Citizen Reporter

Pakaian Adat Aceh di Karnaval Jerman

PARADE karnaval rutin diadakan setahun sekali di Kota Braunschweig, Jerman Utara. Tahun ini, acaranya dilaksanakan hari Minggu lalu

Pakaian Adat Aceh  di Karnaval Jerman
IST
AULIA FARSI, warga Aceh yang sedang menetap di Hamburg, melaporkan dari Braunschweig, Jerman 

AULIA FARSI, warga Aceh yang sedang menetap di Hamburg, melaporkan dari Braunschweig, Jerman

PARADE karnaval rutin diadakan setahun sekali di Kota Braunschweig, Jerman Utara. Tahun ini, acaranya dilaksanakan hari Minggu lalu dengan mengusung moto “Tertawa dan menari di mana-

mana”. Itulah cara bagaimana Kota Braunschweig merayakan karnaval terbesar di Jerman Utara.

Seperti tahun sebelumnya, pada karnaval kali ini perwakilan Indonesia di bawah naungan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hamburg turut diundang menjadi peserta parade. Saya bersama seorang teman bernama Fittri ditunjuk menjadi peserta parade dari perwakilan Indonesia dengan mengenakan baju adat tradisional asal Aceh selama parade karnaval berlangsung. Sebagai warga Indonesia yang berasal dari Aceh ini merupakan suatu kesempatan yang langka bagi kami.

Parade mulai dibuka pukul 10.00 pagi. Saat itu para peserta dan pengunjung parade mulai ramai memadati Kota Braunshweig. Peserta yang hadir banyak mengenakan baju karnaval dengan hiasan dan motif warna-warni khas Jerman dan Eropa. Sebelum parade karnaval dimulai saya bersama rombongan dari perwakilan Indonesia lainnya seperti Bapak dan Ibu Konjen RI di Hamburg beserta staf yang hadir sejak pukul 10.30 pagi, diundang oleh ketua panitia dan Wali Kota Braunschweig untuk menyantap minuman dan makanan ringan khas Jerman di aula besar yang telah disediakan. Selain kami, beberapa rombongan tamu undangan khusus lainya juga hadir pada jamuan itu sekitar satu jam itu.

Seusai jamuan, saya dan teman menuju ke salah satu sudut Kota Braunschweig untuk bergabung bersama 5.000 peserta parade karnaval lainnya. Di sana telah disediakan satu mobil besar buat kami yang dihiasi berbagai macam motif unik oleh panitia untuk nantinya kami tumpangi dengan cara berdiri di atas bak mobil sepanjang parade berlangsung. Tanpa menunggu lama kami pun yang telah mengenakan pakaian adat Aceh lengkap bersama atributnya dengan sigap langsung menaiki mobil tersebut sambil menunggu aba-aba dari panita acara tanda dimulainya parade. Sambil menunggu, mata saya menatap kagum sekeliling. Parade karnaval di Kota Braunschweig tahun ini dihadiri ribuan warga dari dalam dan luar Kota Braunschweig juga dari luar Jerman, serta diliput oleh beberapa TV swasta. Para jurnalis pun banyak yang hadir seolah tak mau ketinggalan untuk meliput salah satu momen karnaval yang terkenal di seantereo Jerman ini.

Selain dari perwakilan Indonesia, perwakilan dari negara Turki, Tunisia, Polandia, India, Mesir, Swedia, dan negara lainnya juga ikut hadir untuk mempertontonkan baju khas mereka dengan membaur bersama grup parade Jerman lainnya. Sedikitnya ada 130 mobil karnaval yang telah dihiasi oleh bermacam-macam motif unik yang nantinya ditumpangi oleh peserta parade.

Pukul 12.00, suara terompet terdengar melengking di setiap sudut kota, menandakan dimulainya karnaval. Mobil yang kami tumpangi perlahan maju ke depan dengan iring-iringan musik yang menemani kami sepanjang 6 km rute karnaval yang nantinya berakhir di balai kota yang juga menjadi pusat Kota Braunschweig. Di dalam mobil yang kami tumpangi telah disediakan berbagai cemilan manis seperti cokelat, permen, wafer, biskuit, dan aneka cemilan lainnya yang menjadi salah satu ritual karnaval. Kami boleh memberikan cemilan tersebut kepada pengunjung yang hadir dengan cara melemparkanyan ke arah kerumunan pengunjung. Para pengunjung harus berteriak “hello“ sebagai kata kunci untuk mendapatkan cemilan tersebut. Jadi, tak heran jika teriakan “hello” pun terdengar di mana-mana. Ini adalah ritual karnaval yang unik sekali. Selain memberikan cemilan, kami juga menyapa para pengunjung dengan melambaikan tangan dan memegang bendera Merah Putih berukuran kecil sebagai penanda bahwa kami merupakan perwakilan Indonesia.

Kami mendapat banyak sapaan dari pengunjung karena kekagumannya pada pakaian tradisional khas Aceh yang kami kenakan. Langit mendung dan gerimis yang mulai perlahan turun membasahi Kota Braunschweig bagai tak mampu menghilangkan senyuman di wajah kami karena perasaan yang amat bangga untuk bisa memperkenalkan Indonesia di mata dunia melalui parade ini.

Asyik melemparkan cemilan dan berinteraksi dengan pengunjung, tak terasa sekitar pukul 16.00 mobil kami pun mulai memasuki pusat Kota Braunschweig sebagai pertanda parade karnaval segera berakhir. Pusat Kota Braunschweig pun sangat memukau dengan gaya arsitek bangunan balai kotanya yang klasik dan dikelilingi banyak bangunan tua peninggalan Perang Dunia II yang masih rapi terawat dan menjadikan suasana parade ini semakin indah.

Mobil kami pun tiba di depan balai kota. Terlihat di atas teras balai kota para panitia acara, staf wali kota, dan staf KJRI Hamburg berdiri melambaikan tangan menyapa kami dari sana. Mobil yang kami tumpangi pun berhenti sebentar untuk mempersilakan tamu jurnalis dari Statisiun televisi NDR Jerman masuk ke dalam untuk meliput secara live. Saya pun diwawancara seorang jurnalis tentang bagaimana biasanya karnaval di Indonesia dan tentang pakaian adat Aceh yang kami kenakan. Jurnalis tersebut kagum ketika saya katakan bahwa pakaian yang kami kenakan itu langsung dibawa dari Aceh, Indonesia.

Selesai wawancara, kami turun dari mobil dan dijemput oleh panitia karnaval untuk langsung menuju ke atas teras Gedung Balai Kota Braunschweig. Di sana kami bertemu ketua panitia acara, staf Wali Kota Braunschweig, juga staf dari KJRI Hamburg. Staf panitia dan Wali Kota Braunschweig memuji langsung akan keindahan pakaian adat Aceh yang kami kenakan dan sangat berharap kontingen Indonesia bisa kembali hadir pada acara karnaval tahun depan.

Sebelum pulang kami sempat foto bersama dengan mereka dan kembali dijamu untuk makan sup sayuran hangat khas Jerman Utara. Sekitar pukul 17.40 kami pun pamitan untuk kembali ke Hamburg dengan keadaan perut kenyang dan hati senang. Terima kasih Braunschweig untuk pengalaman yang luar biasa ini.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved