Anak Indonesia Jadi Penulis Termuda di Dunia
Pada mulanya Apple menolak buku Keily karena berbahasa Mandarin. Keily, atas saran dari gurunya, kemudian menambahkan bahasa Inggris.
Sebelumnya, pada Senin lalu anak Indonesia juga berprestasi di Olimpiade Fisika se-Asia di India dengan meraih dua emas, satu perak, dan dua perunggu.
McBryde mengatakan bahwa penulis kecil seperti Keily bisa menerbitkan buku karena teknologi internet yang semakin maju dan merevolusi cara orang menulis dan membagi informasi.
"Dulu, hanya orang dewasa yang dapat menerbitkan buku karena proses penerbitan yang begitu rumit, namun sekarang dengan bantuan teknologi, anak-anak seperti Keily juga bisa menulis buku," kata dia.
McBryde, kepada Antara, mengatakan bahwa sekolah-sekolah tidak perlu takut untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pendidikan yang diajarkan kepada anak.
Sebelumnya, majalah Time dalam edisi "10 Ideas That Are Changing Your Life" melaporkan bahwa teknologi internet yang memungkinkan setiap orang menyimpan dan mencari informasi telah mengurangi kemampuan analisis dan berpikir kritis.
"Karena orang berharap dapat menemukan informasi suatu fakta di internet, mereka cenderung untuk tidak mengingat fakta tersebut, tetapi justru mengingat di mana atau kata kunci apa yang dapat membantu menemukan fakta itu," tulis Time mengutip penelitian dari Universitas Columbia Amerika Serikat.
Dalam penelitian tersebut, ratusan orang diberi pertanyaan, "Adakah bendara sebuah negara yang hanya berwarna satu?". Sebagian besar partisipan tidak berpikir tentang bendera namun justru tentang komputer dan koneksi internet.