Libya Pasca-Qadafi
BERITA terbunuhnya Muammar Abu Minyar al-Qaddafi atau Moammar Qadafi (ada juga yang menuliskan Gadhafi atau Khadafi) pada 20 Oktober 2011
BERITA terbunuhnya Muammar Abu Minyar al-Qaddafi atau Moammar Qadafi (ada juga yang menuliskan Gadhafi atau Khadafi) pada 20 Oktober 2011 telah tersebar cepat di media massa global. Ia tewas setelah diserang oleh NATO dan pasukan Dewan Transisi Nasional (National Transitional Council/NTC) di Sirte. Anaknya Motassem dan mantan menteri pertahanan di masanya, Abu Bakr Yunis, juga ikut tewas bersamanya.
Dari breaking news Al-Jazeera, diperlihatkan gambar Qadafi yang masih hidup, berpakaian, dan berlumuran darah. Selaksa kemudian gambarnya telah dalam keadaan telanjang dada dan tidak bernyawa, tergeletak di tanah, diimpit kaki-kaki pasukan pemberontak. Terlihat jenazahnya diperlakukan secara tidak pantas, kepalanya didongakkan dan tubuhnya diinjak.
Penggempuran itu terjadi di luar kota Sirte ketika konvoi Qadafi diserang rudal pasukan NATO dan dibantu penyergapan lewat darat oleh pasukan oposisi. Sirte adalah tanah kelahirannya dan basis terakhir kelompok loyalis. Fakta ini juga menunjukkan ia tidak melarikan diri ke Nigeria sebagaimana diberitakan sebelumnya. Sebagai anak dari suku asli Beduin Sahara Libya, Qadafi menunjukkan sikap pantang menyerah.
Skenario AS
Pembunuhan Qadafi, Osama Bin Laden, atau Saddam Hussein sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Kasus pembunuhan tokoh-tokoh pembangkang dominasi Amerika Serikat (AS) hanya akan menambah radikalisme di kalangan loyalisnya dan semakin mengukuhkan streotipe AS sebagai negara ekspansionis ala imperium Romawi dan Ottoman era lalu.
Semakin hari, kebijakan AS tentang dunia luar tidak semakin baik. Kebijakan luar negeri Obama lebih buruk dibandingkan rezim George Bush Junior. Penangkapan Saddam Hussein dalam keadaan hidup oleh pasukan koalisi di masa Bush/Rice dianggap “lebih beradab” dibandingkan pendekatan barbarian Obama/Clinton. Bahkan sebenarnya target bunuh Qadafi oleh Obama telah diserukan sejak bulan Agustus. Sangat bisa berhubungan bahwa skenario “habisi semua” memang berasal dari Gedung Putih. Kehadiran Hillary Clinton ke Tripoli secara tiba-tiba dua hari sebelum Qadafi tewas menjadi “semiotika politik”, bahwa AS telah mengetahui posisinya dan tinggal melakukan proses eksekusi. Pilihan menempatkan pasukan lokal dibandingkan pasukan AS dianggap lebih strategis, terutama sejak kasus pembunuhan Osama yang memunculkan kemarahan massal umat Islam dunia.
Misteri kematian Qadafi juga menarik dicermati. Ia tidak gugur dalam perang terbuka. Dalam sebuah reportase disebutkan Qadafi tertangkap dalam keadaan hidup. Dua kali ia sempat meminta pasukan pemberontak tidak menembaknya (Al Jazeera dan BBC Breaking News 20/11). Tapi sejurus kemudian ia telah tidak bernyawa. Memang dalam gambar tidak terlihat siapa yang menembak pemimpin Arab terlama dalam sejarah modern itu. Pembunuhan ini akan menjadi preseden bagi masa depan perdamaian Libya dan dunia Arab pada umumnya. Seperti disebutkan dalam Konvensi Jenewa 1949, pembunuhan tawanan pasca-penangkapan adalah kejahatan kemanusiaan dan perang. Mereka yang melakukan itu bisa diseret ke Pengadilan Kejahatan Internasional (International Crime Court/ICC).
Kerumitan Baru
Proses rekonsiliasi pasca-Qadafi tidak akan semudah perkiraan di atas kertas. Krisis Libya sebenarnya terkait efek bola salju demokratisasi di Tunisia pada awal Januari-dikenal revolusi melati- yang kemudian merembes ke Mesir, Yaman, Suriah, Oman, dll. Gerakan di Libya tidak serta-merta dapat disamakan dengan gerakan sipil anti-kekerasan Tunisia atau Mesir. Gerakan Libya bukan gerakan demokrasi karena menggunakan kekerasan bersenjata dan semangat civil war termasuk intervensi militer asing dan CIA.
Peperangan yang terjadi sejak Maret bukanlah gerakan khas masyarakat Libya. Konstruksi dinamika politik masyarakat Libya lebih rendah dibandingkan negara-negara Arab di semenanjung Mediterania. Meskipun diakui Qadafi menggunakan cara-cara otoriter dalam menjalankan pemerintahannya, tapi penyelesaian konflik di awal-awal demonstrasi tidak sekejam Hosni Mobarak atau Bashar al-Assad. Secara mayoritas masyarakat Libya lebih merasakan kesejahteraan di bawah rezim Qadafi dibandingkan rezim sebelumnya. Bahkan di sub-Sahara, Libya adalah negara Arab tersejahtera dibandingkan Aljazair, Tunisia, Mesir, atau Maroko.
Libya di bawah Qadafi menjadi negara yang mengembangkan kesejahteraan dengan ideologi sosialisme Arab seperti juga rejim Saddam di Irak (al-Jamahariyyah al-‘Arabiyyah al-Libbiyah al-Si’biyyah al-Istirakiyyah). Qadafi mengaku “menciptakan” sistem negara massa (state of mass), di mana hubungan masyarakat dengan pemimpin layaknya hubungan rakyat dengan kepala sukunya, yang bersifat langsung dan informal daripada status presiden yang birokratis dan formal. Perilakunya yang lebih suka tinggal di tenda dibandingkan di istana menunjukkan ia tak berjarak dengan masyarakat. Itu pula yang menyebabkan jaringan intelejen asing seperti CIA dan Mossad sangat sulit melakukan infiltrasi untuk memfitnahnya dari dalam, karena memang ia sosok yang populis.
Gerakan pemberontakan di Benghazi-awalnya sangat lokal dan bagian rezimis lama-baru menguat setelah PBB mengeluarkan resolusi 1973 dan serangan militer NATO/AS ke Tripoli. Agenda global yang kolonialis bertemu dengan kepentingan pragmatis oposisi menggulingkan pemerintahan. Ini juga menunjukkan bahwa agenda demokratisasi hanya retorika kosong yang belum berbingkai konstitusional dalam membangun Libya baru di bawah NTC. Perang masih mungkin makin membara, karena tokoh-tokoh loyalis masih hidup dan memiliki kekuatan logistik terutama untuk agenda balas dendam dan anarkisme.
Kematian Qadafi malah bisa menjadi simbolisme baru dalam menentang kolonialisme AS. Terlihat, seperti perang di Irak, perang ini juga berada di balik kepentingan penguasaan eksplorasi minyak yang kini telah dibagi antara negara-negara pendukung NTC seperti AS, Inggris, Perancis, Italia, Russia, Amerika Utara, dll. Hasil produksi minyak Libya sebanyak 1,8 juta barel perhari hanya dapat dikalahkan Saudi Arabia. Pelan-pelan dalam waktu masyarakat Libya akan menilai apakah rezim baru di bawah Mustafa Abdul Jalil dan Mahmoud Jibril ini adalah membela kepentingan Libya atau asing.
Hugo Chavez telah menyebutkan Qadafi tewas sebagai martir dalam perlawanannya atas ketidakadilan global. Sangat mungkin citranya akan meluas dalam dalam simpul antihegemoni AS. Kasus ini menunjukkan negara Paman Sam bukan pengajur demokrasi ideal. Sebelum tewas, Qadafi pun telah berpidato di Sidang Umum PBB pada 23 September 2009 tentang watak kolonialisme PPB dan AS dalam mengatur relasi dunia secara tidak adil. Dengan berapi-api selama 95 menit ia juga mengusulkan pembentukan tata nilai global baru dan membubarkan DK PBB.
Kini Qadafi telah menjadi teks-poskolonial baru. Nasib Libya semakin sulit, seperti diungkapkan sekjen PBB, Ban Ki-moon, jika tak lihai melakukan rekonsiliasi dan akan bertuba menjadi negara gagal baru seperti Irak, Pakistan, dan Afganistan.
* Penulis adalah Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.