Maryamah dan Kitab Diarinya
Maryamah adalah gadis pendiam. Tak banyak bicara dan suka menyendiri. Diam bagi Maryamah lebih berharga daripada mengeluarkan sebaris kata
“Maaf, Maryamah, semua itu tak mungkin Bapak lakukan. Maaf, Bapak tak bisa menerima rasa yang kamu miliki itu.”
Maryamah berlari ke kamarnya dengan membawa segenap hati yang telah menjadi keping-keping. Rasa yang selama ini menghentakkan hatinya ternyata hanya mampu membuat Maryamah tersiksa. Maryamah semakin tersiksa. Hari-hari yang dilaluinya kini kian kelam. Tak ada lagi semangat hidup. Ia telah pergi seiring langkah kaki sang guru bahasa Indonesia yang kembali ke kampung halamannya.
“Malam ini aku akan menjumpai Tuhan. Abadi di sisinya adalah sebuah kenikmatan.”
Maryamah terlelap panjang. Paginya, kala mentari pagi menggelar jubah keemasannya, berita duka tentang kepergian Maryamah pun merebak ke seluruh pesantren Hijjah. Maryamah tengah bersua Tuhan.
* Azmi Labohaji, tentor di Bimbel Alumni, Banda Aceh.