Coblos Ganda Marak di Aceh

Praktik curang dengan melakukan pencoblosan lebih dari satu kali marak terjadi di Aceh, termasuk juga upaya merusak surat

Coblos Ganda  Marak di Aceh
For serambinews.com
Barang bukti berupa surat suara dan cincin dari gantungan kunci yang digunakan petugas Linmas TPS 12, Gampong Blang Pase, Kecamatan Langsa Kota. Foto dari Facebook 

* Ada Dugaan Penyelenggara Terlibat
* Panwaslih Rekomendasi PSU

BANDA ACEH - Praktik curang dengan melakukan pencoblosan lebih dari satu kali marak terjadi di Aceh, termasuk juga upaya merusak surat suara caleg lain. Akibatnya, ada beberapa kabupaten/kota yang direkomendasikan dilakukan pemungutan suara ulang (PSU).

Komisioner Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh, Marini, mengungkapkan, coblos ganda atau lebih dari sekali itu di antaranya terjadi di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 97 Gampong Matang Ulim Kecamatan Baktya, Aceh Utara.

Beberapa saksi dari partai nasional dan lokal diketahui mencoblos hingga 10 surat suara sekaligus. Komisioner Panitia pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh, Marini, menduga ada persengkokolan antara Ketua Panita Pemungutan Suara (PPS) Gampong Matang Ulim dengan para saksi partai.

“Sepertinya ada persengkokolan. Informasi yang kita terima, Ketua PPS yang menginstruksikan kepada KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) untuk membagikan surat suara kepada para saksi partai,” ungkap Marini kepada Serambi, Jumat (19/4).

Saksi partai yang diberikan surat suara berjumlah enam orang, 4 orang dari partai nasional dan 2 dari partai lokal. Masing-masing dari saksi tersebut mencoblos sebanyak 10 surat suara. “Ini pelanggaran besar, masuk pelanggaran pidana dan etik Pemilu,” pungkas Marini.

Sementara di Aceh Besar, tepatnya Gampong Lam Bheu, Kecamatan Darul Imarah, seorang pria yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT), daftar pemilih tambahan (DPTb), dan Daftar Pemilih Khusus (DPK) di TPS 03 diketahui mencoblos 6 surat suara DPRK sekaligus.

Menurut Marini, pria tersebut dipersilahkan masuk oleh Ketua KPPSsetempat saat pengawas TPS sedang melakukan sholat Duhur, sekitar pukul 14.12 WIB. “Ini kota duga juga ada persengkokolan. Seharusnya, warga yang tak masuk DPT, DPTb, dan DPK di TPS itu tidak boleh memilih. Apalagi hal itu dilakukan saat pengawas TPS sedang tidak berada di tempat,” jelas Marini.

Hal yang sama juga terjadi di Banda Aceh, yakni di TPS 08, Gampong Keuramat, Kecamatan Kuta Alam. Di TPS ini, ada pemilih dengan nama yang sama dan membawa formulir C6 mencoblos dua kali. Setelah diteliti, ternyata pemilih yang pertama membawa form C6 palsu. Demikian juga di Lamtemeun Timur. Pemilih yang sama mencoblos dua kali di TPS 6, dimana untuk coblos yang kedua kalinya menggunakan form C6 orang lain yang sudah meninggal dunia.

“Pihak KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) sudah mengaku melakukan kelalaian karena tidak meneliti terlebih dahulu kesesuaian form C6 dengan identitas pemilih,” ucap Marini.

Hal yang sama juga terjadi di Gampong Meunasah Mesjid, Muara Dua, Lhokseumawe. Pelaku membawa C-6 dan memilih di TPS 01. Beberapa jam kemudian, pelaku kembali ke TPS menggunakan form C6 milik orang lain. Pihak KPPS baru mengetahui hal ini setelah pemungutan selesai.

Terhadap temuan indikasi kecurangan tersebut, Panwaslih Aceh merekomendasikan pemungutan suara ulang (PSU) di TPS yang bermasalah. “Komisi Independen Pemilihan (KIP) di sana juga sudah mengetahui, kami tinggal menunggu surat resminya saja, bakal ada PSU di kabupaten/kota itu,” ungkap Marini.

PSU juga direkomendasikan di TPS 12 Gampong Cinta Maju, Gayo Lues, karena ada KPPS yang memberikan lima surat suara kepada pemilih yang membawa form A5 (pindah TPS) dari domisili Medan. Padahal pemilih pindah TPS tersebut seharusnya hanya menerima surat suara, yakni Pilpres. “PSU juga kita rekomendasikan di TPS 38 Gampong Meunasah Cut Lhokseumawe, karena Ketua PPS membagikan surat suara lebih dari satu kali kepada para saksi dan peserta Pemilu,” ungkap Marini.

Disamping itu, pihaknya juga merekomendasikan Pemilihan Suara Lanjutan di TPS 7 dan 8 Lapas Gampong Jalan, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur karena ketua dan anggota KIP Aceh Timur tidak mendistribusikan surat suara DPRK.(yos)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved