Sabtu, 30 Mei 2026

Kupi Beungoh

Rupiah Melemah, Harga Ayam Geprek Masih Aman: Benarkah Kita Bisa Santai?

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika. Setiap kali berita ini muncul, masyarakat biasanya langsung khawatir...

Tayang:
Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/HO
SAFIRATUN NADIA - Safiratun Nadia, Pengurus GEN-A Banda Aceh. 

Oleh:

Safiratun Nadia, Pengurus GEN-A

SERAMBINEWS.COM - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika. Setiap kali berita ini muncul, masyarakat biasanya langsung khawatir: harga barang naik, biaya hidup makin mahal, dan ekonomi terasa semakin berat. Namun di sisi lain, beredar pernyataan dari Presiden kita, Prabowo Subianto “orang desa tidak pakai dolar”. Jadi apakah benar kita bisa santai saja?

Sekilas, kondisi ini memang terasa biasa saja. Coffee shop masih ramai, ‘kopi kalcer’ masi dibeli setiap pagi, dan harga ayam geprek belum berubah drastis. Inilah yang membuat sebagian masyarakat merasa pelemahan rupiah hanyalah urusan pemerintah, bank, atau pebisnis besar. Padahal, dampaknya bisa datang perlahan dan sering kali tidak langsung disadari.

Rupiah yang melemah berarti Indonesia membutuhkan biaya lebih besar untuk membeli barang dari luar negeri (impor). Masalahnya, banyak kebutuhan di Indonesia masih bergantung pada impor, mulai dari bahan bakar, gandum, pakan ternak, hingga bahan baku industri.

Ketika biaya impor naik, pelaku usaha juga akan mengalami kenaikan biaya produksi. Awalnya mungkin penjual ayam geprek masih bertahan karena takut kehilangan pelanggan jika harga dinaikkan. Namun lama-kelamaan, mereka juga harus menyesuaikan harga agar usaha tetap berjalan.

Fenomena “harga belum naik” sering membuat masyarakat terlena. Kita merasa ekonomi baik-baik saja hanya karena dampaknya belum terlihat secara langsung. Padahal, banyak pelaku UMKM sebenarnya sedang menekan keuntungan mereka sendiri agar pelanggan tidak kabur. Artinya, yang menanggung tekanan ekonomi bukan hanya konsumen, tetapi juga penjual kecil.

Baca juga: Kilas Balik 21 Mei 1998: Saat Rupiah Anjlok, Harga Sembako Melonjak, Soeharto Akhirnya Mundur

Selain itu, pelemahan rupiah juga memengaruhi kehidupan anak muda. Biaya bahan bakar, pendidikan luar negeri, langganan aplikasi digital, bahkan tiket konser bisa ikut naik karena berkaitan dengan dolar. Jadi meskipun seporsi ayam geprek masih terasa aman, pengeluaran lain perlahan akan ikut membengkak.

Namun, kondisi ini juga menunjukkan sesuatu yang menarik tentang masyarakat Indonesia: daya tahan dan kemampuan beradaptasi. Banyak usaha kecil tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil. Penjual makanan tetap mencari cara agar harga tetap ramah kantong, sementara masyarakat terus berusaha menyesuaikan kebutuhan dengan pendapatan mereka.

Karena itu, mungkin kita memang tidak perlu panik berlebihan saat rupiah melemah. Tetapi bukan berarti kita bisa sepenuhnya santai. Pelemahan rupiah adalah tanda bahwa kondisi ekonomi global dan nasional sedang menghadapi tekanan.

Hari ini mungkin harga ayam geprek masih sama. Namun bukan berarti ekonomi benar-benar baik-baik saja. Kadang, badai ekonomi datang bukan dengan kejutan besar, tetapi lewat kenaikan kecil yang perlahan mengubah cara hidup masyarakat.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved