Breaking News:

Mengenang Tsunami

Misteri Si Pembawa Kelapa Muda

tiba-tiba ada yang datang membawakan beberapa butir kelapa muda, sambil terus berucap Allah Allah Allah...

Misteri Si Pembawa Kelapa Muda
Mira Maisura
7 tahun lalu …..

26 Desember 2004, masih tergambar jelas suasana pagi itu. Gempa dengan kekuatan yang tidak pernah terbayangkan, hiruk pikuk suara kendaraan di jalan, suara hantaman gelombang tsunami yang datang tiba-tiba dan menerobos masuk ke rumah itu.

Masih terekam jelas ketika semua berubah jadi hitam, ketika  terminum air pekat yang ntah dari mana asalnya, yang tiba-tiba memenuhi seluruh ruangan di rumah itu, sebagian besar daerah itu.

Rumah itu terlihat seperti benteng kokoh, yang bila dimasuki selamatlah kita dari segala macam mara bahaya. Jeruji salah satu jendela rumah itu, di situlah akhirnya saya dan beberapa teman lainnya  menggantungkan harapan. Berdoa semoga air ini akan segera surut, kita akan selamat, dan semua akan kembali seperti sedia kala.

Berharap akan datang bala bantuan, mengeluarkan kita dari kurungan air nan pekat. Ntah berapa jam kami di sana....

Si adik kecil menangis kehausan, tapi tidak ada air bersih di sekitar kami. Ketika ibu cuma bisa menangis, sambil terus berdoa, berharap. Dan air mata beliau tidak dapat dibendung lagi ketika tiba-tiba ada yang datang membawakan beberapa butir kelapa muda, sambil terus berucap
Allah Allah Allah...

Seorang perempuan muda, yang hampir sama sekali tidak bisa dikenali, merintih minta tolong. Terbawa derasnya arus tsunami, ntah dari mana, hingga terdampar bersama kami di Jeulingke.

Mayat seorang bayi ditemukan. Ketika tersadar ada seorang teman yang ntah di mana ia nya saat itu. Ketika mendapat kabar daerah keluarga saya tinggal porak poranda tak bersisa.

Terbayang di kepala saya, seandainya malam itu saya tidak menginap di kost-an teman, seandainya malam itu saya tetap di rumah seperti hari-hari lainnya..seandainya..seandainya..

Sampai akhirnya air mulai surut.

Pulang. semua berfikiran yang sama, pulang. Saya beranikan diri untuk berpisah dari dari teman2 (yang semuanya berjalan ke arah Masjid Raya), dan pulang ke tempat keluarga saya yang katanya tak bersisa itu.

Sepanjang jalan terlihat orang-orang menangis, mencari sanak keluarga mereka yang hilang, melihat satu persatu mayat-mayat yang dibaringkan di jalan, memastikan keluarga atau bukan, namun terus berharap semoga keluarga yang dicari selamat dari bencana.

Alhamdulillah..di jalan pulang saya bertemu dengan abang ipar yang waktu itu juga sedang mencari-cari saya, menerka-nerka di mana kiranya saya waktu itu. Tanpa tanya, tanpa sepatah kata, sepanjang jalan pulang, di dalam hati saya terus berdoa, semoga keluarga saya semuanya selamat.

Alhamdulillah semuanya selamat, alhamdulillah bisa kembali berada di tengah orang-orang tercinta. Alhamdulillah.

Bonn, 22 Desember 2011

Mira Maisura
Penerima Beasiswa Aceh 2010
--------------------------------------
Kenangan dalam bentuk tulisan dapat dikirimkan ke email: kenangtsunami2612@serambinews.com beserta foto diri, keluarga, dan kerabat yang meninggal akibat tsunami. Tak terkecuali korban selamat (survivor) yang kini telah mampu bangkit menata kehidupannya kembali.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved