Sandal Jepit untuk Mak
Adal nama anak malang itu. Gelisah. Dia berdiri dengan pose kaku seperti patung duka cita
Menjelang malam Adal berlari pelan. Sebelah tangannya memegang kado. Dia mengikuti jalan setapak menuju gubuknya.Ibunya pun bangun dari tidurnya. “Apa itu Adal?” Dia hanya mengapit kedua jari telunjuk dan jari jempol membentuk simbol “love”. Kemudian memberikan kado itu untuk Maknya. Tiba-tiba mata Limah berkaca-kaca, memantulkan bayangan Adal. Perasaan terharu berkecamuk dalam benaknya.
“Mak sayang kamu,” ucapnya sambil membelai lembut rambut Adal. Jari-jari Adal menyeka air matanya. Sesekali mengembang senyum di bibirnya. Limah tak bisa berkata-kata lagi. Memeluk. Mencium kening Adal. Sebentar kemudian Limah membuka kado itu pelan-pelan. Isinya sepasang sandal jepit. Dia makin menangis tersedu.
Adal langsung membantu mengenakan sandal jepit itu. Borok masih membekas di telapak kaki Limah. “Adal. Mak tahu, kamu pasti tak tega melihat telapak kaki Mak terluka lagi,” kata Limah dengan mata berkaca-kaca. Adal cuma menganggukkan kepala.
***
Pernah suatu ketika, mata hari sangat terik. Hembusan panas terasa memanggang jalan beraspal. Limah bertelanjang kaki menyelesuri sudut-sudut kota. Merangkul karung goni di pundaknya. mata yang awas mengintai setiap jalan yang dilewati.
Menghentikan langkah sejenak memungut kaleng, kardus bahkan kertas yang tak lagi terpakai. Lalu kakinya kembali menyapa sudut-sudut kota.
Menjelang magrib seraya memegang kayu penyangga, ia berjalan tertatih-tatih kembali ke gubuknya. Telapak kakinya melepuh seperti terbakar. Ada luka menganga juga.
Lantas Adal bergegas berlari ke arah Limah. Merangkulnya. Tubuh mungil itu menjadi penyangga untuknya. Dia membilas luka Limah dengan air. Memandang muka maknya yang menahan rasa perih.
Keheningan malampun mulai menyergap. Adal tak memejamkan mata. Batinnya merasa terluka malam itu. Ia tak kuasa melihat penderitaan Maknya.
Sejak kejadian itulah, anak laki-laki tersebut tiap kali melihat sandal , ia segera memungutnya.
Di pagi buta tangan kecil pucat itu memungut sandal jepit kumal yang dikiranya tak bertuan. Dia malah dituduh mencuri. Sekarang nasib Adal harus senyap di balik jeruji besi. Melawan dingin dan rasa rindu untuk Mak tercinta.
* Jufrizal lahir di Meureudu, Pidie Jaya. Beberapa karyanya termuat dalam antologi bersama Setelah Damai di Helsinki (Aceh Feature, 2011). Dia juga calon Magister Journalism di Nanchang University.