Tafakur
Tawuran
Tawuran antara pelajar atau anggota masyarakat lainnya semakin sering terjadi akhir-akhir ini
Oleh: Jarjani Usman
“Apabila dua orang muslim berkelahi dan masing-masing mempergunakan pedang maka si pembunuh dan yang terbunuh, keduanya masuk neraka” (HR. Imam Bukhari).
Tawuran antara pelajar atau anggota masyarakat lainnya semakin sering terjadi akhir-akhir ini. Hal itu tak jarang dipicu perkara-perkara biasa. Terkadang hanya karena ucapan yang (terdengar oleh pihak tertentu) tak mengenakkan hati, sehingga memantik kemarahan. Dalam keadaan demikian, sebahagian orang tak mampu membendung emosi atau menahan amarahnya, meskipun Islam sangat menganjurkan hal itu. Apalagi bila keadaan marah semakin memuncak, sangat fatal akibatnya.
Tak jarang, ada pihak yang suka atau tak suka harus meregang nyawa dan menyisakan dendam panjang, akibat perkelahian atau tawuran. Ketika ada pihak yang terluka atau bahkan terbunuh, rata-rata disebut korban. Namun, kalau mencermati hadits di atas, terlepas apakah disebut atau menyebut diri korban, siapapun yang sengaja ikut dalam suatu tawuran, akan dimasukkan ke dalam neraka.
Seorang sahabat yang bernama Abu Bakar sempat menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang alasan orang yang terbunuh dimasukkan ke dalam neraka. Rasulullah menjawab bahwa bila ia tidak terbunuh, maka ia akan berusaha membunuh.
Karena itu, sepatutnya siapapun menyempatkan diri memikirkan akibat-akibat buruk bagi dirinya di dunia dan di akhirat, sebelum melibatkan diri dalam tawuran. Agar lebih mudah, berusahalah semaksimal mungkin untuk menghindari diri dari bermusuhan atau memicu permusuhan. Antara lain, menjaga lisan.