Opini
Dayah Aceh dalam Konteks Kekinian
DAYAH adalah sebutan lain bagi kata pesantren di provinsi Aceh. Sejarah pendidikan dayah di Aceh telah mulai ada sejak masa silam
DAYAH adalah sebutan lain bagi kata pesantren di provinsi Aceh. Sejarah pendidikan dayah di Aceh telah mulai ada sejak masa silam, pada masa pemerintahan di Aceh masih berbentuk kerajaan. Diduga dayah di Aceh telah muncul sekitar tahun 800 M yang pada masa itu dikenal dayah Cot Kala. Dayah Aceh tertua saat ini ialah Zawiyah Tanoh Abee, Seulimeum, Aceh Besar, yang didirikan pada awal abad ke 17 M. Tak kurang sekitar 4.000 manuskrip masih tersimpan di dayah ini.
Peran dan fungsi dayah Aceh di masa lampau tidak sekedar pusat pembelajaran agama bagi masyarakat, melainkan lebih dari itu. Dayah juga berfungsi sebagai lembaga yang menghasilkan sejumlah alim ulama para pakar (cendekiawan). Oleh karenanya tak heran pada masa Sultan Iskandar Muda dan Ratu Safiatuddin bertahta, posisi ulama dalam kontribusinya di bidang pemerintahan sangatlah penting, yaitu sebagai penasihat bagi para pemimpin yang sedang menjalankan roda pemerintahan di Aceh.
Seiring dengan berkembangnya kemajuan dimana umumnya dayah tradisional mulai diperkaya dengan muatan-muatan pengetahuan umum, maka muncul dua kategori dayah. Pertama disebut dengan dayah modern, yaitu dayah yang telah dilengkapi dengan sekolah umum dengan jenjang pendidikan tertentu (SMP dan SMU). Kedua, dayah yang murni hanya mengisi proses pembelajaran yang berpedoman pada pengajian Alquran, hadist serta beberapa kitab yang ditulis oleh para alim ulama terdahulu.
Dua model dayah yang ada saat ini mengaju pada pola pembelajaran tradisional dan pola pembelajaran modern, dimana pola pembelajaran tradisional mengacu pada pola-pola dan pengetahuan yang telah dianut oleh generasi terdahulu, sedangkan pola pembelajaran modern memodifikasi beberapa pengetahuan umum sebagai suplemen bagi pola pembelajaran tradisional. Adanya dua istilah yang kontras ini, yaitu “tradisional” dan “modern” telah merangsang pemikiran masyarakat secara umum bahwasanya pola pembelajaran modern pada suatu dayah lebih baik bila dibandingkan pola pembelajaran tradisional.
Pembentukan karakter
Robert J Havighurst (1961) seorang pakar pendidikan mendefinisikan tugas perkembangan sebagai suatu hal yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan ke tugas perkembangan selanjutnya, tapi bila gagal akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada individu yang bersangkutan dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas berikutnya.
Pakar lainnya, yaitu Hurlock (1981) yang menyatakan tugas-tugas perkembangan ini sebagai social expectations yang bermakna bahwa setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui oleh berbagai usia sepanjang rentang kehidupan. Pembentukan karakter yang positif diharapkan dapat tercipta di lingkungan dayah melalui pola pendidikan dengan sistem pola asuh pada proses pembelajaran dan sosialisasi serta komunikasi yang terjalin antara Ustadz/Ustadzah dengan Santri/Santriwati dan berbagai elemen lainnya dalam suatu dayah.
Keberadaan dayah dalam konteks masa kini juga perlu dipikirkan bahwa dayah memiliki multifungsi hal-hal positif yang dapat digunakan sebagai alat dalam proses pembangunan masyarakat dan penguatan kapasitas masyarakat. Dayah juga merupakan tempat cikal bakal lahirnya generasi pemimpin di dalam masyarakat. Sebagaimana kita ketahui, bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi maju dan berkembangnya sebuah dayah adalah adanya kekuatan dari unsur kefiguran (ketokohan).
Keberadaan figur pemimpin dayah yang kharismatik sangat mempengaruhi eksistensi dayah, hal ini disebabkan antara lain karena sejak dahulu dayah lekat dengan pola kepemimpinan informal. Pola kepemimpinan ini sangat menekankan unsur kharismatik dari sang pemimpin. Di satu sisi kepemimpinan informal ini membawa dampak positif, terutama dalam hal kepatuhan para murid (santri dan santriwati) dan para Staf Pengajar di dayah, namun disisi lain juga membawa pengaruh yang akan melemahkan eksistensi lembaga.
Dayah yang muncul semata-mata dari faktor ketokohan ini lambat laun akan terdegradasi ketika tampuk kepemimpinan akan berpindah ke pemimpin berikutnya yang tidak memiliki kharismatik yang serupa atau kurang lebih berdekatan dengan pemimpin sebelumnya. Hal ini lumrah terjadi mengingat proses manajemen dayah secara umum memang cenderung bersifat dinasti (baca: diwariskan turun-temurun).
Kondisi yang tidak menguntungkan bagi keberlangsungan dayah dengan pola kepemimpinan informal kharismatik dapat sedikit diminimalisir dengan strategi pengkaderan. Artinya sejak awal pemimpin dayah harus telah memiliki program pengkaderan pemimpin dayah melalui santri (bahkan mungkin santriwati) yang berbakat sebagai pemimpin. Memenuhi kualifikasi pengetahuan agama yang sangat baik dan memiliki jiwa leadership. Tentu saja dengan pola seperti ini tak menutup kemungkinan bahwa ke depannya suatu dayah akan dipimpin oleh seseorang yang tidak memiliki hubungan darah (kekeluargaan) dengan pendiri, pemilik dan pemimpin dayah sebelumnya.
Mereformasi dayah
Permasalahan pendidikan dayah gampong yang masih murni bersifat tradisional juga telah memancing inisiatif para pengelola dayah untuk mereformasi dayah mereka dalam bentuk dayah modern. Adanya kekhawatiran, di mana salah satunya adalah akan ditinggalkan oleh para murid memaksa mereka untuk ikut memasukkan unsur sekolah berbasis pengetahuan umum dalam kurikulum pengajaran dayah. Ironisnya ketika dayah tradisional bermetamarfosa menjadi dayah modern, maka ada konsekuensi lain yang mesti ditanggung oleh pengelola dayah, yaitu tingginya biaya operasional yang otomatis biaya ini akan dibebankan pada orangtua murid atau wali murid.
Beberapa dayah yang saat ini yang berkembang telah memilih model spesifikasi pembelajaran dan spesialisasi ataupun nilai plus lainnya yang ditawarkan. Antara lain ialah; dayah bagi anak yatim dan kurang mampu, dayah yang khusus memiliki konsentrasi pada kemampuan menghafal Alquran, dayah dengan pola wirausaha (bisnis) serta spesifikasi lainnya.
Selain itu di Aceh sendiri saat ini telah berdiri dayah yang berusia cukup lanjut namun dengan kemasan yang menyesuaikan dengan kebutuhan zaman, yang menggabungkan konsep dayah tradisional, modern dan bisnis. Berbagai model pengembangan dayah tersebut tentu saja tidak pernah keluar dari tupoksi utama keberadaan dayah di tengah-tengah masyarakat, maka sangat tepat jika kelembagaan dayah di Aceh perlu terus dipertahankan dan dibina demi kemajuan pengetahuan dan kehidupan generasi Aceh di masa depan.
* Monalisa Aurora, Staf Pengajar Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: nonies2_lisa@yahoo.com