Kisah Inspiratif

Kisah Pria Pemecah Batu yang Tuna Netra Biayai 75 Yatim Piatu hingga Kuliah dan Sudah Berkerja

"Saya mulai merawat anak yatim maupun duafa yang punya ayah tetapi enggak pernah diurusin. Saya berani tanggung jawab ke Allah, saya urusin anak ini."

Kisah Pria Pemecah Batu yang Tuna Netra Biayai 75 Yatim Piatu hingga Kuliah dan Sudah Berkerja
KOMPAS.com/ Ryana Aryadita
Kolase foto Sarono, tunanetra yang bekerja sebagai pemecah batu untuk biayai 75 anak yatim, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur. 

Kisah Seorang Pria Pemecah Batu yang Tuna Netra Biaya 75 Yatim Piatu hingga Kuliah dan Sudah Kerja

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Siang itu, matahari bersinar terik. Panasnya terasa menyengat kulit.

Dari ujung Jalan Cipinang Jaya II B, Cipinang Besar Selatan, terlihat seorang pria tengah memecahkan batu menggunakan palu.

Ia hanya mengenakan kaus lengan pendek berwarna biru serta topi caping agar terlindung dari teriknya matahari.

Saat didekati, ia ternyata sedang memecah batu bata berwarna abu-abu dan batu bata merah untuk diubah menjadi pasir.

Namanya, Sarono. Pria itu sehari-hari mencari nafkah sebagai pemecah batu.

Namun, ia bukan pemecah batu biasa. Sebab, sejak 18 tahun lalu, Sarono kehilangan penglihatannya.

Kendati demikian, indra yang berkurang ini tak menyurutkan semangatnya untuk mencari rezeki halal.

"1999 sudah rabun parah. 2001 itu sudah enggak melihat total. Kadang saya kecebur got, tabrak tiang listrik, tetapi ambil hikmah semua nikmat Allah," ucap Sarono.

16 tahun memecah batu

Halaman
1234
Editor: Safriadi Syahbuddin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved