Opini
Mengapresiasi Puisi Taufiq Ismail
Manusia adalah makhluk kreatif dan dinamis yang tak kerasan dalam satu keadaan terus-menerus. Setiap hari dan setiap zaman selalu membutuhkan
Manusia adalah makhluk kreatif dan dinamis yang tak kerasan dalam satu keadaan terus-menerus. Setiap hari dan setiap zaman selalu membutuhkan perubahan. Perubahan itu bisa jadi hanya variasi-variasi kecil dalam kehidupan sehari-hari, namun bisa pula perubahan besar-besaran yang berbentuk revolusi sosial. Mungkin benar kata Hirschman (1982), bahwa perubahan sosial terjadi akibat sifat manusia yang pembosan. Taufiq Ismail pada orasi kebudayaan di Kampus Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka di Jakarta baru-baru ini membahasakannya dengan kalimat, “Aku bosan miskin, yang dimiskinkan, aku bosan hidup bodoh, yang dibodoh-bodohi, aku bosan hidup tanpa warna, aku bosan, aku bosan bersama sejuta jiwa pembosan”.
Menikmati sebuah karya sastra akan menimbulkan kesan. Kesan timbul karena penikmat sendiri mengalami sebuah katarsis, dimana penikmat akan dibawa ke dalam dunia yang ada dalam karya sastra itu. Sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Karena itu seorang sastrawan harus hadir dan lahir dari masyarakat sekaligus merupakan anggota masyarakat yang dekat dengan realitas sosial dan promblematika yang dihadapi masyarakat. Salah satu contoh tokoh sastrawan yang lahir dari anggota masyarakat adalah Taufik Ismail.
Bahasa puisi adalah bahasa pilihan, yakni bahasa yang benar-benar diseleksi penentuannya secara ketat oleh penyair (Herman Waluyo, 1987:23). Puisi merupakan karya yang mengolah bahasa dalam bentuk kata-kata yang mempunyai makna dan nilai-nilai tertentu.
Sedangkan menurut Djojosuroto dalam Pengajaran Puisi (2006:11), puisi adalah ekspresi yang kongkret dan bersifat arstistik dari pikiran manusia secara emosional dan berirama. Sebagian orang menganggap puisi hanya permainan kata-kata yang kurang bermanfaat bagi kehidupan, namun apabila ditelaah lebih luas, makna atau tema puisi yang terkandung di dalam bait dan kata, maka dapat memberi manfaat dan nilai hidup, karena puisi merupakan hasil pengalaman orang tentang kehidupan yang telah diekspresikan.
Puisi dapat mengandung isi yang bersifat faktual serta sesuatu yang sifatnya abstrak. Isi tersebut mungkin berupa gagasan atau suasana batin tertentu, tergambar secara langsung, maupun secara tidak langsung atau hanya dipaparkan semata-mata lewat kesadaran subjektif pengarang. Perbedaan isi dan cara pengungkapan menyebabkan timbulnya perbedaan tingkat kesulitan dalam upaya memahaminya. Ada puisi yang dapat dipahami dengan mudah, ada pula yang membutuhkan penafsiran.
Kemultiinterpretatifan puisi merangsang para ahli sastra untuk memberikan kemudahan dalam memahami sebuah puisi. Pendapat Ini dikemukakan oleh Esten Mursal dalam bukunya memahami puisi yaitu, “Sepuluh Petunjuk dalam Memahami Puisi.”
Perhatikanlah judulnya, lihat kata-kata yang dominan, selami makna konotatif. Makna yang lebih benar adalah makna yang sesuai dengan struktur bahasa. Untuk menangkap maksud sebuah puisi, prosakanlah atau parafrasekan puisi tersebut. Usut siapa yang dimaksud kata ganti yang terdapat dalam puisi tersebut. Temukan pertalian antara semua unsur dalam puisi. Mencari makna yang tersembunyi, memperhatikan corak sebuah sajak, harus dapat menunjukkan bait mana, atau lirik mana yang menjadi sumber tafsiran tersebut. Begitulah pendapat Esten Mursal.
Menelusuri jejak puisi karya sastra Taufik Ismail merupakan fenomena tersendiri bagi penulis, dimana pada tahun 1966, muncul puisi-puisi dengan corak khas karya Taufik Ismail. Puisi yang dimaksud adalah jenis puisi “spanduk”, yaitu menitik berat kepada amanatnya dan pesan moral atas teks-teks sosial yang robek. Berawal dari gerakan kaum demonstran yang pada waktu itu dipelopori oleh mahasiswa (KAMI), mereka turun ke jalan-jalan sambil membawa papan nama atau spanduk sehingga lahirlah jenis puisi khas, yaitu puisi angkatan ’66. Puisi ini lahir bersamaan dengan lahirnya angkatan ’66. Salah seorang tokohnya adalah Taufiq Ismail.
