Opini

Menyambut Debat Kedua Capres

PADA 17 Februari mendatang, akan berlangsung debat yang kedua calon presiden dan wakil presiden (selanjutnya disebut debat capres)

Menyambut Debat Kedua Capres
Kolase/Tribunnews/Kompas.com
Capres Nomor Urut 01 Joko Widodo dan Capres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto, saat Debat Pilpres pertama di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019). 

Oleh Saifuddin Bantasyam

PADA 17 Februari mendatang, akan berlangsung debat yang kedua calon presiden dan wakil presiden (selanjutnya disebut debat capres). Ada lima tema kali ini, yaitu energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup, dan hanya berlangsung antarcapres saja. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah melakukan sejumlah modifikasi atau perubahan sebagai respons atas kritik publik atas rendahnya kualitas debat pertama.

Biangnya masalah dalam debat pertama adalah pemberian kisi-kisi kepada kedua pasangan calon (paslon). Akibatnya, debat berjalan kaku, dan bahkan disebut seperti Cerdas-Cermat, paslon pun terpaku kepada teks. Durasi debat yang sangat pendek membuat kedua paslon tak mampu tampil eksploratif. Dua moderator juga dianggap gagal membantu debat menjadi lebih menarik.

Setelah evaluasi, KPU memutuskan tak akan memberi kisi-kisi dalam debat kedua ini. KPU juga menentukan sendiri panelis debat tanpa campur tangan kedua paslon. Durasi debat untuk segmen tertentu juga akan ditambah, misalnya menjadi 3-5 menit, bahkan segmen tanya jawab antarcapres mungkin menjadi lima belas menit.Dua moderator baru sudah ditetapkan, meskipun idealnya cukup moderator saja. Perubahan lain adalah posisi duduk tim sukses, yang dalam debat pertama dianggap terlalu berisik dan mengganggu paslon.

Keberhasilan sebuah debat ditentukan oleh banyak faktor. Di satu sisi, KPU misalnya, bertanggung jawab penuh dari sisi teknis debat, yang dimulai dari penentuan jadwal, penetapan panelis dan moderator, penentuan durasi debat, pemilihan tempat, desain ruangan (ruang transit, posisi podium, posisi timses dan undangan, sound system dan lain-lain), sampai kepada koordinasi KPU dengan pihak hotel, petugas keamanan dan stasiun televisi yang menyiarkan langsung acara debat.

Lalu, dan menjadi bagian yang juga tak kalah penting, dari sisi timses kedua paslon. Biasanya, ada yang disebut dengan Tim Persiapan Debat (TPD), dan tentu TDP ini sudah bekerja saat debat pertama dulu. Tetapi kemudian ada beberapa kritik yang diarahkan kepada kedua paslon, dianggap tampil tegang, tidak 100 persen fokus pertanyaan, retorika yang tanggung, tak mampu memaksimalkan waktu, bahasa tubuh kurang optimal, dan closing statement yang hambar. Kritik-kritik tersebut menandakan bahwa TPD tak optimal, padahal ada modal penting yang sudah dimiliki, yaitu bahwa kedua paslon sudah punya pengalaman dalam debat Pilpres 2014.

Performa paslon
Besar kemungkinan, optimalisasi performa paslon kali ini terhambat karena situasi kontestasi yang berbeda dengan Pilpres 2014. Pilpres 2019 ini jauh lebih menegangkan, dan kontestasinya sudah tidak lagi fokus pada isu-isu substantif. Energi kedua paslon dan timsesnya tersedot ke persoalan-persoalan “tahu dan tempe” dan juga keasyikan berbalas pantun. Tiba-tiba, jadwal debat semakin dekat dan dekat, maka meskipun sudah ada kisi-kisi, tak ada sesuatu yang besar yang keluar dari debat pertama itu.

Kuncinya ada pada persiapan mulai dari prediksi pertanyaan para panel dan lawan debat, jawaban dan cara menjawab, menyusun pertanyaan, memprediksi jawaban lawan atas pertanyaan, memilih pakaian, sampai kepada menyusun narasi untuk penutupan. Simulasi merupakan satu kunci penting. Para capres dan cawapres di Amerika Serikat (AS) sebagai contoh, melakukan 10 sampai 12 kali simulasi. George W Bush, misalnya, mengajak Judd Gregg (Senator Partai Republik) berperan sebagai Al Gore pada 2000 dan sebagai John Kerry pada 2004. Dalam dua kali debat 2008 dan 2014, Obama juga melakukan simulasi dengan mengajak tokoh Partai Demokrat untuk bertindak sebagai lawan debatnya. Demikian juga lawan debat Obama, menunjuk politisi senior Partai Republik untuk berdiri pada posisi Obama.

Dalam debat capres RI 2019, publik sedikit sekali mendapatkan informasi tentang ada tidak simulasi oleh capres 01 dan 02, dan kalau ada, berapa kali, serta siapa sosok yang bertindak sebagai “Prabowo-Sandi” dan “Jokowi-Ma’ruf”. Tanggung jawab untuk simulasi ini ada pada TPD itu. TPD ini juga menyiapkan apa yang disebut dengan briefing book untuk paslonnya dan position book (berisi sikap politik lawan terhadap tema debat).

Seperti juga etika yang harus dipegang, dan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang pembicara atau narasumber dalam presentasinya, maka dalam debat juga demikian. Salah satunya adalah never show disdain for the opposition (jangan menghina dan menganggap rendah lawan debat), dan don’t get personal (jangan membawa debat menjadi urusan pribadi) kecuali jika lawan menyerang (sisi pribadi), maka serangan balasan mungkin perlu dipertimbangkan. Bagaimana dalam debat pertama bulan lalu? Publik tentu bisa melihat sendiri tentang dua hal tersebut.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved