Yuk! Membuat Sendiri Mainan untuk Anak
Kenapa saya tidak belajar dari "warisan" ini? Saya memutuskan membuat sendiri mainan.
SERAMBINEWS.COM - Ini bukan opini, tulisan akademik, wacana, atau apapun namanya. Jauh dari apa yang biasa saya tulis. Ini tulisan untuk bapak-bapak muda yang -baru- punya anak kecil di rumah. Anak yang baru saja minta mainan.
Puasa yang lalu saya pergi ke toko mainan anak untuk membelikan mainan buat Aqiel, anak saya. Sekarang usianya sudah 1,5 tahun, jadi sudah mulai butuh banyak mainan. Ia melihat sebuah mobil-mobilan yang tidak terlalu besar ukurannya, namun "besar" harganya. Demi anak, -seperti prinsip orang tua yang lain pada umumnya- kalau ada uang harga itu bukan masalah. Saya belikan.
Sesampai di rumah, ia terlihat
sangat senang dengan mobil-mobilan itu. Begitu saya keluarkan dan
membuka bungkusanya, ia mengambil dan meletakkan mobil itu di lantai.
"duk yah.. duk..." katanya. Ia lantas duduk di atas mobil itu. Apa yang
terjadi? keempat buah ban mobil mainan tidak kuat menahan beban 12 kg,
apalagi pernak-pernik di atas mobil. Dalam hitungan detik, mobil itu
langsung innalillah, hancur!
Saya jadi berfikir, kalau begini, bangkrut touke! hahahaha. Sejenak saya menerawang saat saya masih kecil di kampung. Ayah saya membuatkan mainan untuk saya dari peralatan yang sederhana. Ketika saya usia sekolah dasar, saya membuat sendiri mainan. Kenapa saya tidak belajar dari "warisan" ini? Saya memutuskan membuat sendiri mainan.
Langkah pertama adalah membeli peralatan di toko bangunan (gergaji, pahat, palu, paku). Hanya butuh modal Rp. 50-an ribu, sudah lengkap. Harga peralatan ini masih lebih murah dibandingkan dengan sebuah mobilan Aqiel yang baru saja rusak. Langkah berikutnya mencari kayu. Semula saya mau membeli beberapa papan di panglong kayu. Saat sedang melihat-lihat kayu, penjualnya menanyakan mau buat apa. Saya bilang mau buat mainan anak. "Kalau untuk itu ngapain beli kayu ini? ambil saja kayu sisa di belakang." Saya coba lihat kayu "sisa" yang ia maksudkan. Ternyata ia benar, ada banyak kayu sisa yang cukup bagus untuk membuat mainan anak. Jadi saya bisa mendapatkan kayu secara gratis.
Mulailah saya bekerja. Saya menggunakan internet untuk mencari "model" mainan anak yang mungkin saya buat. Ternyata sangat banyak, bahkan lengkap dengan langkah-langkahnya. Bermodal model itu plus pengalaman membuat sendiri mainan masa kecil, saya memulai pekerjaan. Tidak lupa saya mengajak Aqiel duduk di samping, memberikan ia sebuah palu kecil dan kayu-kayu agar ia bisa "sibuk" juga membuat mainan.
Tanpa bermaksud berpromosi dan membanggakan diri, dengan modal yang hanya 50-an ribu (plus beli paku dan ban), saya bisa membuat sepuluhan mainan untuk Aqiel. Kuda-kudaan, yang bisa dinaiki dan anti rusak cepat, mobil-mobilan kecil, sedang dan besar (dia juga bisa naik di atasnya dan punya ban), kapal laut, pesawat, peralatan "kerja", dan beberapa mainan lain. Itupun masih ada sisa kayu dan masih bisa buat yang lain lagi, insyaallah.
Memang, membuat mainan itu butuh waktu. Sebuah mobil-mobilan saja mungkin perlu waktu dua hingga tiga jam. Bandingkan dengan membeli di toko, hanya butuh beberapa menit dan banyak pilihan. Namun itu tidak masalah ketika si anak ada di sisi kita, melihat apa yang kita lakukan sambil mengajaknya bicara dan mengatakan bagaimana membuat sendiri mainan. Apalagi hasil mainan itu sangat disukai anak dan tidak mudah rusak. Mau dibanting, dilempar, dipukul, dinaiki, silahkan saja. Badan anak yang kecil terlalu ringan untuk kayu keras dan kokoh. Lebih jauh, bukankah kita sedang mendidiknya untuk tidak tergantung pada pasar dan hidup kreatif?

