Pesan untuk Balapan Liar
Terkadang air mataku mengalir saat aku terbayang kejadian itu. Sesekali aku melamun membayangkan peristiwa tragis tersebut.
Aku tak kuasa menahan emosi yang seakan-akan memaksaku untuk membakarnya.
Aku tak pernah ingin berkhianat pada sahabatku itu. Aku menceritakan apa yang telah aku mimpikan tentangnya. “Riko, Dika berpesan kepada kita agar kita menjauhi balapan liar.” Aku berkata pada salah seorang sahabatku yang amat suka dengan balapan liar.
“Maksudmu?” tanya riko padaku.
“Iya, aku bermimpi Dika berpesan kepadaku agar kita menjauhi balapan liar. Itu adalah perbuatan terkutuk. Dika juga berkata, memang ajal dia telah tiba, tapi dia menyesal karena kematian menghampirinya saat dia sedang melakukan hal bodoh.”
“Maksud hal bodoh itu apa, Bim?”
“Balapan liar. Karena balapan liar itu, dia harus mengakhiri hidupnya di tengah jalan. Tempat yang tidak wajar, bukan?”
Riko terlihat kaget ketika aku menceritakan hal itu padanya. Terlihat dari raut wajahnya, sepertinya dia benar-benar paham akan pesan Dika yang datang melalui mimpiku itu.
“Bima, kamu serius, kan?”
“Serius apa, Rik?”
“Tentang mimpi itu?”
“Ya, mimpi itu sudah beberapa kali menghantui tidurku”
Riko sedikit kurang yakin tentang ceritaku itu. Tapi aku tetap berusaha meyakinkan dia kalau mimpi itu benar-benar datang menghantuiku.
Mimpi itu memang sangat bermakna. Aku merasa walaupun Dika telah tiada, tapi dia tetap bisa menasihati kami untuk kebaikan.
“Cukuplah aku yang menerima ketragisan ini. Kumohon kalian jangan pernah mengulang perbuatan bodoh yang pernah aku lakukan itu. Sadarlah, jangan pernah lagi ikut balapan liar.” Nasihat itu masih terngiang-ngiang di telingaku.
* Fajrul Hayat, siswa SMAN 1 Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara Matangkuli, 16 september 2011