Opini
Konsep Eksplorasi dan Pemanfaatan Pekarangan
PEKARANGAN adalah lingkungan kita sehari-hari, jika ditata dengan baik, bakal menjadi taman yang akan memberikan lingkungan kita asri
PEKARANGAN adalah lingkungan kita sehari-hari, jika ditata dengan baik, bakal menjadi taman yang akan memberikan lingkungan kita asri, menarik, nyaman, sehat serta menyenangkan, di mana akan membuat kita betah berlama-lama tinggal di rumah. Dengan menanam tanaman yang berproduktif, taman pekarangan dapat memberikan kesehatan yang memenuhi kepuasan jasmaniah dan rohaniah.
Pemanfaatan pekarangan dengan tanaman produktif seperti tanaman holtikultura (tanaman buah-buahan, sayur-sayuran dan tanaman hias), rempah-rempah, obat-obatan, bumbu-bumbuan dan lainnya akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda, baik dari segi keamanan pangan (aman dari zat pencemar maupun aman dari ketersediaannya), menopang ekonomi keluarga maupun keuntungan dari segi estetika (keindahan lingkungan).
Selain ditanami dengan tanaman kita juga dapat memelihara ternak. Kotoran ternak itu dapat dimanfaatkan untuk dijadikan pupuk. Begitu pula sampah atau daun-daunan bisa dijadikan kompos. Di samping memberikan hasil bersifat kebendaan yang dapat memenuhi kebutuhan jasmaniah, pekarangan juga memberikan hasil yang abstrak, yaitu ketenangan, keindahan dan kedamaian yang dapat memenuhi kebutuhan untuk kesehatan rohaniah.
Menurut seorang penyair, taman adalah tempat di mana dia dapat mengasingkan diri, bersistirahat merenung untuk mendapatkan inspirasi dan kegembiraan. Bagi seorang arsitek taman terbatas pada suatu perancangan dari segi estetika dan fungsional.
Di sini terlihat bahwa pengertian taman itu sangat relatif.
Pengertian modern taman didasarkan kepada: Adanya hubungan erat antara manusia dan aktivitas serta kesenangannya, yang dapat memenuhi kebutuhan jasmaniahnya; Adanya hubungan erat dengan keindahan yang memberikan kesenangan pancaindera dan perasaannya, yang dapat memenuhi kebutuhan rohaniah.
Tempat selingan
Pekarangan dapat merupakan tempat selingan pekerjaan, menyalurkan hobi, dapat menjadi pengikat yang baik bagi anggota keluarga, sehingga kebiasaan ibu-ibu bertandang ketetangga, atau menonton “gosip” di TV, maupun pergi ke mal dapat dikurangi. Demikian pula pengorbanan atau biaya untuk menanami pekarangan jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan hasil yang diberikannya, bahkan hasilnya pun berkualitas tinggi (sehat dan bebas dari zat kimia).
Di pekarangan kita tanam dengan beraneka jenis tanaman yang menghasilkan yang dibutuhkan sehari-hari, seperti tanaman buah-buahan, sayur-sayuran, bunga-bungaan, tanaman obat-obatan, bumbu-bumbuan, rempah-rempah, kelapa dan lain sebagainya. Hasil dari pekarangan banyak variasinya yang dapat menghasilkan sepanjang tahun, dengan hasil yang segar.
Bercocok tanam di pekarangan dan pemeliharaannya dapat dilakukan setiap saat, tentu saja mudah dijangkau, menghemat waktu, ekonomis, efisien dan efektif. Hasilnya dapat dipanen dengan hati-hati, sehingga tidak rusak, pada saat yang diinginkan dengan kualitas yang tinggi. Tidak memerlukan penyimpanan khusus, karena dipetik secukupnya saja.
Suatu taman dikatakan baik dan menarik, jika taman tersebut mengandung nilai keindahan, bermanfaat dan sehat. Banyak orang mengartikan taman hanyalah sebidang tanah dalam kota misalnya taman Monas, Taman Puring, Taman Ria, atau taman sekitar rumah atau hotel, atau bangunan besar lainnya dimana disitu terdapat rumput peking, palm botol, cycas dan tanaman lain yang mahal-mahal.
Menurut seorang ahli hortikultura, taman adalah kebun tempat tanamannya tumbuh, di mana terdapat keselarasan dan kesatuan dari unsur-unsur tanaman hias dan benda-benda lainnya yang terdapat di dalamnya, sehingga memberikan suatu pemandangan. Daerah itu dapat berarti pegunungan, taman rekreasi, kota, kampung, pekarangan dan lainnya. Tentang luas atau sempitnya daerah itu tidak menjadi persoalan.
Kebutuhan sehari-hari
Berbagai keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan pekarangan secara konseptual antara lain: Pertama, anyak yang tidak menyadari akan potensi pekarangan sebagai penghasil (tambahan), seperti bahan pangan atau bahan obat-obatan, bahkan ternak untuk kebutuhan hidup sehari-hari dalam rangka hidup sehat, murah dan mudah;
Kedua, pemanfaatan pekarangan merupakan bagian dari pembangunan hutan kota, guna lingkungan yang nyaman, sehat dan indah, sangat mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (suistanable development), karena pemanfaatan pekarangan merupakan pelestarian ekosistem yang sangat baik;
Ketiga, jika setiap rumah mempunyai pekarangan yang indah serta terpelihara, sekaligus akan meningkatkan pembangunan hutan kota yang berbentuk menyebar dengan struktur yang berstrata akan meningkatkan kualitas lingkungan yang sejuk, sehat dan indah; Keempat, dengan membuat taman pekarangan, ini berarti akan dapat menyalurkan segala kreativitas dan kesenangan ataupun hobi semua anggota keluarga;
Kelima, unsur utama dalam pemanfaatan pekarangan adalah tanaman, apakah itu tanaman hortikultura, obat-obatan, bumbu-bumbuan, rempah-rempah dan lainnya; Keenam, pemanfaatan pekarangan dengan taman pekarangan yang konseptual akan memberikan kenyamanan serta dapat memenuhi kebutuhan jasmaniah dan rohaniah terutama anggota keluarga, maupun siapa saja yang lewat di sekitar rumah kita;
Ketujuh, pemanfaatan pekarangan mengandung nilai pendidikan khususnya dapat mendidik anggota keluarga cinta lingkungan, juga pekarangan dapat menjadi laboratorium hidup, dan; Kedelapan, pemanfaatan pekarangan, dapat membantu dalam menopang ekonomi keluarga.
Tanpa kita disadari bahwa lahan pekarangan bila dikelola secara optimal dan terencana dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi menunjang kebutuhan gizi keluarga disamping sekaligus untuk keindahan (estetika). Lahan pekarangan dapat dikembangkan sebagai apotik hidup dengan menanami tanaman obat keluarga (TOGA) dan gizi hidup dengan menanam berbagai buah-buahan dan sayuran.
Dalam mengelola lahan pekarangan sebaiknya kita menyusun suatu perencanaan penataan lahan pekarangan, sehingga areal lahan yang akan dikelola dapat dimanfaatkan secara optimal dan produktif secara berkelanjutan. Wallahu a’lam bissawab.
* Maryama Solehati, SP, M.Si. adalah Alumnus Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) dan sekerang bekerja di BPPKP Kabupaten Pidie.