Gempa Aceh
Enam Meninggal Akibat Gempa
Gempa berkekuatan 8,5 dan 8,1 skala Richter yang mengguncang Aceh, Rabu (11/4) pukul 15.30 WIB dan pukul 17.30 WIB
Relawan Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI) Banda Aceh, M Nasir Nurdin menyebutkan, selain warga Jeulingke, Banda Aceh yang bernama Yatim Kulam (70) yang meninggal akibat serangan jantung, seperti diberitakan Serambi kemarin, ada dua lagi warga Aceh Besar juga meninggal karena jantungan, dan satu orang di Aceh Barat Daya.
“Keduanya adalah M Yusuf (70), warga Gampong Bayu, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, dan Fauziah, warga Gampong Leu U, kecamatan yang sama. Mereka yang sudah berusia lanjut ini diperkirakan meninggal akibat shock berat, karena kuatnya guncangan gempa,” kata Nasir Nurdin kepada wartawan di Banda Aceh, kemarin.
Adapun warga Abdya yang meninggal akibat serangan jantung pascagempa itu bernama Hatijah Hamid (70).
Sesuai informasi dari relawan RAPI di lapangan, Nasir Nurdin mengatakan selain korban meninggal, sejumlah bangunan di Banda Aceh dan Aceh Besar juga rusak. Seperti rumah milik Arif Munandar di Gampong Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.
“Di Gampong Lam Kuta, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, ada rumah yang belum diketahui pemiliknya juga roboh. Kantor RAPI Aceh di Desa Meunasah Manyang, Kecamatan Jaya Baru, Aceh Besar lantainya masuk ke dalam,” ujar Nasir Nurdin.
Sedangkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) yang beredar lewat pesan BBM di kalangan wartawan, ada dua warga lagi juga dilaporkan meninggal dunia akibat gempa itu. Seorang di antaranya, pria warga Lhokseumawe berumur 39 tahun, tapi belum diketahui identitasnya. “Satu lagi di Kabupaten Aceh Barat atas nama Hatijah Hamid (70). Beliau meninggal juga akibat serangan jantung,” demikian isi pesan BBM itu.
Masih berdasarkan data BPBN yang beredar lewat BBM, seorang anak kritis akibat tertimpa pohon saat gempa di Singkil. Adapun enam orang menderita luka ringan adalah empat warga di Simeulue dan dua orang di Aceh Singkil.
Meninggal jantungan
Dari Aceh Barat Daya (Abdya) dilaporkan, satu orang meninggal akibat serangan jantung karena shock diguncang gempa.
Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Abdya, Rahwadi AR ST, warga yang meninggal itu bernama Hatijah Hamid (70), warga Desa Pisang, Kecamatan Setia. Ia mengembuskan napas terakhir di lokasi pengungsian, kawasan Pegunungan Suak, Abdya, Rabu (11/4) sore, pascagempa susulan.
Kata Rahwadi AR, tidak ada kerusakan parah terhadap bangunan di Abdya akibat gempa tersebut. Ratusan orang sempat mengungsi, namun sudah kembali ke rumah masing-masing pada Kamis (12/4) pagi.
Ruang santri rusak
Di Aceh Barat, delapan ruang santri di Pondok Pesantren Ar Raudhatun Nabawiyah di Desa Masjid Baro, Kecamatan Samatiga, rusak parah akibat gempa, Rabu sore. Akibatnya, pondok pesantren itu kini tidak bisa digunakan, karena sebagian besar bangunannya rusak dan beberapa bagian dindingnya rusak.
“Kerusakan pondok pesantren ini sangat parah, sehingga harus segera dilakukan penanganan,” kata Camat Samatiga, Jufri kepada Serambi, Kamis (12/4) kemarin.
Tak hanya itu, kata Jufri, satu unit jembatan yang menghubungkan Kecamatan Samatiga-Bubon, Kecamatan Samatiga, ikut rusak parah digeber gempa. Akibatnya, arus transportasi di wilayah itu terganggu karena hanya bisa dilintasi oleh kenderaan roda dua dan roda empat berbadan kecil.
Kepala BPBD Aceh Barat, HT Ahmad Dadek SH mengatakan pihaknya terus melakukan pendataan terhadap kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tektonik itu. “Data yang kita terima langsung kita koordinasikan dengan pihak terkait, termasuk BPBA Aceh serta BNPB di Jakarta untuk mendapatkan penanganan secepatnya,” kata Dadek.
Sementara itu, ratusan siswa di Aceh Besar dan Banda Aceh kemarin tidak masuk sekolah karena masih trauma akan gempa. Beberapa sekolah yang muridnya lumayan ramai datang, justru dipulangkan lebih cepat oleh dewan guru, karena trauma akan gempa dan tsunami masih membayang. “Anak saya belum sampai pukul 11.00 WIB sudah diperbolehkan pulang oleh gurunya,” ujar Bukhari, seorang warga Kota Banda Aceh. (sal/edi/nun/az)