Kupi Beungoh
Diet Ekstrem Demi Penampilan Lebih Berbahaya daripada Obesitas Ringan
Di tengah maraknya tren “body goals” di media sosial, menjadi kurus seolah bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Banyak orang berlomba-lomba..
Oleh:
Haliana Rahmat Dewi, Mahasiswi Keperawatan USK/Bendahara GEN-A
SERAMBINEWS.COM - Di tengah maraknya tren “body goals” di media sosial, menjadi kurus seolah bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Banyak orang berlomba-lomba menurunkan berat badan dalam waktu singkat—tanpa benar-benar memahami apa yang sedang mereka lakukan terhadap tubuhnya sendiri. Tubuh seakan berubah menjadi proyek yang harus segera “disempurnakan”. Pertanyaannya, apakah semua ini benar-benar tentang kesehatan, atau sekadar tentang memenuhi standar penampilan?
Masalah ini menjadi penting karena masih banyak masyarakat yang menyamakan “kurus” dengan “sehat”. Padahal, menurut World Health Organization, kesehatan tidak hanya dilihat dari kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesejahteraan mental dan sosial. Artinya, tubuh yang terlihat kurus belum tentu benar-benar sehat jika dicapai dengan cara yang salah.
Dengan latar belakang sebagai sarjana keperawatan dan akan melanjutkan profesi Ners, saya melihat fenomena ini bukan hanya tren gaya hidup, tapi sudah menjadi masalah kesehatan yang perlu diperhatikan. Bahkan, dalam banyak kasus, diet ekstrem justru lebih berbahaya dibandingkan obesitas ringan yang masih bisa dikontrol secara bertahap.
Fenomena diet ekstrem sering kali dipicu oleh tekanan sosial dan standar kecantikan yang tidak realistis. Ditambah lagi, data menunjukkan masalah berat badan memang meningkat. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa di Indonesia telah mencapai sekitar 23,4 persen. Angka ini menunjukkan bahwa hampir satu dari empat orang dewasa mengalami obesitas, dan tren ini terus meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Namun, yang menjadi persoalan bukan hanya tingginya angka tersebut, melainkan bagaimana masyarakat meresponsnya. Alih-alih melakukan perubahan gaya hidup secara bertahap dan berkelanjutan, banyak orang justru memilih cara instan melalui diet ekstrem yang menjanjikan hasil cepat. Padahal, pendekatan seperti ini sering kali mengabaikan prinsip dasar kesehatan dan justru berpotensi menimbulkan masalah baru.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan diet ekstrem? Diet ekstrem adalah pola penurunan berat badan yang dilakukan secara drastis dan tidak seimbang, misalnya dengan mengurangi asupan kalori secara berlebihan (makan sangat sedikit), melewatkan waktu makan, hanya mengonsumsi satu jenis makanan (diet mono), menggunakan obat pelangsing tanpa pengawasan, atau melakukan olahraga berlebihan tanpa diimbangi nutrisi yang cukup. Cara-cara ini sering menjanjikan hasil cepat, tetapi mengabaikan kebutuhan dasar tubuh.
Dari sudut pandang keperawatan, diet ekstrem dapat mengganggu keseimbangan tubuh secara signifikan. Tubuh yang kekurangan nutrisi akan mengalami penurunan energi, gangguan daya tahan tubuh, hingga ketidakseimbangan hormon. Dalam kondisi tertentu, hal ini bisa memicu gangguan menstruasi, rambut rontok, bahkan penurunan fungsi organ jika berlangsung lama.
Selain itu, tubuh memiliki mekanisme adaptasi alami. Ketika asupan makanan dibatasi secara ekstrem, metabolisme akan melambat sebagai bentuk perlindungan. Akibatnya, ketika pola makan kembali normal, berat badan justru meningkat lebih cepat. Fenomena ini dikenal sebagai efek yo-yo—dan sering kali membuat seseorang terjebak dalam siklus diet yang tidak sehat.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak psikologisnya. Tidak sedikit orang yang mulai merasa takut makan, merasa bersalah setelah makan, atau terlalu terobsesi dengan bentuk tubuh. Dalam dunia kesehatan, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia. Pada titik ini, persoalannya bukan lagi tentang berat badan, tetapi tentang kesehatan mental yang terganggu.
Jika dibandingkan, obesitas ringan memang tetap memiliki risiko, seperti peningkatan kemungkinan penyakit kronis. Namun, kondisi ini biasanya berkembang secara bertahap dan masih bisa diperbaiki melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat—seperti pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang konsisten. Berbeda dengan diet ekstrem yang langsung “menekan” tubuh dalam waktu singkat.
Sayangnya, masyarakat kita masih cenderung menilai dari apa yang terlihat. Tubuh kurus sering dipuji, sementara tubuh dengan sedikit kelebihan berat badan dianggap tidak ideal. Padahal, kesehatan tidak sesederhana itu. Tubuh yang sehat adalah tubuh yang cukup nutrisi, cukup istirahat, dan cukup bergerak.
Di sinilah pentingnya edukasi. Sebagai calon tenaga kesehatan, saya melihat bahwa masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa perubahan tubuh yang sehat tidak bisa instan. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Tidak ada hasil cepat tanpa konsekuensi, apalagi jika dilakukan secara ekstrem.
Baca juga: 4 Cara Mudah Menurunkan Berat Badan Secara Sehat, Tanpa Diet Ekstrem
Selain itu, solusi yang lebih aman dan realistis sebenarnya sudah jelas. Penurunan berat badan yang sehat dapat dilakukan dengan defisit kalori ringan, yaitu mengurangi asupan kalori secara bertahap tanpa menghilangkan kebutuhan nutrisi utama. Pola makan tetap harus seimbang, mencakup karbohidrat, protein, lemak sehat, serta vitamin dan mineral.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Haliana-Rahmat-Dewi-Bendahara-Umum-GEN-A-BANDA-ACEH.jpg)