Rabu, 10 Juni 2026

Anak Indonesia Jadi Penulis Termuda di Dunia

Pada mulanya Apple menolak buku Keily karena berbahasa Mandarin. Keily, atas saran dari gurunya, kemudian menambahkan bahasa Inggris.

Tayang:
Editor: Boyozamy

Partisipan dalam penelitian itu kemudian dibagi dalam dua kelompok diminta untuk mengetikkan beberapa kalimat di komputer. Para peneliti mengatakan kepada kelompok pertama bahwa informasi tersebut akan disimpan dan berkata pada grup kedua sebaliknya.


Saat diminta untuk mengingat kembali kalimat yang diketik, grup kedua berhasil memperoleh nilai yang lebih baik. "Hasil pada grup pertama terjadi pada sebagian orang saat ini. Kita tidak lagi merasa perlu untuk menginternalisasikan sebuah informasi karena sudah ada mesin pencari," tulis Time.


Padahal menurut penelitian tersebut, kemampuan analisis dan berpikir kritis hanya bisa dibangun jika ada banyak informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang.


Apa yang terjadi pada Keily menurut McBryde adalah sanggahan terhadap penelitian tersebut. "Keily mendemonstrasikan kemampuan analisis, daya imajinasi, dan pemikiran kritis dalam buku ini, meskipun dia belajar di sekolah yang sangat terintegrasi dengan teknologi," kata dia.


Oleh karena itu, McBryde menyarakankan agar sekolah-sekolah di Indonesia untuk mengajarkan penggunaan teknologi internet pada para siswanya, agar budaya menulis dikalangan anak muda dapat tumbuh berkembang.


"Tidak perlu takut dengan teknologi internet yang dikritik karena dapat menurunkan konsentrasi atau daya pikir kritis. Keily adalah contohnya. Mereka yang menolak teknologi adalah orang tua yang tidak siap dengan kenyataan baru," kata dia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved