Opini
'Glocalisasi' Tasawuf Aceh
WAFATNYA dua di antara ulama-ulama sufi Aceh dalam waktu yang berdekatan, Abu Adnan Bakongan dan Abuya Muhibuddin Wali
WAFATNYA dua di antara ulama-ulama sufi Aceh dalam waktu yang berdekatan, Abu Adnan Bakongan dan Abuya Muhibuddin Wali, bagaimanapun akan berdampak pada perkembangan sufisme di Aceh ke depan. Kedua beliau adalah pewaris silsilah Tarekat Naqsabandi al-Khalidi yang dibawa oleh Abuya Muda Wali pada pertengahan abad yang lalu.
Meskipun bukan hanya beliau berdua, namun sedikit banyak perkembangan tasawuf di Aceh belakangan ini tidak luput dari pengajaran kedua ulama ini. Banyak umat Islam di Aceh yang telah merasakan bagaimana sentuhan spiritual mereka hingga mendapatkan kepuasan batin dalam beribadah.
Sekarang kedua ulama ini sudah berpulang kepada Allah, akan tetapi tasawuf di Aceh akan tetap hidup. Ulama lain yang terdiri dari saudara, teman dan murid keduanya akan tetap pada jalan Islam. Hingga saat ini kita masih mendengar pengajian Abuya Amran Wali, Abuya Jamaluddin Wali, dan ulama sufi lain di pantai Utara Aceh.
Selain itu, ada juga beberapa guru sufi yang masih muda dan tidak terkait dengan garis silsilah Naqsabandi al-Khalidi dari Labuhan Haji, Aceh Selatan. Namun mendapatkan tarekat dari silsilah lain yang mu’tabarah. Mereka diikuti oleh banyak jamaah yang merindukan ketenangan batin dan kekayaan spiritual dalam mengisi kehidupan.
Konteks kekinian
Dalam konteks kehidupan saat ini, tasawuf memang menjadi salah dimensi Islam yang paling diterima oleh banyak pihak. Bukan hanya dari kalangan Islam, banyak dari penganut agama lain dan bahkan yang tidak beragama sekalipun merasa nyaman dalam tasawuf.
Hal ini tidak lain karena tasawuf dapat mengakomodir perubahan dunia yang sangat cepat dan memahami perubahan psikologis pada manusia yang hidup di zamannya. Perubahan psikologis ini perlu respons spiritual, yang dalam Islam dikenal dengan tasawuf. Melalui tasawuf manusia dibawa pada dimensi “kesadaran akan ketiadaan” diri mereka sendiri di tengah kedigdayaan kuasa Tuhan.
Kesadaran ini tidak bisa diperoleh dengan mudah karena manusia memiliki ego, kesombongan, takabur dan lainnya. Melalui tasawuf manusia dilatih dalam “penyerahan total” pada Sang Khaliq memalui riyadhah dan mujahadah. Hasilnya tidak lain adalah energi positif yang membuat menusia semakin bergairah untuk berbuat kebaikan.
Tasawuf di Aceh belakangan ini memang masih berada pada jalan tarekat tradisional yang belum banyak melakukan perubahan dalam mengakomodir perkembangan kehidupan modern yang sangat cepat. Karenanya, tasawuf (dalam bentuk tarekat) kebanyakan diikuti oleh masyarakat agraris di perkampungan dan mahasiswa pesantren.
Dalam pelaksanaannya, tasawuf lebih banyak berupa tawajuh, suluk dan khalwat atau kaluet (menyepi-ed) di lokasi dayah atau masjid. Proses ini sering kali juga terikat dengan waktu, seperti pada bulan Maulid dan Ramadhan. Pun demikian ada banyak pengajian tasawuf yang dilakukan oleh para ulama sufi yang melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain untuk melayani umat dengan memberikan pencerahan sesuai dengan perkembangan zaman.
Ke depan, mau tidak mau, tasawuf di Aceh akan dihadapkan pada tantangan perkebangan teknologi dan tumbuhnya masyarakat urban yang heterogen. Masyarakat urban tidak bisa hidup seperti masyarakat agraris yang statis dan sederhana.
Tantangan global
Tantangan kehidupan yang lebih berat dan visi kehidupan yang lebih global menyebabkan mereka nampak tidak memiliki banyak waktu untuk berlama-lama dalam pekerjaan yang sama. Mereka juga memiliki pola pikir yang mengedepankan logika dan kritis, padahal yang dalam masyarakat pedesaan dapat diterima begitu saja.
Kondisi ini bukanlah hal yang baru di kota-kota besar dunia, bahkan di Indonesia. Namun di Aceh sepertinya tidak terlalu terasa karena kota yang kecil dan tingkat urbanisasi yang rendah.
Beberapa tahun ke depan, saat generasi Aceh yang akrab dengan dunia teknologi dan informatika (IT) sudah hidup stabil, mendapatkan pekerjaan, berumah tangga, maka tasawuf di Aceh membutuhkan metode baru. Suluk, tawajuh dan kaluet yang ada selama ini tidak akan punah, namun untuk ekspansi pada komunitas baru, cara-cara baru harus digunakan.
Termasuk anak muda sekarang. Sebagai manusia mereka juga diciptakan dengan kebutuhan spiritual yang tinggi. Hanya saja, budaya dan lingkungan di sekitarnya menjadikan mereka ter-hijab pada suatu yang sesungguhnya “makanan” yang harus mereka santap. Sementara tasawuf yang berkembang di Aceh masih belum mampu menyajikan makanan batin itu dalam bahasa anak muda.
Padahal, mereka sudah membaca, tahu dan mengerti arti penting spiritualitas melalui buku dan internet. Mereka juga tahu kalau mereka membutuhkannya. Namun ketika berhadapan dengan realitas kehidupan, mereka masih tidak mendapatkan spiritualitas Islam seperti yang mereka ketahui.
Pesan spiritual
Saya jadi ingat dengan glocalisasi yang diperkenalkan Muhammad Riza. Dalam konteks tasawuf kita bisa pahami bahwa di satu sisi gerakan tasawuf adalah gerakan yang semakin hari semakin mengglobal, melakukan ekspansi yang melewati batas teritorial negara. Namun di sisi lain, ia tetap harus membumi, melokal, takzim dan bersahaja.
Dalam konteks inilah, ulama sufi pasca Abu Adnan Bakongan dan Abuya Muhibuddin Waly akan mendapatkan tugas tambahan. Kalau selama ini cukup dengan menyampaikan pesan-pesan spiritual yang diambil langsung dari kitab suci, hadis Nabi, pesan para ulama sufi klasik, ke depan pesan-pesan tersebut harus mulai masuk ranah logika, ranah integrasi dengan psikologi, komunikasi, sosiologi, ekonomi dan bahkan ilmu-ilmu alam.
Mungkinkah ini terjadi? Wallahu’alam.
* Sehat Ihsan Shadiqin, Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh/Mahasiswa Universita degli Studi di Milano-Bicocca, Italia. Email: sehatihsan@yahoo.com

