Kontraktor Bogem Wartawan Depan Kapolsek
Kekerasan terhadap insan pers masih saja terjadi di Aceh, justru pada saat menjelang peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2012 kemarin
Pemukulan itu malah terjadi di depan Kapolsek Banda Alam, Aceh Timur. Tidak terima atas pemukulan tersebut, korban yang merupakan warga Idi Rayeuk, Aceh Timur, pada hari itu juga langsung melaporkan kejadian yang menimpanya ke Polres Aceh Timur.
Basri kepada Serambi, Kamis (9/2), menceritakan bahwa pada hari Selasa siang itu ia mengonfirmasi kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Aceh Timur, Yusuf Adam, tentang pengsapalan jalan lintas Idi-Keude Geurobak, Kecamatan Banda Alam. Kadis menerangkan bahwa jalan tersebut dikerjakan rekanan bernama Sulaiman.
Setelah mengakhiri konfirmasi kepada Kadis PU Aceh Timur, kontraktor yang bernama Sulaiman tiba-tiba menelepon Basri. Ia mengajak Basri bertemu di Keude Idi. Namun, karena saat itu Basri masih ada urusan di Polsek Banda Alam, lalu dia jawab tak bisa bertemu di Keude Idi. Basri juga menerangkan bahwa ia sedang minum kopi dengan temannya di warung yang tak jauh dari Mapolsek Banda Alam.
Satu jam kemudian, Sulaiman mendatangi Basri naik mobil CRV warna silver. Ia ditemani seseorang yang dikenal Basri punya nama julukan Kumis.
“Saat itu Sulaiman dan Kumis memanggil saya dari mobil CRV dan meminta saya naik ke mobil itu. Saya tidak mau. Saya malah masuk lagi ke mapolsek dan melapor ke Kanit Polsek Banda Alam bahwa saya diteror oleh Sulaiman. Waktu itu kanit langsung menyuruh saya masuk ke dalam mapolsek, persisnya ke dalam ruangan kapolsek,” ujarnya.
Masuk ke ruangan itu ternyata tak menjamin Basri aman. Baru beberapa menit dia berlindung di situ, tiba-tiba masuk Kumis dan Sulaiman. Dengan nada tinggi Sulaiman langsung bertanya kepada Basri mengapa ia mengonfirmasi masalah pembangunan jalan tersebut kepada Kadis PU Aceh Timur.
Belum sempat Basri menjawab, tangan Kumis ternyata lebih cepat bergerak. Ia tampar Basri, lalu Sulaiman menarik kerah leher baju korban.
Tindakan tergolong nekat itu langsung dilerai Kapolsek beserta Kanit Reskrim Polsek Banda Alam. “Setelah mereka pukul saya, Sulaiman dan Kumis langsung pergi,” ujar Basri.
Menurut Basri, karena tak ada tanggapan dari pihak polsek, maka sekitar pukul 16.00 WIB hari itu juga Basri melaporkan pemukulan terhadap dirinya ke Polres Aceh Timur. Laporan korban bernomor SPPL/14/II/2012/SPK diterima oleh Kepala Sentral Pelayanan Kepolisian Polres Aceh Timur, Aipda Rasyid Anggara.
Pada hari itu juga korban didampingi anggota Polres Aceh Timur divisum di RSUD Idi, Aceh Timur.
Kapolres Aceh Timur, AKBP Iwan Eka Putra, kepada Serambi via telepon membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan pengaduan Basri, wartawan yang mengaku dipukul seseorang dan seorang lagi menarik kerah bajunya.
Kasus tersebut, menurut Kapolres, tergolong penganiayaan ringan. Begitupun, “Sudah ditangani polres. Terima kasih,” bunyi sms Kapolres Aceh Timur yang saat dikonfirmasi mengaku sedang berada di Mapolda Aceh mengikuti sebuah pertemuan.
Sang kontraktor, Sulaiman, kepada Serambi menyatakan setelah diberi tahu Kadis PU Aceh Timur, ia menelepon Basri dan minta bertemu untuk menjelaskan mengapa ruas jalan itu belum bisa diaspal. “Saya minta bertemu, tapi ia tidak mau bertemu dan mengatakan bahwa ia sedang berada di Mapolsek Banda Alam,” ujar Sulaiman.
Mengapa pihaknya belum mengaspal jalan itu, kata Sulaiman, mestinya Basri selaku wartawan harus tahu apa kendalanya. “Dan yang saya bangun itu adalah jalan gampong saya dan Basri. Jadi, tidak mungkin kan kita tidak mengerjakannya. Tapi dia tak mau tahu soal itu dan itu yang membuat kami kesal kepadanya,” tukas Sulaiman.
Kepada Serambi, Sulaiman menyatakan seringnya turun hujan selama ini di kawasan itu ditambah belum bisa dilalui Jembatan Blang Siguci, itulah kendala utama sehingga ruas jalan tersebut belum diaspal.
Dia tambahkan, setelah Basri tak mau bertemu, lalu Sulaiman dan Kumis pergi ke Mapolsek Banda Alam untuk menjumpai Basri. “Saat kami bertanya kepada Basri, dia berbelit dan seolah-olah tidak mengetahui bahwa itu pekerjaan Sulaiman. Mendengar jawabannya itu, Kumis langsung emosi dan menampar Basri. Saya akui saya juga ada memegang kerah leher baju si Basri. Tapi perlu saya klarifikasi bahwa itu bukan pemukulan, karena kami hanya memperingatkannya. Kalau saya ikut memukul mungkin bukan begitu kejadiannya,” ucap Sulaiman. Kadis PU Aceh Timur, Yusuf Adam, saat dikonfirmasi Serambi, Kamis (9/2), membenarkan bahwa pada Selasa itu, Basri ada meneleponnya untuk menanyakan tentang pengaspalan jalan penghubung Kecamatan Idi Tunong dengan Kecamatan Banda Alam (jalan Keude Geurobak-Idi Tunong). “Benar bahwa saya ada memberikan nomor telepon wartawan tersebut kepada kontraktor. Setelah itu, saya tak tahu lagi. Apalagi tentang insiden pemukulan itu sungguh saya tak tahu kejadiannya,” ujar Kadis PU Aceh Timur. (c42)