’, ‘ruang tumbuh’, ‘fisika rasa’, ‘biologi diri’, ‘peta asmara’, dan kawasan bahagia’. Berbagi dinding dengan ‘tong sampah organik, non organik, dan tong sampah masyarakat, lengkap dengan isinya. Semuanya dalam bentuk mural. Sebuah kritik sosial yang berbicara lewat gambar.

Dalam logat Jawa yang kental, Mas Gitong, panggilan akrab salah seorang warga Dusun Kerinci, bahkan menggambar sendiri elang yang memenuhi muka dinding rumahnya. Begitu juga kedua sisi rumah milik Dhany juga dipenuhi mural karya mahasiswa yang mencerminkan keasrian, mulai dari taman baca hingga aneka hewan. Sementara plafon rumahnya dan para tentangga, ditutupi mural dengan gambar burung-burung yang berterbangan berlatar awan dan langit biru.

Menurut Dhany, program tersebut belum berhenti samapai di sini. Ke depan direncanakan bantaran kali akan ditambah dengan fasilitas pendukung berupa payung dan lampu hias, yang membuat kawasan tersebut makin gemerlap. Serta tentu saja menambah koleksi mural untuk spot selfie nan instagenik. Warna warni mural Dusun Kerinci hadir memanjakan mata, sekaligus menegaskan Aceh menuju destinasi wisata digital.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved