Maryamah dan Kitab Diarinya

Maryamah adalah gadis pendiam. Tak banyak bicara dan suka menyendiri. Diam bagi Maryamah lebih berharga daripada mengeluarkan sebaris kata

Editor: bakri

Sudah seminggu Maryamah melewati malam dengan kelam. Sudah seminggu juga guru bahasa Indonesianya itu tak pernah lagi melayangkan senyum ke arahnya. Dan rasa itu kian menggila menghentak-hentak hati Maryamah.

Hari ini Maryamah masuk kelas seraya membawa kitab diarinya. Menjelang istirahat, Maryamah dipanggil ke kantor sang kepala sekolah. Ketika langkah pertama Maryamah memasuki ruang kepala sekolah, terdengarlah seuntai kalimat.

“Pak Kepala Sekolah, sepertinya saya akan berhenti mengajar di sekolah ini,” ucap sang guru bahasa Indonesia. Kalimat itu langsung membuat Maryamah berdiri tegak di depan guru bahasa Indonesianya.

“Bapak akan meninggalkan kami?”

“Ya, Maryamah. Bapak harus segera kembali ke kampung Bapak, Takengon.”

Mata Maryamah memerah. Ada bulir bening yang hendak terjun ke luar dari kelopak matanya. Akhirnya, bulir bening itu menetes jua dan mengenai ujung sepatu Pak Imza. Pak Imza tak menanyakan mengapa Maryamah harus menangisi kepergiannya.

Setelah berpamitan pada sang kepala sekolah, Pak Imza langsung keluar menuju tempat parkiran. Kini tinggallah Maryamah dengan hati yang teriris-iris. Kekasih dalam hatinya itu telah pergi dan takkan pernah kembali lagi ke sekolahnya.

“Pak Imza,” ucap kepala sekolah. “Sepertinya Bapak tidak bisa meninggalkan sekolah ini sekarang, sebab kami sedang sangat membutuhkan Bapak.”

“Saya minta maaf, Pak, saya memang harus meninggalkan sekolah ini. Saya harus kembali ke kampung saya.”

“Pak, sekali lagi saya ulang, sekolah ini sedang sangat membutuhkan Bapak. Ini tentang hidup dan mati sekolah ini, Pak.”

“Maksud Bapak apa?”

“Bapak tahu Maryamah? Ia siswa yang cerdas di sekolah ini.  Dialah  yang akan mempresentasikan semua keunggulan sekolah ini esok hari pada pertemuan kepala dinas pendidikan seluruh Aceh. Jika Maryamah tak hadir pada acara pertemuan tersebut, sekolah ini selamanya akan berstatus seperti ini, swasta. Dan Bapak tahu apa yang dilakukan Maryamah ketika ia tahu Bapak akan beranjak dari sekolah ini? Ia takkan menghadiri pertemuan tersebut.”

“Jadi, apa hubungannya Maryamah dengan  saya?”

“Pertanyaan yang bagus,” sahut sang kepala sekolah. “Maryamah mencintai Bapak?” ucap Maryamah memotong pembicaraan kepala sekolah.

“Maukah Bapak menerima rasa yang telah lama saya pendam ini? Jika Bapak mau merimanya, sekolah ini akan berubah statusnya menjadi negeri, dan jika Bapak menolaknya, sekolah ini selamanya akan seperti ini.”

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved