Kupi Beungoh

Mengenal Sosok Habib Abdurrahman Al-Zahir

Belanda didukung oleh persenjataan dan pasukan yang memadai, sedangkan Aceh pada awal lima tahun pertama mengalami kekurangan pasukan dan senjata

Mengenal Sosok Habib Abdurrahman Al-Zahir
FOR SERAMBINEWS.COM
Surat yang dibawa oleh Habib Abdurrahman yang ditujukan kepada Sultan Turki 

Oleh Sayed Murtadha Al-Aydrus MSc*

“Beliau menceritakan bahwa neneknya, Syarifah Maryam, yang merupakan putri dari Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, harus berjualan secara kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan selalu dalam pengawasan Belanda. Melihat kondisi ini, penulis berkeyakinan bahwa pemberian uang tersebut hanya sebuah propaganda Belanda untuk merusak karakternya di mata masyarakat Aceh.”

Habib Abdurrahman Al-Zahir
Habib Abdurrahman Al-Zahir (Wikipedia)

Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur atau di Aceh lebih terkenal dengan sebutan Habib Abdurrahman Al-Zahir, dilahirkan pada tahun 1832 di Tarim, Hadramaut. Sebagaimana tradisi kaum Ba'alawi, mereka mengantarkan anak-anaknya untuk belajar pendidikan agama di Kota Tarim dan juga ke berbagai wilayah lainnya.

Hal ini juga diterapkan oleh orang tua Habib dengan mengantarkan dia ke berbagai pusat pendidikan baik di Yaman, Mesir, dan India. Sehingga tidak mengherankan apabila pemahaman Habib tentang dunia Islam dari berbagai perspektif sangat baik. Beliau juga dibekali dengan ilmu dagang oleh ayahnya dengan mengantarnya berkeliling Eropa. 

Baca: Banjir Terjang Tol Madiun Jawa Timur, Jalan Jadi Kolam, Ini Videonya

Dalam hal agama dan politik, salah satu guru beliau adalah Habib Fadil bin Alwi bin Muhammad Sahil Maula Dawilah. Guru beliau adalah salah satu tokoh ulama masyhur di Turki yang berasal dari Malabar, India. Sayid Fadil bin Alwi Shahil Maula Dawilah merupakan tokoh yang antiterhadap penjajahan Inggris di India yang kemudian dideportasi ke Timur Tengah, karena penentangan terhadap kolonialisme Inggris di India.

Beliau pernah menduduki berbagai jabatan di masa kesultanan Turki Usmani, di antaranya pernah menjadi Amir di Zufar, anggota kabinet dan penasihat Sultan Abdul Hamid II. Ada kemungkinan, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur melakukan pendekatan untuk menjadikan Aceh sebagai Vassal di bawah kesultanan Turki melalui gurunya Sayid Fadil bin Alwi Sahil Maula Dawilah. Tetapi sayang pada saat itu Turki sudah tidak memiliki kekuatan, malah sudah mendapatkan julukan "The Sick Old Man of Europe." Ini berbeda saat jaya-jayanya di bawah Sultan Sulaiman Al-Qanuni.

Selain jasa dan peran di atas, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur juga berjasa dalam melakukan rehab terhadap Masjid Baiturrahman, mempersatukan para Ulee Balang di bawah kekuasaan Sultan Ibrahim Mansur Shah yang sudah terpecah-pecah pada saat itu dan juga mendamaikan perselisihan sultan dengan anaknya dan juru runding sultan untuk menemui Belanda di Riau.

Baca: Kebakaran Hutan Riau Capai 1.485 Hektar Sejak Januari Hingga Maret 2019, Pemadaman Masih Dilakukan

Begitu besar perhatian Habib terhadap Aceh sampai perang Aceh sudah berkecamuk dengan Belanda, beliau masih berusaha masuk kembali berjuang bersama-sama rakyat Aceh. Di satu sisi bisa saja beliau tidak kembali ke Aceh apabila beliau bersifat opportunis, sebagaimana yang disering didengungkan. Beliau justru berjuang bersama rakyat Aceh sampai memutuskan menghentikan perjuangannya dan kembali ke kampung halamannya pada tahun 1878 M. Sikap beliau tersebut tentunya didukung dengan alasan-alasan yang kuat.

Pertama, beberapa Ulee balang membuat konsesus dengan Belanda. Periode ini terjadi pada ekspedisi Belanda yang kedua, dimana terdapat beberapa Ulee balang yang melakukan konsesus dengan Belanda di antaranya adalah Teuku Nek Meuraksa. Dengan konsesus ini, para Ulee Balang mempunyai akses dan mendapatkan tunjangan dari Belanda, dimana hal ini berlangsung sampai tahun 1942 M.

Sebab, inilah yang di kemudian hari menimbulkan friksi tajam antara Ulee Balang yang telah memposisikan diri sebagai perwakilan kolonial Belanda dengan rakyat Aceh. Pada tahun 1878 M, ketika Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur sebagai orang asing menghentikan perlawanannya terhadap Belanda, telah melihat banyak para petinggi Aceh yang tunduk kepada lawan atau disebut juga bertaslim. Sehingga tidak mengherankan apabila tampuk kepemimpinan perlawanan beralih kepada para ulama setelah periode ini, di antaranya Habib Teupin Wan (Sayid Abdurrahman bin Hasan Asseqaf) dan Tengku Chik Di Tiro.

Halaman
123
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved