Selasa, 2 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Pelajaran Tangkulo dari Kebun Pak Yusuf 

Ke mana gas ini mengalir akan menjadi cermin: apakah hilirisasi hanya jargon, atau sungguh-sungguh kebijakan yang berpihak pada kepentingan nasional

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Mulkan Fadhli, Peneliti UIN Ar-Raniry dan Sekjen IA ITB Pengda Aceh 

Oleh : Mulkan Fadhli*)

Indonesia sedang menguji seberapa serius komitmennya pada hilirisasi. 

Bukan di nikel, bukan di bauksit, tapi di gas alam — komoditas yang menentukan harga pupuk, tarif listrik, dan biaya produksi industri nasional. 

Ujiannya: Lapangan Gas Tangkulo di Selat Andaman, 65 kilometer lepas pantai Aceh Utara. 

Cadangan lebih dari dua triliun kaki kubik, produksi 300 juta kaki kubik per hari selama 15 tahun. 

Ke mana gas ini mengalir akan menjadi cermin: apakah hilirisasi hanya jargon, atau sungguh-sungguh kebijakan yang berpihak pada kepentingan nasional.

Beberapa hari lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menulis di sebuah surat kabar bahwa pengorbanan elite adalah syarat kemakmuran bangsa. 

Pesan itu indah. Tapi baru bermakna ketika turun dari mimbar ke meja keputusan. 

Dan salah satu meja keputusan paling menentukan saat ini ada di kementeriannya: ke mana gas Tangkulo mengalir — ke pasar ekspor dengan harga tunggal tertinggi, atau dicampur demi manfaat nasional yang jauh lebih besar.

Di sebuah desa di Bireuen, ada petani bernama Pak Yusuf yang tanpa pernah membaca buku ekonomi sudah lama mengerti persoalan ini. 

Baca juga: Dukung Mualem, Ketua DPRK Lhokseumawe : Gas Andaman Harus Dikelola di KEK Arun

Ketika anaknya bertanya mengapa tidak semua hasil kebun dijual ke pasar Medan yang harganya lebih tinggi, Pak Yusuf menjawab dengan menghitung: durian dijual mentah Rp 30.000 per biji, tapi diolah jadi tempoyak nilainya Rp 80.000 sebotol. 

“Yang penting bukan harga tertinggi tunggal,” katanya. 

“Tapi manfaat total untuk keluarga.” 

Kearifan sederhana itulah yang kini paling dibutuhkan para pengambil keputusan di Jakarta saat menentukan nasib Tangkulo — dan dengan itu, nasib hilirisasi energi Indonesia.

Lima Pilihan, Satu Pertanyaan Nasional

Gas Tangkulo punya lima pilihan: (1) dicairkan jadi LNG dan diekspor — harga tunggal tertinggi; (2) dialirkan melalui pipa ke industri Sumatra Utara dan Jawa; (3) untuk pembangkit listrik Aceh yang masih defisit energi; (4) untuk PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Lhokseumawe; (5) untuk industri baru di KEK Arun — methanol, pupuk majemuk — seperti durian yang diolah jadi tempoyak, nilainya berlipat ganda.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved