Liputan Idul Fitri 1433 H
Kisah Pilu Anak Yatim dan Ironi Perang di Malam Lebaran
Ironisnya, pada saat yang sama, warga menghabiskan puluhan juta rupiah untuk kegiatan perang-perang di malam lebaran
Laporan Zainal Arifin M Nur | Pidie
SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Kisah pilu anak
yatim menjelang Idul Fitri 1433 H, juga diceritakan oleh Fauziah pemilik toko
pakaian di Pasar Garot. Kemarau panjang yang terjadi sejak hampir enam bulan
lalu, membuat kondisi perekonomian warga terpuruk. Keadaan semakin memburuk
saat beasiswa yang diharapkan para anak yatim untuk membeli baju lebaran, tidak
kunjung cair.
“Seminggu
menjelang lebaran, anak-anak yatim yang datang ke toko saya menangis
meraung-raung meminta dibelikan baju lebaran. Karena kasihan, saya akhirnya
mengutangkan baju baru kepada keluarga yatim yang saya kenal pasti,” ujar
Fauziah, seperti dituturkan kembali oleh Ummi Aisyaturradhiah, pimpinan Balai Pengajian Ummi, Gampong
Aree, Kecamatan Delima.
“Ada
beberapa keluarga yang saya berikan utang, di antaranya dari Desa Keureumbok,
Lhee Meunasah, dan Ceurih. Banyak juga yang tidak dapat saya kabulkan, karena
selain tidak saya kenal juga saya tidak dapat memastikan apakah mereka
benar-benar yatim atau bukan. Tapi saat melihat mereka menangis hati saya
terenyuh juga,” ujarnya.
Ironisnya,
pada saat yang sama, warga di sejumlah desa dalam Kecamatan Delima, Indrajaya,
dan kawasan pedalaman Pidie lainnya, menghabiskan uang hingga puluhan juta
rupiah, untuk kegiatan perang yang melibatkan meriam bambu, bom karbit, dan
petasan, pada malam kedua Idul Fitri 1433 H.
“Informasinya,
dana yang dihabiskan mencapai hingga puluhan juta rupiah. Pengeluaran paling
besar untuk membeli petasan dan kembang api ukuran besar yang harganya mencapai
jutaan rupiah per unit,” ungkap seorang warga Gampong Aree.
Sebelumnya
diberitakan, bea siswa anak yatim sebesar Rp 1,8 juta per tahun untuk 123.354
penerima, sampai pertengahan Agustus lalu belum juga cair. Padahal semestinya,
dana bantuan pendidikan tersebut sudah bisa dimanfaatkan menjelang tahun ajaran
baru, Juli 2012 kemarin.
Kepala
Dinas Pendidikan Aceh, Drs Bakhtiar Ishak, membenarkannya. Bahkan menurutnya,
selain beasiswa anak yatim, bantuan tunjangan kesejehteraan guru sebesar Rp 157
miliar dan dana bantuan operasi sekolah SMA,SMK dan MA sebesar Rp 86,87 miliar juga belum
disalurkan.
Hal
ini lanjutnya, terjadi karena terbentur Permendagri yang baru yang mewajibkan
penerima dana hibah dari APBD harus membuat kesepakatan dan proposal penggunaan
dana. Ia khawatir, kalau pemberian bantuan dana hibah kepada anak yatim itu
harus diwajibkan membuat proposal, maka program penyaluran beasiswa bisa-bisa
tidak tersalurkan seluruhnya.(*)