Prestasi Taufiq Ismail, di antaranya adalah penyair penerima Anugerah Seni Pemerintah RI (1970) yang menulis Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Dia lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Pendiri majalah Sastra Horison (1966), dan Dewan Kesenian Jakarta (1968). Dalam sebuah catatan biografinya, Taufiq Ismail berobsesi mengantarkan dunia sastra ke sekolah-sekolah menengah, sekolah tingkat atas dan perguruan tinggi. Taufiq Ismail merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963)—sekarang Institut Pertanian Bogor. Selain telah menerima Anugerah Seni Pemerintah RI, dia juga menerima American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57).
Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis. Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan, antara lain: Manifestasi (1963) bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al. Benteng (1966), yang mengantarnya memperoleh Hadiah Seni, Tirani (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1973), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Selain itu, bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad, Taufiq menerjemahkan karya penting Muhammad Iqbal, “Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam.”
Taufiq sudah bercita-cita jadi sastrawan sejak masih SMA di Pekalongan, Jawa Tengah. Kala itu, dia sudah mulai menulis sajak yang dimuat di majalah Mimbar Indonesia dan Kisah. Dia memang dibesarkan di lingkungan keluarga yang suka membaca, sehingga sejak kecil sudah suka membaca. Kegemaran membacanya makin terpuaskan, ketika Taufiq menjadi penjaga perpustakaan Pelajar Islam Indonesia Pekalongan. Sambil menjaga perpustakaan, dia pun leluasa melahap karya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, sampai William Saroyan dan Karl May. Dia tidak hanya membaca buku sastra, tetapi juga sejarah, politik, dan agama. Kesukaan membacanya, tanpa disadari membuatnya menjadi mudah dan suka menulis. Ketertarikannya pada sastra semakin tumbuh tatkala dia bersekolah di SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS. Dia mendapat kesempatan sekolah di situ, berkat beasiswa program pertukaran pelajar American Field Service International Scholarship. Di sana dia mengenal karya Robert Frost, Edgar Allan Poe, Walt Whitman. Dia sangat menyukai novel Hemingway The Old Man and The Sea.
Dengan kekuatan sastra, Taufiq Ismail mampu melahirkan suatu kreasi amanat yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia. Jikalau sebuah puisi Taufik Ismail dibacakan dihayati, maka jiwa akan bergetar, hati terharu. Hati bergejolak tidak lain karena berhadapan dengan suara-suara realitas sosial yang diungkapkan dengan sesuatu yang indah, karena menggunakan bahasa sebagai media pengucapannya. Seperti kata William Worswort dalam Semi bahwa, “Poetry is best word in the best order .” Puisi adalah kata-kata yang tersusun baik dalam susunan yang terbaik. Dari bahasa yang baik dengan pengimajian, ungkapan, perbandingan, dan kehidupan bunyi yang terlihat pada pilihan kata-katanya.
Bagi penulis, puisi memiliki keistimewaan sendiri. Keistimewaan itu tidak semata-mata terletak pada bentuk, tetapi juga pada beberapa segi lain seperti cara pengucapan, pilihan kata, rasa, dan suasana serta pengungkapan keberanian amanat dalam bentuk pemberitaan yang indah. Dalam puisi terdapat unsur-unsur yang membangun puisi itu sendiri, yaitu bentuk fisik dan bentuk mental. Dalam puisi juga harus ditemukan tema atau permasalahan yang diangkat, perasaan sang penulis, dan yang terakhir amanat yang ingin disampaikan. Membaca atau mendegar puisi dengan penghayatan yang sungguh-sungguh dapat memberikan pemahaman puisi secara mendalam, merasakan apa yang ditulis dan mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalam puisi serta menghargai puisi sebagai karya seni dengan keindahan atau kelemahannya.
Memang agak sulit menentukan tema dan amanat dalam sebuah puisi. Karena setiap satu judul puisi makna yang dimaknai berbeda oleh setiap pembaca. Inilah yang mendorong penulis untuk meneliti dari segi tema dan amanat serta bagaimana penerapannya dalam pengajaran apresiasi puisi karya Taufiq Ismail. Untuk itu perlu bagi kita mengerti cara memahami isi puisi, dan salah satunya adalah melalui unsur intrinsik pembentuk puisi. Unsur intrinsik adalah unsur yang secara langsung membangun puisi dari dalam karya itu sendiri. Unsur intrinsik puisi terdiri atas tema, amanat, nada, perasaan, tipografi, enjambemen, akulirik, rima, gaya bahasa, dan citraan. Citraan merupakan suatu gambaran mental atau suatu usaha yang dapat dilihat di dalam pikiran (Laurence, 1973).
Penulis adalah ketua umum pimpinan daerah Nasyiatul Aisyiyah Kota Banda Aceh, penulis buku Sepilihan Puisi Bingkai Peradaban